“Meneladani pahlawan
dimulai sejak muda: menekuni ilmu, menjaga amanah, dan berkarya bersama untuk
melanjutkan perjuangan
Menjelang Peringatan
Hari Pahlawan 10 November 2026, kisah keberanian generasi terdahulu kembali
mendapat ruang dalam percakapan publik. Tema “Pahlawanku Teladanku,
Melangkah Bersama, Melanjutkan Perjuangan” mengajak masyarakat
menghubungkan penghormatan dengan tindakan. Namun, kekaguman kepada tokoh belum
selalu disertai kesungguhan belajar, kejujuran bekerja, dan kepedulian sosial.
Tulisan
ini bertujuan mengantar serial “Muda, Berilmu, Berani Mengabdi” melalui empat
pokok: pertama, keberanian menerima amanah; kedua, ilmu sebagai dasar tindakan;
ketiga, kebersamaan sebagai kekuatan pengabdian; dan keempat, pembiasaan yang
melahirkan karya. Keempatnya menjadi jembatan antara kisah sejarah dan tanggung
jawab generasi
Pertama, keberanian menerima amanah. Riwayat pengangkatan Usamah bin Zaid sebagai pemimpin pasukan memperlihatkan pentingnya kepercayaan dalam kaderisasi. Rasulullah ﷺ membela kepemimpinannya ketika muncul keberatan terhadap penunjukan tersebut (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 3730). Pelajarannya dapat dibawa ke ruang pendidikan: pemuda perlu memperoleh kesempatan memimpin, disertai persiapan dan pendampingan.
Mereka belajar menyusun rencana, mendengarkan anggota, serta mem-pertanggungjawabkan keputusan. Pendidik pun perlu menilai kesiapan melalui perilaku dan kemampuan yang terbukti. Amanah organisasi, tugas kelas, dan kegiatan masyarakat dapat menjadi tempat latihan. Keberanian tumbuh ketika kesempatan bertemu kesiapan, lalu diuji melalui kesediaan menyelesaikan tanggung jawab bersama secara konsisten dan terbuka terhadap evaluasi.
Kedua, ilmu menjadi dasar tindakan. Ibnu Abbas memperoleh ruang dalam majelis Umar bersama para senior peserta Badar, lalu menjelaskan pemahamannya terhadap Surah an-Nashr (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 4970). Zaid bin Tsabit menerima tugas menghimpun Al-Qur’an setelah sebelumnya menulis wahyu (no. 4986).
Kedua kisah memperlihatkan penghargaan terhadap pemahaman dan ketelitian. Bagi generasi digital, keteladanan itu berarti membaca sumber, memeriksa informasi, dan menjaga kejujuran karya. QS. al-Isra’: 36 mengingatkan manusia agar tidak mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan. Karena itu, pendidikan perlu memberi ruang bertanya, menguji alasan, dan memperbaiki kesalahan. Kecakapan teknologi menjadi lebih bermanfaat ketika dituntun tanggung jawab atas kebenaran informasi.
Ketiga, kebersamaan menguatkan pengabdian. Penugasan Mu’adz bin Jabal ke Yaman menunjukkan bahwa ilmu perlu dijelaskan melalui tahapan yang memperhatikan penerimanya. Pesan Rasulullah ﷺ mencakup pengajaran iman, salat, dan zakat yang diambil dari kalangan berada untuk diberikan kepada kaum miskin (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 1395).
Di sini, pembelajaran bertaut dengan kepedulian sosial. Semangat tersebut dapat menghidupkan kerja bersama antara kampus, keluarga, pesantren, dan masyarakat. Mahasiswa dapat mendampingi literasi, membantu pengelolaan perpustakaan, atau mengembangkan layanan informasi. Setiap kegiatan perlu berangkat dari kebutuhan warga. Kebersamaan memperoleh makna ketika pembagian peran dilakukan secara adil dan hasilnya dirasakan oleh mereka yang dilayani.
Keempat, pembiasaan melahirkan karya. Keteladanan memerlukan proses yang teratur: hadir tepat waktu, membaca dengan sungguh-sungguh, mencatat sumber, menepati janji, dan menyelesaikan pekerjaan. Dalam pembelajaran berbasis capaian atau OBE, kemampuan perlu ditunjukkan melalui hasil yang dapat dinilai.
Nilai kepahlawanan dapat memperkaya proses tersebut dengan pertanyaan: siapa yang memperoleh manfaat dari kemampuan kita? Simbol api, tangan, hati, dan arah ke atas dalam logo Hari Pahlawan dapat dibaca sebagai pengingat untuk merawat semangat, bekerja bersama, menjaga ketulusan, dan menyiapkan masa depan. Pemaknaan itu perlu hadir dalam tindakan terukur, melalui tugas yang selesai, layanan yang membaik, serta karya yang berguna.
Natizah.
Menyongsong Hari Pahlawan, kita dapat memulai dari tanggung jawab yang paling
dekat. Pelajar menekuni ilmu, mahasiswa menjaga integritas, pendidik memberi
teladan, dan pemimpin membuka ruang tumbuh bagi generasi penerus. Serial ini
akan menelusuri kisah para tokoh dengan memperhatikan sumber, kronologi, serta
konteksnya. Keteladanan sejarah Islam kemudian dipertemukan dengan semangat
pengabdian kepada
_____________
*)
Tulisan ini merupakan Pengantar Serial Hari Pahlawan—seiring tema
“Pahlawanku Teladanku, Melangkah Bersama, Melanjutkan Perjuangan”—yang
mengawali rangkaian tulisan “Muda, Berilmu, Berani Mengabdi”, dengan
menghubungkan keteladanan generasi muda dalam sejarah Islam dan semangat
pengabdian kebangsaan.
Penulis:
A. Rusdiana, Guru besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Penulis Buku Inovasi Pendidikan, Saat ini Ketua Tim PKM. “Penguatan Kelompok Bimbingaan Haji Umrah Masjid Agung Untuk Kemandirian Jamaah Haji” Semester ini mengapu mata kuliah; SIM-Pendidikan dan Manajemen Perpustakaan; Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Pangkat Penjelajah Penulis di Kompasiana sejak 22 Januari 2025. Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. DK-Media Elit Kita; Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.
