Oleh Dr. Diden Rosenda M.Ag
(Dosen Jurusan MPI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Opini Publik,-
Mengapa penting bagi Gen Z untuk menjadi tangguh ?
Menurut studi normatif oleh Husin (2015) dan Muthi'ah (2025), perkembangan moral bukan hanya sebagai tambahan pada aspek agama atau hiasan semata, tetapi justru fondasi utama untuk membangun peradaban dan ketahanan mental (resiliensi). Misi utama Nabi Muhammad SAW., fokus pada menyempurnakan akhlak manusia melalui tindakan teladan yang nyata. Oleh karena itu, penyusunan konsep yang komprehensif, berdasarkan bukti, metode pengembangan dan manfaat akhlak mulia secara akademis menjadi kebutuhan penting bagi siswa, pendidik dan pengelola lembaga pendidikan Islam.
Konsep Akhlak Salafush Shalih, Kesabaran dan Resiliensi menurut Perspektif Islam
Konsep akhlak Salafush Shalih mengacu pada standar perilaku dan teladan moral yang ditetapkan oleh tiga generasi terbaik umat Islam, yaitu para sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in. Secara terminologi, akhlak adalah sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa (hai'ah rasikhah) yang secara alami mendorong tindakan tanpa memerlukan pertimbangan yang rumit. Dari perspektif Islam, akhlak Salafush Shalih bukan sekedar ide teoritis; mereka merupakan perpaduan lengkap antara keimanan yang mendalam, berisi hukum agama dan karakter mulia. Generasi awal memandang integritas moral sebagai cerminan kesempurnaan iman seorang muslim, dimana iman yang sejati selalu memancarkan kebaikan dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan hidup.
Kesabaran dalam ajaran Islam memiliki makna yang sangat luas dan dinamis, mencakup pengendalian diri (al-habs) dari mengeluh serta keteguhan dalam menjalankan ketaatan, menghindari dosa dan menerima takdir Allah SWT. Konsep kesabaran ini secara bertahap berubah menjadi ketahanan mental dalam psikologi modern, yaitu kemampuan psikologis seseorang untuk bangkit kembali, bertahan dan beradaptasi secara positif di tengah ujian, tekanan atau penderitaan. Para Salafus Shalih memandang kesabaran bukan sebagai bentuk pasrah (fatalisme), namun sebagai semacam ketahanan aktif dan optimisme spiritual. Ketahanan seorang Muslim menghadapi ujian dibentuk oleh keyakinan yang mendalam, bahwa setiap ujian adalah alat pendidikan Ilahi (tarbiyah ilahiyah) untuk meningkatkan derajat iman.
Landasan normatif mengenai konsep sabar dan resiliensi ini ditegaskan secara eksplisit dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabi SAW. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 155-156
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit kelaparan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Selain itu, Rasulullah SAW., memberikan penegasan mengenai ketahanan mental seorang mukmin dalam sebuah hadits sahih:
"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, sungguh semua urusannya adalah baik baginya. Yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesulitan ia bersabar, maka itu baik baginya." (HR.Muslim no.2999).
Contoh nyata dari konsep ini tercermin dalam perilaku teladan Nabi Muhammad (SAW) dan para sahabatnya, seperti kesabaran Bilal bin Rabah dalam menegakkan tauhid di bawah terik matahari dan kesabaran generasi awal saat menghadapi kemiskinan dan perang tanpa pernah lupa mengingat Tuhan dan bersyukur.
Implementasi Akhlak Salaf Shalih dan Sikap Sabar dalam Membangun Ketahanan Mental Individu
Praktik akhlak Salaf Shalih dan sikap sabar muncul dalam beberapa tingkatan progresif yang secara bertahap membangun ketahanan mental seseorang. Imam Al-Ghazali dan para ulama salaf membagi tingkatan kesabaran menjadi tiga manifestasi utama; sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah (as-sabru 'ala at-ta'ah), sabar dalam menjauhi dosa (as-sabru 'an al-ma'shiyah) dan sabar menghadapi dalam ujian atau takdir yang tidak menyenangkan (as-sabru 'ala al-aqdar al-mu'limah). Tingkatan ketiga ini membutuhkan disiplin diri yang tinggi dan pengendalian emosi, sehingga seseorang bisa mengendalikan keinginannya sambil tetap berpegang teguh pada nilai - nilai etika Islam, bahkan di bawah tekanan yang sangat berat.
Secara praktis dan dalam membentuk karakter modern, ketahanan yang didasarkan pada ajaran salaf diwujudkan dalam kemampuan seseorang menggunakan mekanisme koping yang konstruktif dan adaptif. Orang - orang yang menginternalisasi nilai - nilai salaf tidak mudah putus asa, cemas berlebihan atau depresi ketika menghadapi kegagalan akademik, krisis ekonomi atau tantangan hidup. Mereka menggabungkan usaha maksimal dengan rasa percaya kepada Tuhan (tawakal), sehingga menciptakan dasar psikologis yang stabil. Kekuatan mental ini menghasilkan individu yang rajin, tangguh dan selalu berpikir positif (husnuzhan) tentang segala sesuatu yang telah ditetapkan Tuhan.
Relevansi tingkatan kesabaran ini juga diperkuat oleh hadits Nabi SAW., tentang pentingnya menjaga ketangguhan fisik dan mental :
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah dan pada masing - masing ada kebaikan. Semangatlah terhadap hal - hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu lemah/putuskan asa.” (HR.Muslim no.2664).
Contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, adalah seorang siswa yang terus rajin mengejar ilmu dan menyelesaikan tugas - tugas akademik meskipun menghadapi keterbatasan finansial dan tantangan teknis, tanpa pernah mengeluh atau menyontek.
Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Menginternalisasi Nilai Moral Salafus Shalih, Kesabaran dan Risiliensi
Penginternalisasian moral Salafus Shalih, kesabaran dan ketangguhan dalam diri seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor pendukung internal dan eksternal. Faktor pendukung internal antara lain 1) Pemahaman tauhid yang benar (ketaatan pada akidah), 2) Kedalaman pengetahuan agama, kebiasaan muhasabah (introspeksi diri), 3) Konsistensi dalam menerapkan kebiasaan positif (ta'wid dan mujahadah). Sementara itu, faktor pendukung eksternal meliputi lingkungan sosial yang kondusif (biah shalihah), adanya teladan (uswah hasanah) dari orang tua dan guru serta dukungan dari komunitas teman sebaya yang saling mengingatkan untuk berbuat baik dan bersabar.
Di sisi lain, proses internalisasi ini sering menghadapi berbagai tantangan dan hambatan. Hambatan internal utamanya adalah dominasi keinginan, dorongan untuk tergesa-gesa (al-'ajalah), niat yang lemah dan munculnya penyakit hati seperti riya, ujub, dengki serta cinta dunia yang berlebihan (hubbud dunya). Sedangkan, hambatan eksternalnya meliputi pergaulan buruk yang tidak mendukung pertumbuhan spiritual, paparan terhadap budaya hedonistik dan materialistik di era digital serta kurangnya teladan yang konsisten di lingkungan sekitar.
Contoh nyata dari faktor pendukung, yaitu siswa yang mengikuti kelompok kajian Islam secara rutin memberikan motivasi spiritual, sedangkan contoh dari faktor paparan adalah paparan media sosial yang memicu komunikasi sosial dan perasaan tidak puas dengan hidup sehingga rapuh. “Wallahu’alam.
TM
