Oleh : Fredi Moses Ulemlem SH,. MH.
Opini Publik
Peran utama pemuda, adalah menjadi pilar kolaborasi yang saling mendukung, bukan kompetitor yang saling menjatuhkan atau sekadar mencari validasi demi pengakuan semu. Di era digital dan media sosial seperti sekarang, jebakan untuk mencari validasi seperti jumlah suka, pujian atau status serta kebiasaan membanding-bandingkan pencapaian, kerap memicu budaya persaingan yang tidak sehat. Padahal, sejarah dan masa depan bangsa selalu dibentuk ketika pemuda bersatu dan bekerja sama.
Apa yang Terjadi Saat Pemuda Memilih Bersatu ?
Ketika kita memilih untuk saling mendukung, inilah dampak positifnya :
Tumbuhnya Ruang Aman (Safe Space)
Ketika lingkungan saling mendukung, setiap orang menjadi berani berinovasi dan berkarya tanpa takut dihakimi atau dijatuhkan saat mengalami kegagalan. Kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses belajar.
Akselerasi Dampak yang Lebih Besar
Ide - ide kecil jika digabungkan melalui kolaborasi akan menghasilkan dampak yang jauh lebih besar bagi masyarakat dibandingkan jika dikerjakan sendirian. Bersama, kita bisa mencapai lebih banyak hal.
Mentalitas yang Lebih Sehat
Fokus beralih dari pertanyaan "Siapa yang paling hebat ?" menjadi "Apa yang bisa kita selesaikan bersama ?". Perubahan pola pikir ini sangat penting untuk menjaga kesehatan mental generasi muda.
Menjadi suportif bukan berarti tidak boleh bersaing. Kita tetap boleh berkompetisi, namun mengubahnya menjadi kompetisi yang sehat yang memacu pertumbuhan bersama, bukan yang menghancurkan satu sama lain.
Mengapa Ada yang Justru Saling Menjatuhkan ?
Perilaku mencari validasi berlebihan, hingga menjatuhkan orang lain sebenarnya mencerminkan kedewasaan yang terhambat dan krisis identitas diri. Dalam psikologi sosial, perilaku ini biasanya bukan karena mereka ingin menjadi jahat, melainkan karena beberapa faktor mendasar :
- Insekuritas yang Mendalam
Merasa kurang berharga, sehingga merasa perlu menurunkan orang lain agar diri mereka terlihat lebih baik
- Definisi Sukses yang Keliru
Menganggap hidup adalah perlombaan di mana kemenangan hanya bisa diraih jika orang lain kalah
- Kebutuhan Pengakuan yang Belum Sehat
Belum menemukan cara menghargai diri sendiri, sehingga terus bergantung pada pujian dan pandangan orang lain
Meskipun perilaku menjatuhkan orang lain menjengkelkan dan merugikan, banyak pemuda yang berada di fase ini sebenarnya sedang "tersesat" belum menemukan jati diri yang matang. Seiring berjalannya waktu dan benturan realitas hidup, mereka akan menyadari bahwa hubungan yang sehat dibangun di atas rasa saling mendukung, bukan saling menjatuhkan.
Semoga kita semua menjadi bagian dari generasi yang mengangkat sesama, bukan yang menenggelamkan. Karena pemuda yang bersatu, adalah kekuatan yang tak terpisahkan.
TM.
