Oleh: H. Sugandi Miharja, Ph.D.; Koordinator Aleogama Porto Guidance Counseling
Pernah punya teman yang selalu ingin menjadi orang paling benar dalam setiap percakapan ? Atau seseorang yang begitu yakin menyampaikan pendapat, tetapi sulit menerima masukan ketika pandangannya dipertanyakan ? Dalam pergaulan sehari-hari, perilaku semacam ini bisa memancing penilaian tentang kecerdasan seseorang. Namun, benarkah kebiasaan tersebut menandakan IQ rendah?
Dalam bentangan psikologis, jawabannya tidak sesederhana itu. Intelligence Quotient (IQ) mengukur aspek tertentu dari kemampuan kognitif, seperti penalaran dan pemecahan masalah. Sementara itu, perilaku sosial dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kepribadian, pengalaman hidup, kondisi emosional, hingga lingkungan.
Kebiasaan mendominasi percakapan, bersikap defensif terhadap kritik, atau membagikan informasi tanpa memeriksa kebenarannya, misalnya, dapat berkaitan dengan keterampilan komunikasi, regulasi emosi dan kemampuan berpikir kritis. Namun, perilaku tersebut tidak cukup untuk menyimpulkan tingkat kecerdasan seseorang.
Begitu pula dengan kepercayaan diri yang tinggi. Sikap ini tidak selalu mencerminkan kesombongan, sebagaimana keengganan meminta bantuan tidak otomatis menunjukkan keterbatasan intelektual.
Karena itu, alih - alih terburu-buru memberi label, penting untuk memahami konteks di balik perilaku seseorang. Sebab, kecerdasan bukan satu-satunya penentu kualitas pertemanan. Kemampuan mendengarkan, menghargai perbedaan, memeriksa fakta, dan menerima koreksi juga berperan penting dalam membangun hubungan sosial yang sehat.
TM.