”Kesiapan haji tumbuh melalui pengelolaan kegelisahan, penguatan spiritual dan keberanian meminta pertolongan.”
Oleh : A. Rusdiana
Perjalanan haji mempertemukan kerinduan spiritual dengan kekhawatiran terhadap kesehatan, perjalanan dan pelaksanaan ibadah. LazarusFolkman (1984) menjelaskan, bahwa stres berkaitan dengan penilaian terhadap tuntutan dan kemampuan menghadapinya. Secara spiritual, QS. Ar-Rad [13]: 28 menegaskan ketenteraman hati melalui mengingat Allah.
Rasulullah mengajarkan ikhtiar dan permohonan pertolongan Allah (HR. Muslim, no. 2664). Al-Ghazali dalam Ihya Ulum al-Din menjelaskan, bahwa tawakal tidak mengharuskan ditinggalkannya upaya pencegahan bahaya. Namun, penguasaan manasik belum tentu disertai keterampilan mengelola kecemasan. Secara pribadi, bagaimana KBIHU Masjid Agung memadukan pendampingan psikologis dan spiritual untuk membangun kesiapan mental jemaah ?
Tulisan ini bertujuan menjelaskan pentingnya pendampingan psikoedukatif melalui lima pilar; pengenalan pemahaman, pemahaman kebutuhan pertolongan, pengelolaan pikiran, pembiasaan ketenangan serta penguatan dukungan. Kelimanya menghubungkan pengetahuan dengan tindakan agar jemaah lebih siap menghadapi perjalanan dan mandiri dalam menjalankan ibadah. Untuk lebih jelasnya mari kita elaborasi satu persatu :
Pertama : Mengenali Kecemasan Menjadi Awal Kesiapan; dalam kerangka LazarusFolkman, penilaian terhadap keadaan dan sumber daya untuk menghadapinya membantu menjelaskan pengalaman stres. Oleh karena itu, pembimbing perlu mendengarkan kekhawatiran jemaah sebelum memberikan Arah. Ketakutan terhadap kesehatan memerlukan respon yang berbeda dari keraguan menjalankan manasik.
Ungkapan Saya takut perlu diperjelas menjadi masalah yang dapat diselesaikan, misalnya belum menyelesaikan cara menghubungi petugas. Kekhawatiran kemudian diterjemahkan menjadi kebutuhan latihan. Jemaah berlatih mengenali identitas, menyimpan informasi dan menyampaikan kebutuhan. Dengan demikian, pelatihan berangkat dari pengalaman peserta serta menghasilkan langkah – langkah persiapan yang konkrit dan dapat dilakukan.
Kedua : Memahami Kebutuhan Pertolongan Secara Tepat; Pembimbing perlu mengenali batas kewenangannya. Dukungan, penjelasan dan latihan dapat diberikan dalam pelatihan, sedangkan pemeriksaan kondisi kesehatan memerlukan tenaga yang berwenang. Keluhan yang menetap dan mengganggu aktivitas perlu dilanjutkan melalui konsultasi.
Hadis Muslim riwayat nomor 2664 mengajarkan kesungguhan mengusahakan manfaat, meminta pertolongan Allah dan tidak menyerah pada ketidakberdayaan. Dalam konteks pendampingan, pesan tersebut menjadi landasan etis untuk mendorong ikhtiar mencari bantuan. KBIHU perlu menyediakan komunikasi yang menjaga martabat dan kerahasiaan jamaah. Mengakui kesulitan serta menerima pertolongan merupakan bagian dari tanggung jawab mempersiapkan diri untuk beribadah.
Ketiga : Informasi yang Benar Membantu Menata Pikiran; Informasi simpang siur dapat membuat kemungkinan buruk terasa sebagai kepastian. Pembimbing perlu membantu jemaah membedakan fakta, dugaan dan pesan yang belum diperiksa. Langkah ini merupakan penerapan penilaian situasi secara realistis.
Tiga pertanyaan dapat digunakan; apa yang diketahui, apa yang perlu dikonfirmasi dan tindakan apa yang tersedia ? Pikiran Saya pasti diarahkan menjadi Saya perlu mengenali tempat pertemuan dan kontak pendamping. KBIHU juga perlu mengatur saluran informasi yang jelas. Kebiasaan bertanya dan memeriksa pesan membantu peserta memusatkan perhatian pada kewaspadaan sekaligus menjaga ketenangan anggota rombongan lainnya.
Keempat : Ketenangan Dibangun melalui Pembiasaan; QS. Ar-Rad [13]: 28 memberikan landasan spiritual tentang ketenteraman hati melalui mengingat Allah. Dalam pembinaan, doa dan zikir perlu disertai pembiasaan menghadapi keadaan secara tertib. Pembimbing dapat mengajak jemaah berhenti sejenak, mengambil posisi nyaman dan mengatur napas secara perlahan tanpa memaksakan diri.
Latihan dilakukan sesuai kemampuan peserta serta diulang dalam simulasi antrean atau perubahan jadwal. Tujuannya agar jemaah memiliki langkah penenangan yang telah diketahui sebelum menghadapi tekanan perjalanan. Pembimbing juga perlu menunjukkan ketenangan dalam berbicara dan memberikan arahan. Melalui beragam dan keteladanan, nasihat dapat diperoleh dalam bentuk praktis dalam perilaku sehari-hari.
Kelima : Dukungan Terencana Menguatkan Kemandirian; Al-Ghazali menjelaskan bahwa tawakal tidak mensyaratkan ditinggalkannya upaya mencegah bahaya. Pemahaman ini relevan sebagai landasan menyiapkan pertolongan. Keluarga, teman satu regu, pembimbing dan petugas perlu memiliki peran yang memahami jemaah. Peserta berlatih menunjukkan identitas, menjelaskan kebutuhan, menghubungi pendamping serta mengikuti Arah.
Setiap jam kemudian menyusun rencana pribadi berisi sumber kekhawatiran, langkah penenangan dan kontak bantuan. Salinan tertulis disediakan bagi kesulitan menggunakan telepon. Kemandirian terlihat ketika peserta mengetahui kemampuan diri, mengambil tindakan yang sesuai dan menggunakan dukungan secara tepat ketika menghadapi kesulitan selama perjalanan.
Singkat kata, kesiapan mental perlu menjadi bagian terencana dalam pembinaan KBIHU Masjid Agung. Teori stres dan koping membantu menjelaskan proses menghadapi tekanan, sedangkan Al-Quran, hadis dan pandangan ulama memberi landasan spiritual serta etis bagi ikhtiar. Integrasinya diwujudkan melalui pendampingan yang mendengarkan, menjelaskan, melatih dan menghubungkan jamaah dengan bantuan. Keberhasilan pelatihan terlihat pada kemampuan mengenali kecemasan, menilai keadaan, menenangkan diri dan bertindak tepat. Dengan bekal tersebut, tawakal tumbuh bersama kesiapsiagaan. Perjalanan menuju Tanah Suci pun dijalani dengan ketenangan, kepedulian dan tanggung jawab. “Wallahu alam.
_________________
Tulisan ini, dipersiapkan untuk materi PKM Penguatan Kelompok Bimbingan Haji Umroh Masjid Agung Untuk Kemandirian Jamaah Haji.
Rujukan
Al-Quran, Surat Ar-Rad [13]: 28.
Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim, hadis nomor 2664.
Al-Ghazali. Ihya Ulum al-Din, Kitab al-Tawhid wa al-Tawakkul, pembahasan ikhtiar mencegah bahaya.
Penulis:
A. Rusdiana , Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Saat ini Ketua Tim PKM. Penguatan Kelompok Bimbingan Haji Umrah Masjid Agung Untuk Kemandirian Jamaah Haji Penulis Buku Manajemen Akhlak; Sistem Informasi Manajemen, dan Pemegang Mata kuliah Kebijakan; SIM-Pendidikan; Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktif di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Pangkat Penjelajah Penulis di Kompasiana sejak 22 Januari 2025. Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. DK-Media Elit Kita; Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.
TM
