Oleh : A. Rusdiana
Perjalanan akademik bukan sekadar berpindah tempat, melainkan kesempatan mempertemukan teori, pengalaman, adab dan inovasi untuk memperkuat pengelolaan pendidikan Islam.
Dari Momentum Hari Santri Menuju Pembelajaran Lapangan
Jumat, 23 Oktober 2026, sehari setelah peringatan Hari Santri Nasional, mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) S2 Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung melaksanakan kegiatan benchmarking ke Pondok Pesantren Bina Insan Mulya, Cirebon. Kegiatan bertema "Strategik Manajemen Pesantren di Tengah Tantangan Global", ini menghadirkan kesempatan mempertemukan teori perkuliahan dengan praktik pengelolaan pesantren.
Perjalanan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa semangat Hari Santri tidak cukup dirayakan melalui seremoni, tetapi perlu diterjemahkan menjadi pembelajaran, inovasi dan pengabdian. Pertanyaannya, apa yang sesungguhnya harus dibawa pulang oleh calon manajer pendidikan Islam dari kunjungan tersebut ? Yu kita elaborasi satu-persatu :
Pertama : Merawat Tradisi, Memperkuat Identitas
Pendidikan Islam; Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober mengingatkan bangsa pada Resolusi Jihad 1945 dan kontribusi pesantren dalam perjuangan kemerdekaan. Pengakuan negara melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 memperkuat kedudukan sejarah tersebut.
Namun, merawat tradisi tidak berarti menolak perubahan. Pesantren perlu menjaga adab, keilmuan, keikhlasan dan keteladanan sambil mengembangkan tata kelola yang responsif. Mahasiswa MPI harus memahami bahwa kekuatan lembaga pendidikan Islam bertumpu pada kemampuan memelihara nilai sekaligus memperbarui strategi kelembagaan.
Kedua : Benchmarking sebagai Pembelajaran
Manajemen Strategis; kunjungan akademik seharusnya menjadi ruang penyelidikan, bukan sekadar dokumentasi kegiatan. Mahasiswa perlu menggali bagaimana pesantren merumuskan visi, mengelola sumber daya, mengembangkan kepemimpinan dan mengevaluasi mutu pendidikan.
Dalam manajemen strategis, keberhasilan organisasi ditentukan oleh kesesuaian antara tujuan, kemampuan internal dan tantangan lingkungan.
Karena itu, kegiatan di Bina Insan Mulya perlu menghasilkan temuan yang dapat dianalisis, dibandingkan dengan teori serta diterjemahkan menjadi rekomendasi pengembangan lembaga pendidikan Islam.
Ketiga : Mengintegrasikan Adab, Teknologi dan Inovasi
Globalisasi menuntut lembaga pendidikan mengembangkan literasi digital, kemampuan beradaptasi serta inovasi pelayanan. Namun, teknologi tidak boleh menggeser nilai kemanusiaan dan akhlak.
Allah Swt., berfirman :
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat orang - orang yang beriman di antaramu dan orang - orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa ilmu merupakan kemuliaan sekaligus amanah. Calon Manajer Pendidikan Islam perlu mengintegrasikan kecakapan manajerial, pemanfaatan teknologi dan pembiasaan akhlak dalam setiap keputusan kelembagaan.
Keempat : Dari Pengamatan Menuju Karya dan Pengabdian
Dalam pendekatan Outcome-Based Education (OBE), keberhasilan pembelajaran ditunjukkan melalui capaian nyata. Karena itu, benchmarking perlu dilanjutkan dengan refleksi kritis, laporan analitis, rekomendasi kebijakan, atau rancangan inovasi pengelolaan pesantren.
Mahasiswa tidak cukup menyatakan, bahwa suatu pesantren memiliki praktik yang baik. Mereka harus mampu menjelaskan alasan keberhasilannya, faktor pendukungnya dan kemungkinan penerapannya pada lembaga lain.
Dengan demikian, perjalanan akademik berubah menjadi pengalaman pembentukan kompetensi, kepemimpinan dan tanggung jawab sosial.
Singkatnya, perjalanan mahasiswa MPI S2 ke Cirebon, merupakan kesempatan menerjemahkan semangat Hari Santri 2026, "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas", menjadi pembelajaran manajemen pendidikan yang bermakna.
Tradisi memberikan fondasi, ilmu memperluas pemahaman, inovasi memperkuat daya saing dan pengabdian menentukan kebermanfaatan.
Keberhasilan benchmarking tidak diukur dari jauhnya perjalanan atau banyaknya foto, melainkan dari kedalaman pembelajaran, kualitas rekomendasi dan perubahan nyata yang dihasilkan.
Dari bus menuju pesantren, mahasiswa belajar bahwa calon manajer pendidikan Islam harus mampu menjaga nilai sekaligus memimpin perubahan. Dari Bandung menuju Cirebon, mahasiswa MPI S2 belajar bahwa benchmarking bukan wisata akademik, melainkan ikhtiar memperkuat manajemen pesantren. "Wallahu Alam".
TM.
