Informasi berlimpah, tetapi sudahkah kita memahaminya ? Bulan Bahasa mengajak kita membaca kritis, merawat budaya dan bijak bermedia.
Oleh : Prof. A. Rusdiana.
Pagi hari berjalan ke taman, Singgah sebentar memetik melati; Informasi hadir berlimpah di tangan, baca dan pahami dengan teliti.
Oktober datang membawa rintik kata - kata. Di sekolah dan kampus, puisi dan pantun dibacakan, pidato disampaikan dan karya sastra dirayakan. Sementara itu, layar gawai setiap hari menghadirkan berita, pesan, video singkat hingga tulisan yang dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan. Informasi mudah ditemukan dan cepat dibagikan, tetapi belum semuanya dibaca secara utuh dan diperiksa kebenarannya. Di tengah informasi yang berlimpah, Bulan Bahasa mengajak kita bertanya; sudahkah kita memahami apa yang dibaca sebelum menyampaikan kembali kepada orang lain ?
Bulan Bahasa dan Sastra berkaitan erat dengan semangat Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Melalui ikrar tentang satu tanah air, satu bangsa dan bahasa persatuan, para pemuda menegaskan bahasa Indonesia sebagai rumah bersama bagi masyarakat yang beragam.
Bahasa menjadi jembatan untuk saling memahami dan membangun cita - cita kebangsaan. Semangat itu, tetap relevan ketika percakapan masyarakat semakin banyak berlangsung melalui media digital.
Tema Bulan Bahasa dan Sastra 2026, Bahasa Indonesia Bermartabat, Indonesia Berdaulat, mengingatkan bahwa bahasa memiliki peran penting dalam menjaga identitas bangsa. Tulisan ini mengajak kita memperkuat empat hal :
Pertama, memuliakan bahasa dalam kehidupan bersama; Bahasa yang bermartabat tumbuh dari ketepatan kata dan sikap menghargai sesama. Ditengah derasnya komentar, perbedaan pendapat sering diungkapkan secara tergesa-gesa sebelum persoalan dipahami. Kritik tetap diperlukan, tetapi akan lebih bermanfaat apabila disampaikan dengan alasan yang jelas dan bahasa yang santun.
Di ruang kelas, keluarga maupun media sosial, pilihan kata dapat membuka ruang dialog atau justru menimbulkan salah paham.
Karena itu, menjaga martabat bahasa berarti membiasakan diri berpikir sebelum berbicara, mendengarkan sebelum menanggapi dan bertanggung jawab atas pesan yang disampaikan.
Kedua, membangun pembiasaan membaca yang mendalam; informasi yang berlimpah tidak otomatis melahirkan pemahaman. Seseorang dapat membaca banyak judul dalam waktu singkat, tetapi melewatkan isi dan konteksnya. Pembiasaan membaca perlu memberi ruang untuk bertanya; apa gagasan utamanya, bagaimana penulis mendukung pendapatnya dan apakah ada sudut pandang lain ?
Sekolah dapat menyediakan waktu membaca dan berdiskusi; kampus dapat membimbing mahasiswa membandingkan sumber; keluarga dapat menghidupkan percakapan tentang bacaan. Buku cetak dan bacaan digital sama - sama berguna ketika dibaca dengan perhatian dan diolah menjadi pengetahuan.
Ketiga, merawat bahasa daerah sebagai warisan budaya; Mengutamakan bahasa Indonesia berjalan beriringan dengan pelestarian bahasa daerah. Dalam bahasa daerah tersimpan cerita, ungkapan, pengetahuan dan nilai yang diwariskan antargenerasi. Namun, warisan tersebut membutuhkan ruang untuk digunakan agar tetap akrab bagi generasi muda.
Keluarga dapat mengenalkan kosakata dan cerita setempat; sekolah dapat memberi ruang bagi sastra daerah; media digital dapat membantu mendokumentasikan dan memperkenalkannya secara lebih luas. Upaya ini sejalan dengan Trigatra Bangun Bahasa; utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah dan kuasai bahasa asing.
Keempat, memahami informasi digital sebelum membagikannya; gawai memungkinkan berita, potongan video dan pesan berantai sampai kepada kita dalam hitungan detik. Sebuah judul yang menarik dapat segera dibagikan, padahal isi, tanggal atau sumbernya belum diperiksa. Kecerdasan buatan pun dapat membantu menyusun dan menerjemahkan teks, tetapi hasilnya tetap perlu ditelaah karena dapat keliru atau kehilangan konteks. Karena itu, literasi digital menuntut kebiasaan memeriksa sumber, membandingkan informasi dan mempertimbangkan dampaknya. Cepat menerima informasi perlu diimbangi dengan cermat memahami dan bijak menyebarkan.
Singkatnya, Bulan Bahasa tidak berhenti pada perayaan selama Oktober. Semangatnya perlu diwujudkan melalui pembiasaan membaca secara mendalam, berbahasa dengan santun, menjaga warisan budaya, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Di tengah informasi yang berlimpah, kemampuan memahami menjadi bekal untuk memilah pengetahuan dan merawat hubungan antar sesama. Dengan demikian, bahasa Indonesia tetap hidup sebagai rumah bersama; tempat gagasan dipertukarkan, perbedaan dihargai dan kebermanfaatan ditumbuhkan.
Bandung, 28 Oktober 2026.
Penulis:
A. Rusdiana, Guru besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Saat ini Ketua Tim PKM. Penguatan Kelompok Bimbingaan Haji Umrah Masjid Agung Untuk Kemandirian Jamaah Haji Penulis Buku Manajemen Alhklak; Sistem Informasi Manajemen, dan Pemegang Matakuliah Kebijakan; SIM-Pendidikan; Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Pangkat Penjelajah Penulis di Kompasiana sejak 22 Januari 2025. Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. DK-Media Elit Kita; Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.
TM.
