
BANDUNG —
Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) YAPATA Al-Jawami, melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa - desa se-Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung dengan membawa pendekatan pengabdian yang berakar pada kebutuhan nyata masyarakat. Program yang dijalankan tidak hanya menyentuh bidang pendidikan dan keagamaan, tetapi juga diarahkan pada pemanfaatan teknologi untuk menjawab tantangan tata kelola di tingkat desa.
Salah satu inovasi unggulan yang lahir dari rangkaian KKN tersebut, adalah DIGITAF ; singkatan dari Digitalisasi Tanah Wakaf. Platform berbasis situs web ini dikembangkan untuk mendokumentasikan, mengelola dan menyebarluaskan informasi aset tanah wakaf secara digital, sehingga lebih mudah diakses, dipantau dan dikembangkan sebagai bagian dari penguatan tata kelola wakaf di Desa Cileunyi Wetan.
DIGITAF, resmi diluncurkan dalam kegiatan Sosialisasi Desa Sadar Wakaf yang berlangsung di Aula Desa Cileunyi Wetan pada Kamis (10/9/2026) kemarin. Kegiatan dibuka oleh Kepala Desa Cileunyi Wetan H. Hari Haryono S.H., sedangkan peluncuran dilakukan langsung oleh Camat Cileunyi Cucu Endang S.Sn,. M.Ak.
Kehadiran DIGITAF, bahwa KKN kini bergerak melampaui pola kegiatan seremonial. Mahasiswa didorong memetakan persoalan dilapangan, berkolaborasi dengan pemerintah desa dan warga, lalu menghadirkan solusi yang dapat berlanjut meski masa pengabdian berakhir.
Selain digitalisasi aset wakaf, mahasiswa juga menjalankan edukasi literasi wakaf kepada pelajar di SMP Ibnu Abbas. Materi disampaikan melalui video edukasi, diskusi, permainan interaktif hingga kegiatan pemecah suasana, sehingga nilai dan pengelolaan wakaf dapat dipahami dengan cara yang dekat dengan generasi muda.
Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerja Sama STAI YAPATA Al-Jawami, Ginan Wibawa S.H.I,. S.H,. M.H., menegaskan kampus mendorong perubahan orientasi KKN dari sekadar melaksanakan program kerja menuju pengabdian yang berdampak dan berkelanjutan.
"Mahasiswa tidak cukup hanya datang, menjalankan program, lalu pulang. Mereka harus belajar membaca potensi dan persoalan desa, lalu bersama masyarakat menghadirkan solusi yang dapat terus dimanfaatkan setelah KKN selesai," ujarnya.
DIGITAF. Lanjut Ginan, menjadi contoh nyata bagaimana pengetahuan akademik, teknologi dan kebutuhan masyarakat dapat bersinergi.
"Kami ingin ada sesuatu yang ditinggalkan mahasiswa. Tidak selalu harus berbentuk aplikasi, bisa berupa pengetahuan, sistem, penguatan kapasitas atau inovasi sederhana yang memang dibutuhkan desa. Ukurannya bukan banyaknya acara, melainkan manfaat yang dirasakan," tambahnya.
Desa bukan sekadar lokasi pelaksanaan kewajiban akademik, melainkan ruang belajar yang mempertemukan mahasiswa langsung dengan realitas sosial, pendidikan, ekonomi, keagamaan dan tata kelola masyarakat. Oleh karena itu, seluruh kelompok KKN di Kecamatan Cileunyi didorong membangun kemitraan dengan pemerintah desa, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat dan berbagai unsur lokal.
Pendekatan ini, sekaligus menjadi upaya mendekatkan perguruan tinggi dengan masyarakat sekitar. KKN tidak boleh berakhir saat mahasiswa ditarik pulang, melainkan meninggalkan jejak berupa pengetahuan, jejaring, dan program yang dapat dikembangkan secara mandiri oleh warga.
"Perguruan tinggi memiliki sumber daya pengetahuan, sedangkan masyarakat memahami persoalan dan potensi wilayahnya. Ketika keduanya dipertemukan secara tepat, bahwa KKN dapat menjadi ruang pemberdayaan, bukan sekadar agenda tahunan," pungkas Ginan. (Redaksi)
Editor TM.