JAKARTA — Penguatan sektor pertanian menjadi salah satu kunci mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia. Hal tersebut mengemuka dalam GANTARI 2026 dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional ke-66.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Regenerasi Pemuda sebagai Penggerak Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia”. Guru Besar Agribisnis UIN Jakarta, Prof. Dr. Achmad Tjachja Nugraha, mengatakan sektor pertanian memiliki posisi strategis karena menjadi penyedia pangan bagi lebih dari 280 juta penduduk sekaligus menopang kehidupan masyarakat pedesaan.
“Pangan bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan hak asasi manusia sekaligus prasyarat mutlak ketahanan nasional,” kata Prof. Achmad.
Menurut Prof. Achmad, sektor pertanian masih menghadapi sejumlah tantangan struktural.
Di antaranya alih fungsi lahan produktif, lambatnya regenerasi petani, rendahnya minat generasi muda, perubahan iklim, serta kesenjangan infrastruktur logistik antarpulau.
Karena itu, Prof. Achmad menawarkan lima pilar ekosistem pertanian. Pilar tersebut meliputi lahan dan agraria, sumber daya manusia dan regenerasi, teknologi dan input, kelembagaan dan pembiayaan, serta pasar dan hilirisasi.
“Angka produksi dan pertumbuhan adalah modal. Tantangannya adalah mengubah modal tersebut menjadi ketahanan pangan yang dirasakan rumah tangga di seluruh wilayah,” ujarnya.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kemudian menyampaikan capaian sektor pertanian nasional. Amran mengatakan Presiden menargetkan swasembada pangan dalam empat tahun, namun menurutnya target tersebut telah tercapai dalam satu tahun.
“Presiden minta empat tahun swasembada, tapi satu tahun sudah tercapai,” kata Amran. Materinya juga mencatat NTP Agustus 2026 sebesar 129,19.
Amran juga menyebut Indonesia mendapat penghargaan dari Food and Agriculture Organization (FAO) untuk sektor pertanian.
Amran mengatakan kondisi cadangan beras tersebut membuat Indonesia siap menghadapi berbagai tantangan, termasuk El Niño dan krisis global.
Ia juga menyampaikan pemerintah melakukan penindakan terhadap pihak yang disebut terlibat tindak pidana korupsi, dengan menyebut 102 orang telah ditindak.
Sementara itu, Direktur Pengadaan Bulog Dr. Prihasto Setyanto memaparkan kapasitas Bulog dalam menjaga ketersediaan pangan dan menyerap hasil produksi petani. Bulog memiliki 1.686 unit gudang, termasuk gudang kedelai serta fasilitas pengolahan beras dan jagung, dengan kapasitas mencapai 4,16 juta ton.
Pada 2025, Bulog mendapat penugasan menyerap 3 juta ton beras dan realisasinya mencapai 3,191 juta ton. Untuk 2026, target penyerapan meningkat menjadi 4 juta ton dan hingga saat ini telah mencapai sekitar 3,989 juta ton, dengan proyeksi mencapai 4,3 juta ton pada akhir tahun.
“Petani mendapat kepastian harga,” ujar Prihasto.
Laksamana Muda TNI Heri Triwibowo, Kepala Staf Komando Armada Republik Indonesia, menyoroti ketahanan pangan dari sisi keamanan nasional.
Dalam paparannya, ketergantungan pangan dapat menjadi kerentanan strategis ketika terjadi konflik antarnegara, perubahan iklim dan bencana alam, gangguan rantai pasok, serta gangguan energi dan ekonomi global.
“Sebuah bangsa dengan kekuatan militer, ekonomi, dan teknologi yang besar tetap rentan jika pangannya bergantung pada pihak lain,” demikian materi yang disampaikan Heri. Ia juga menekankan pentingnya keamanan laut untuk menjamin kelancaran jalur pelayaran dan distribusi pangan antardaerah.
Rangkaian pembahasan tersebut menempatkan ketahanan pangan sebagai kerja bersama. Sinergi pentahelix melibatkan akademisi dan perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat dan petani, serta pemuda dan TNI-Polri, sementara generasi muda didorong menjadi bagian penting dalam keberlanjutan pertanian Indonesia. (ek)

