Oleh : Edy Mulyadi — Wartawan Senior
Jakarta, 24 September 2026
Artikel
Sabtu, 19 September 2026, sempat menjadi perhatian publik. Sekitar pukul 10.21 WIB, Presiden Prabowo Subianto memasuki Balai Pertemuan Pondok Modern Gontor untuk meresmikan syukuran 100 Tahun Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor. Kedatangannya ditunggu, namun cara para Kyai menyambutnya sungguh luar biasa, langkah Presiden diiringi lantunan Surah Al-Ahzab ayat 70–73.
Bukan kebetulan. Dalam tradisi pesantren, pemilihan ayat Al-Qur'an dalam acara formal adalah pesan yang disampaikan secara sadar, santun namun menghujam langsung ke jantung kekuasaan.
Ayat yang diterjemahkan :
(70) ; "Wahai orang - orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar." (71) ; "Niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia menang dengan kemenangan yang agung."
(72) ; "Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan memikulnya, lalu dipikullah oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh."
(73) ; "Agar Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan; dan agar Allah menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Tiga (3) Pijakan Moral yang Menegur Penguasa diantaranya :
Kesatu Qaulan Sadida ; Ucapkan Perkataan yang Benar
Ayat 70–71, menegaskan perintah Qaulan Sadida. Perkataan yang lurus, jujur dan dapat dipertanggungjawabkan. Lisan pemimpin, adalah kompas publik. Retorika di podium harus selaras dengan kenyataan di lapangan.
Namun hari ini, jurang terasa lebar Pidato kenegaraan bicara pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan, rakyat merasakan lonjakan harga kebutuhan pokok, gelombang PHK, lapangan kerja yang langka
Qaulan Sadida, menuntut berhenti menutupi kesulitan rakyat dengan statistik yang dipercantik. Bahasa kepala negara harus menjaga martabat diksi yang digunakan tidak boleh merendahkan, menghina atau memancing keributan. Karena ditonton puluhan juta, diedit, disebar dan menjadi cermin bangsa.
Kedua Zaluman Jahula : Amanah yang Disalahgunakan ;
Ayat 72 menyajikan pelajaran mendalam antara langit, bumi, gunung - gunung menolak amanah kekuasaan karena paham beratnya pertanggungjawaban. Manusia justru memikulnya lalu sering gagal.
"Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh."
Kezaliman dan kebodohan tampak nyata tatkala :
- Hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas.
- Rakyat kecil dihukum berat atas pelanggaran sepele.
- Koruptor, perusak alam, dan elite dekat kekuasaan justru mendapat perlindungan.
Mengkhianati amanah demi kepentingan segelintir kelompok, adalah wujud nyata kezaliman dan kebodohan yang disindir Al-Qur'an.
Ketiga Lingkaran ABS (Asal Bapak Senang), Bahaya Penjilat di Lingkaran Dalam :
Ayat 73, memperingatkan sifat kemunafikan dan pengkhianatan. Bagi seorang pemimpin, ancaman terbesar bukan dari musuh politik, melainkan dari lingkaran dalam sendiri para pembisik yang menyampaikan laporan Asal Bapak Senang ?
Mereka menyembunyikan kenyataan pahit, tangisan petani, kesulitan ibu membeli beras, gelombang pengangguran. Sebaliknya menyajikan angka indah, tepuk tangan buatan dan sanjungan palsu. Pemimpin yang terbuai laporan ABS, sedang diasingkan dari kenyataan oleh orang - orang terdekatnya sendiri.
Di Gontor, pada momen syukuran 100 tahun, para Kyai mengirim pesan tertinggi ; nasihatut tammah, nasihat yang sempurna. Bukan lewat protes jalanan, bukan lewat surat terbuka, melainkan lewat firman Allah SWT.
- Tegur, agar berkata benar, tidak menipu rakyat.
- Tegur, agar memelihara amanah, tidak menyalahgunakan kekuasaan.
- Tegur, agar menjauhi lingkaran penasihat yang memanipulasi kenyataan
Kekuasaan senantiasa membutuhkan cermin yang jujur. Dan, tidak ada cermin yang lebih jernih untuk mengevaluasi lisan, kebijakan serta amanah kepemimpinan selain firman Tuhan. Semoga pesan santun, namun tajam ini mendapat respon sebaik-baiknya dari Istana. (Redaksi)
Editor TM.
