Oleh: Arshana Malika
Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali menjadi sorotan dunia. Ketegangan yang memanas hingga berujung pada konfrontasi terbuka memberikan banyak pelajaran penting bagi umat Islam. Di tengah narasi dominasi negara adidaya, realitas di lapangan justru menunjukkan fakta yang berbeda: kekuatan global tidak selalu absolut, dan perlawanan dari satu negeri saja mampu mengguncang hegemoni tersebut. Dari peristiwa ini, muncul satu kesimpulan penting—bahwa kesatuan negeri-negeri Muslim adalah kunci untuk menghadapi dominasi global yang selama ini menekan umat.
*Ketegangan Global dan Perlawanan Iran*
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memperlihatkan bahwa kekuatan militer negara adidaya tidak selalu mampu dengan mudah menundukkan lawannya. Iran mengklaim berhasil menghadapi tekanan militer dari Amerika Serikat dan sekutunya, bahkan menyebut keberhasilannya sebagai inspirasi bagi dunia (Media Indonesia, 2026).
Selain itu, Iran juga mengklaim kemenangan setelah berhasil memaksa Amerika Serikat menerima rencana 10 poin syarat gencatan senjata, yang menjadi bukti bahwa tekanan dari negara adidaya tidak selalu berujung pada dominasi sepihak (detikNews, 2026; Viva.co.id, 2026).
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat juga mengklaim kemenangan penuh setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata dengan Iran, menunjukkan bahwa konflik ini dipenuhi dengan tarik-menarik kepentingan dan narasi kemenangan dari kedua belah pihak (Kompas.com, 8 April 2026; ANTARA News, 2026).
Fakta lain menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak sepenuhnya mampu memaksa seluruh negara sekutunya untuk terlibat langsung dalam konflik melawan Iran. Hal ini memperlihatkan adanya keterbatasan dalam membangun koalisi global, bahkan di antara negara-negara yang selama ini dianggap berada dalam satu blok kekuatan.
Namun di sisi lain, terdapat pula fakta bahwa sebagian penguasa negeri Muslim justru bersekutu dengan Amerika Serikat. Kondisi ini menunjukkan adanya fragmentasi politik di dunia Islam yang melemahkan posisi umat dalam menghadapi tekanan global.
*Mitos Kekuatan Adidaya dan Realitas Politik Kepentingan*
Rangkaian fakta tersebut menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan Israel tidak sekuat yang selama ini digambarkan sebagai kekuatan yang tak terkalahkan. Perlawanan Iran, meskipun hanya satu negara, mampu menahan tekanan besar dari kekuatan global. Hal ini membuktikan bahwa keberanian dan kemandirian politik dapat menjadi faktor penting dalam menghadapi hegemoni.
Namun, konflik ini juga mengungkap realitas lain dalam hubungan internasional: tidak ada sekutu yang benar-benar permanen. Hubungan antarnegara dibangun di atas kepentingan, bukan loyalitas. Ketika kepentingan berubah, maka aliansi pun dapat bergeser. Hal ini terlihat dari tidak solidnya keterlibatan negara-negara sekutu Amerika dalam konflik melawan Iran.
Lebih memprihatinkan lagi, adanya penguasa di negeri-negeri Muslim yang justru bersekutu dengan kekuatan asing menunjukkan adanya krisis kepemimpinan dalam dunia Islam. Alih-alih bersatu menghadapi tekanan global, sebagian justru menjadi bagian dari sistem yang melemahkan umat sendiri. Kondisi ini memperparah perpecahan dan menghilangkan potensi kekuatan kolektif yang sebenarnya dimiliki oleh dunia Islam.
Padahal, jika dilihat dari potensi yang ada, negeri-negeri Muslim memiliki sumber daya alam yang melimpah, jumlah penduduk yang besar, serta posisi geografis yang strategis. Jika potensi ini disatukan dalam satu kekuatan politik yang solid, maka bukan tidak mungkin dunia Islam menjadi kekuatan global baru yang mampu menandingi bahkan melampaui dominasi negara adidaya saat ini.
Dengan kata lain, kelemahan umat Islam saat ini bukan terletak pada kurangnya sumber daya, melainkan pada ketiadaan persatuan dan kepemimpinan yang mampu mengelola potensi tersebut secara optimal.
*Solusi: Urgensi Kesatuan dalam Naungan Sistem Islam*
Islam menawarkan solusi mendasar atas persoalan perpecahan dan dominasi global, yaitu dengan membangun kesatuan umat dalam satu kepemimpinan politik yang kokoh. Kesatuan ini bukan sekadar kerja sama longgar antarnegara, melainkan penyatuan yang diikat oleh akidah dan syariat Islam dalam institusi Daulah Islam.
Sistem Islam memiliki peran strategis dalam menyatukan negeri-negeri Muslim yang saat ini terpecah oleh batas-batas nasionalisme. Dengan kesatuan ini, kekuatan umat Islam tidak lagi tersebar dan lemah, tetapi terkonsolidasi menjadi satu kekuatan besar yang mampu menghadapi hegemoni global.
Melalui Daulah Islam, kebijakan luar negeri akan didasarkan pada kepentingan umat Islam secara keseluruhan, bukan kepentingan nasional sempit atau tekanan dari kekuatan asing. Dengan demikian, tidak akan ada lagi penguasa Muslim yang bersekutu dengan pihak yang merugikan umat.
Selain itu, sistem Islam memiliki mekanisme dakwah dan jihad sebagai instrumen untuk menyebarkan Islam sekaligus melindungi umat dari agresi dan penindasan. Dakwah menjadi sarana untuk menyampaikan risalah Islam ke seluruh dunia, sementara jihad menjadi mekanisme pertahanan dan perlindungan terhadap umat.
Daulah Islam juga berperan dalam membebaskan negeri-negeri Muslim dari penjajahan dan dominasi asing. Dengan kekuatan politik, ekonomi, dan militer yang terintegrasi, sistem Islam mampu menjadi pelindung bagi seluruh umat Islam, sekaligus membawa rahmat bagi dunia.
Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memberikan pelajaran penting bahwa hegemoni global tidaklah absolut. Perlawanan dari satu negara saja mampu menunjukkan celah dalam dominasi tersebut. Namun, pelajaran terbesar dari peristiwa ini adalah pentingnya persatuan.
Selama negeri-negeri Muslim tetap terpecah dan berjalan sendiri-sendiri, potensi besar yang dimiliki umat tidak akan pernah terwujud menjadi kekuatan nyata. Sebaliknya, jika umat Islam bersatu dalam satu kepemimpinan yang kokoh, maka bukan tidak mungkin dominasi global yang menindas dapat diakhiri.
Kesatuan bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Dengan kesatuan dalam naungan Sistem Islam, umat Islam tidak hanya mampu melindungi dirinya, tetapi juga menghadirkan keadilan dan rahmat bagi seluruh dunia.
