Narasi,-
Sore itu angin bergerak pelan di halaman sebuah sekolah di pinggiran Jawa Barat, bangku kayu di sudut koridor tampak kosong, seolah masih menyimpan jejak seorang remaja yang tak lagi kembali ke kelasnya. Seorang guru berkata lirih, “Ia anak baik, nilainya tinggi, tapi kami terlambat membaca lukanya.” Kalimat itu, menggantung lama di udara. Di balik rapor gemilang dan senyum sopan, ada jiwa yang kelelahan menanggung sunyi. Tragedi itu bukan kisah tunggal, ia menjadi potret getir dari generasi muda yang tumbuh di tengah tekanan, tetapi miskin sandaran makna.
Dalam beberapa bulan terakhir, rangkaian kasus dugaan bunuh diri anak dan remaja mencuat di berbagai wilayah Jawa Barat. Fakta ini seharusnya mengguncang kesadaran kolektif kita, anak - anak tidak sedang kekurangan potensi, tetapi kehilangan ketenangan. Mereka hidup di dunia yang mengukur nilai dari prestasi, bukan dari ketahanan jiwa. Mereka diajari cara sukses, namun jarang dibekali cara bertahan ketika gagal. Disinilah kita perlu jujur bercermin, ada yang keliru dalam arah kehidupan yang kita bangun.
Banyak pihak telah bergerak, layanan konseling diperluas. Program kesehatan mental digalakkan, sekolah mengadakan seminar motivasi. Semua ini patut diapresiasi, sebagai ikhtiar baik negara dan masyarakat. Namun, upaya tersebut kerap bersifat reaktif. Ia menenangkan gejala, tetapi belum menyentuh akar persoalan. Akar itu, bernama kekosongan makna hidup.
Sekularisme perlahan membentuk generasi yang akrab dengan target, tetapi asing dengan tujuan hakiki. Hidup dipersempit menjadi lomba pencapaian, ketika gagal, harga diri runtuh. Ketika tertinggal, harapan pudar. Jiwa yang tidak memiliki sandaran spiritual mudah goyah, maka tidak mengherankan jika tekanan kecil terasa seperti beban tak tertanggungkan.
Pendekatan pragmatis dalam kebijakan publik, meski penting tidak cukup untuk membangun ketahanan mental jangka panjang. Manusia bukan sekadar objek program, manusia adalah makhluk berjiwa yang membutuhkan makna, harapan dan rasa aman. Tanpa fondasi nilai yang kuat, layanan terbaik sekalipun hanya menjadi perban sementara di atas luka yang dalam.
Di sinilah Islam menawarkan pandangan hidup yang menyeluruh, maka Islam memandang kehidupan sebagai amanah suci dari Allah. Al-Qur’an menegaskan, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (QS. Al-Baqarah: 195). Ayat ini bukan sekadar larangan, tetapi penegasan bahwa hidup layak dijaga, dihormati dan diperjuangkan. Setiap ujian bukan alasan untuk menyerah, melainkan pintu menuju pertolongan Allah.
Rasulullah Saw., pun membangun masyarakat dengan ikatan kasih sayang yang kuat. Beliau bersabda, bahwa kaum mukmin ibarat satu tubuh ; ketika satu bagian sakit, seluruh tubuh ikut merasakan. Nilai ini, menciptakan lingkungan sosial yang tidak membiarkan seorang pun menanggung luka sendirian. Inilah, fondasi kesehatan mental yang paling mendasar : rasa dimiliki, didengar dan dicintai.
Sejarah peradaban Islam, menunjukkan bagaimana sistem kehidupan yang berlandaskan iman mampu membentuk generasi tangguh. Pendidikan tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi menenangkan jiwa. Keluarga menjadi pusat keteduhan emosional, negara menjamin kebutuhan dasar rakyat sehingga kecemasan hidup tidak menumpuk. Masyarakat tumbuh dalam budaya saling menjaga, semua unsur bergerak serempak membangun manusia seutuhnya.
Tulisan ini bukan seruan penolakan terhadap kebijakan pemerintah, justru sebaliknya. Ini, sebagai refleksi arah agar ikhtiar yang ada menjadi lebih utuh dan bernyawa. Program kesehatan mental perlu terus diperkuat, namun harus disertai pembangunan nilai spiritual dan makna hidup sejak dini. Pendidikan karakter tidak boleh berhenti pada slogan, tetapi harus terintegrasi dalam sistem. Keluarga perlu didukung, agar mampu menjadi benteng emosional anak. Masyarakat perlu dibangun sebagai ruang aman yang penuh empati.
Jika generasi muda terus tumbuh dalam kekosongan makna, tragedi serupa akan terus berulang, betapapun banyak program yang diluncurkan. Namun jika kehidupan dibangun di atas tuntunan Ilahi yang menyentuh jiwa, anak - anak akan memiliki alasan kuat untuk bertahan, berharap dan bangkit.
Disanalah masa depan yang lebih manusiawi dapat kita rajut bersama, bukan dengan kemarahan, tetapi dengan kesadaran, koreksi arah dan keberanian membangun peradaban yang memuliakan kehidupan.
Editor Lilis Suryani
Oleh : Ummu Fahhala, S.Pd. (Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)
