Oleh : Reni Sumarni
Dunia pendidikan saat ini telah digemparkan dengan peristiwa anak bunuh diri, yang terjadi di Nusa Tenggara Timur Kabupaten Ngada, Kecamatan Jarebuu, siswa yang berinisial YBR (10 tahun) yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) Kelas IV diduga bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis sekolah padahal harganya tidak seberapa, akan tetapi si orang tua anak tersebut memang tidak memiliki uang. Sungguh malang nasib anak di negeri kita saat ini, yang jauh di bawah garis kemiskinan. Sebelum aksi bunuh diri yang dilakukan oleh korban YBR, pihak sekolah sempat menagih uang sekolah sebesar Rp 1,2 juta terhadap korban juga kepada siswa yang lainnya.
Ini sebuah tamparan keras bagi semua pihak khususnya dunia pendidikan, dimana anak-anak yang harusnya fokus belajar malah dibebani dengan tagihan yang tidak semestinya mereka dengar dan pikirkan hingga, ujung-ujungnya nasib mereka berakhir tragis. Sekali lagi negara abai terhadap rakyatnya, terutama hak anak dalam mengenyam pendidikan secara gratis tanpa ada pungutan biaya sedikit pun, karena semua itu adalah tanggung jawab negara.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), menyatakan kasus anak bunuh diri yang terus berulang menjadi kondisi darurat anak mengakhiri hidup, hanya karena sebuah faktor yaitu, ekonomi yang tidak memiliki uang untuk membeli buku tulis dan pulpen. Aksi siswa yang ekstrem seperti bunuh diri ini sebuah bentuk protes terhadap struktur sosial bagi orang yang lemah.
Nasib generasi kita kian terpuruk, termasuk anak-anak, yang sejatinya mereka menjadi tonggak penerus bangsa, tengah diuji habis-habisan dengan banyaknya kasus, salah satunya bunuh diri. Dan masalah ini bukan hal sepele karena, menyangkut nasib negara kedepannya, untuk itu negara harus serius dalam menangani persoalan yang tengah terjadi saat ini, tanpa pernah memandang remeh setiap peristiwa apapun yang menimpa rakyatnya.
Sistem kapitalistik hari ini nyatanya hanya memberi beban kepada masyarakat seperti pendidikan, kesehatan dan kebutuhan lainnya. Bukankah seharusnya kebutuhan dasar seperti makanan, pendidikan, kesehatan, keamanan adalah tanggung jawab negara ?. Akan tetapi saat ini rakyat harus menanggung sendiri biaya tersebut, bahkan untuk makan sehari-hari pun mereka masih kesusahan. Inilah bukti rusaknya sistem kapitalis karena sedikit pun tidak membantu masyarakat kecil, akan tetapi rakyat harus berjuang dan bertahan hidup sendiri tanpa bantuan negara yang jelas tidak peduli.
Dalam Islam, pendidikan adalah tanggung jawab negara, dan seluruh anak berhak mendapatkan pendidikan sampai jenjang tertinggi, semua biaya tidak boleh dibebankan kepada orang tua, bahkan untuk kebutuhan sekolah apalagi alat tulis, negara sudah menyediakannya. Sungguh Islam begitu memperhatikan anak generasi bangsa, hingga mentalnya pun dijaga agar mereka tidak melakukan hal yang dibenci Allah.
Negara Islam memberikan perlindungan, keamanan juga menjaga lingkungan sosial. Agar tidak terjadi perundungan, atau ketimpangan sosial ditengah masyarakat. Dan negara menjamin kontrol sosial karena itu adalah hak warga, merasakan keamanan tinggal di wilayah daulah Islam.
Islam akan mengatur pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang hanya boleh dikelola oleh negara saja, dan hasilnya untuk kebutuhan rakyat. Dalam sistem ekonomi Islam, pendapatan dan penyaluran setiap dana yang masuk tersusun sesuai aturan yang sudah ditetapkan, tanpa membebankan kepada rakyat, karena negara tau akan setiap tanggung jawabnnya.
Sungguh alangkah sejahteranya apabila syariat Islam diterapkan, tidak akan ada lagi kasus yang menimpa anak-anak khususnya bunuh diri. Karena Islam senantiasa membimbing generasi bangsa menjadi diri pribadi yang lebih kuat, tidak mudah menyerah, tentunya fisik dan mentalnya pun kuat, juga terjaga dari kemaksiatan dengan menjaga individu keluarga agar pola asuh yang diberikan pun sesuai syariat Islam, juga lingkungan masyarakat yang senantiasa menjaga akhlak dan akidah Islam.
Untuk mewujudkan itu semua, yang harus kita lakukan adalah terus mendakwahkan Islam, mengubah pola pikir masyarakat dari yang kapitalis menjadi Islam dengan memperlihatkan fakta yang terjadi bahwa dunia saat ini tidak baik-baik saja. Untuk menyelamatkan generasi Islam kita awali dengan, mengajak mereka ikut kajian-kajian Islam, dimana disana membahas tentang pentingnya menjaga akidah sebagai pondasi keimanan, agar tidak mudah terbawa arus yang marak terjadi, seperti kasus-kasus bunuh diri yang tidak pantas ditiru oleh siapa pun, dan mengajak masyarakat untuk mengkaji Islam secara kaffah. Seperti Firman Allah Ta'ala : "Dan hendaklah diantara kalian ada segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan (ma'ruf) dan mencegah kepada yang mungkar maka merekalah orang-orang yang beruntung" (Q.S. Al -Imran 104). Wallahu a'lam bishshawab.
