Narasi,-
Malam itu, hujan turun pelan disebuah warung kopi kecil di pinggir Kota Bandung. Layar ponsel menyala di tangan Arif, seorang penulis lepas yang terbiasa menyusun kata dengan hati - hati. Ia, membaca berita sambil menghela napas.
“Lihat ini,” kata Arif pelan sambil menyodorkan layar kepada Hasan, dosen sosiologi yang duduk di depannya. “Kejahatan siber di Jawa Barat melonjak, aparat menyoroti hasutan di media sosial.”
Hasan mengangguk, “Aku membacanya juga. Ruang digital kita makin ramai, tapi juga makin rapuh.”
Percakapan mereka mengalir di tengah denting sendok dan aroma kopi, lalu Arif menutup layar ponselnya. “Yang membuatku gelisah bukan hanya kejahatannya,” ujarnya. “Tetapi batas antara kritik dan hasutan yang terasa kian tipis.”
Hasan menyeruput kopi, lalu berkata pelan, “Teknologi selalu membawa dua wajah. Ia membuka peluang, tapi juga membuka celah. Ketika pengawasan tidak punya ukuran yang adil, rakyat akan ragu untuk bersuara.”
Arif menatap keluar jendela, lampu jalan memantul di genangan air. Ia teringat laporan media yang menyebut kejahatan siber di Jawa Barat, meningkat sepanjang 2025. Penipuan daring, peredaran narkoba berbasis aplikasi, hingga perang opini di media sosial bergerak cepat dan senyap. Namun, kritik kebijakan justru sering tampak paling terang dan mudah disorot.
“Seolah-olah,” kata Arif lirih, “suara yang jujur lebih mudah ditangkap daripada kejahatan yang bersembunyi.”
Hasan tersenyum tipis, “Itulah tantangan negara modern. Negara, wajib melindungi warganya dari kejahatan digital. Namun, negara juga wajib menjaga ruang kritik agar tetap hidup. Tanpa kritik, kebijakan kehilangan cermin.”
Arif mengangguk, ia sadar kritik tidak harus lantang dan kasar. Kritik bisa hadir sebagai nasihat, kritik bisa dibungkus dengan etika. Dalam diam, "Arif teringat satu ayat Al-Qur’an yang sering ia baca ketika menulis.
Allah Swt., berfirman : “Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil, berlaku adillah. Karena, adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS. Al-Ma’idah: 8). Ayat itu terasa relevan, keadilan harus menjadi ukuran termasuk dalam menilai kata dan niat di ruang digital.
“Islam memberi garis yang jelas,” kata Arif akhirnya. “Kritik bukan kejahatan, nasihat bukan ancaman.” Hasan mengangguk setuju. “Rasulullah saw., memberi teladan itu. Beliau menerima nasihat para sahabat. Beliau, tidak menutup telinga dari suara yang berbeda.”
Dalam sebuah hadis riwayat Muslim Rasulullah Saw., bersabda bahwa sebaik-baik pemimpin ialah yang mencintai rakyatnya dan dicintai rakyatnya. Cinta itu lahir dari kepercayaan, kepercayaan tumbuh ketika suara rakyat tidak dibungkam, tetapi diarahkan.
Arif teringat kisah Umar bin Khattab Ra., sang pemimpin yang berdiri di hadapan rakyat dan berkata agar mereka meluruskannya jika ia keliru. Tidak ada ketakutan saat itu, tidak ada stigma terhadap kritik. Yang ada, hanyalah tanggung jawab bersama menjaga keadilan.
“Seandainya semangat itu hidup kembali,” kata Arif pelan, “ruang digital kita akan lebih sehat.” Hasan tersenyum. “Mungkin itulah pekerjaan besar kita hari ini, mengingatkan dengan cara yang tenang".
Malam kian larut, hujan mereda. Arif, menutup buku catatannya. Ia, tahu tulisannya nanti harus berhati-hati. Ia tidak ingin menyulut api, ia hanya ingin menyalakan lampu kecil diruang gelap bernama dunia maya.
Negara tetap perlu tegas, aparat tetap perlu waspada. Namun, ketegasan tanpa keadilan hanya akan melahirkan jarak. Islam, mengajarkan keseimbangan itu. Islam, menempatkan teknologi sebagai alat maslahat. Islam juga menuntut muhasabah penguasa, sebagai bagian dari iman sosial.
Di tengah derasnya arus digital, tentunya Arif memilih percaya bahwa kata yang jujur, disampaikan dengan adab akan selalu menemukan jalannya. Ruang maya tidak harus menjadi medan kecurigaan, ia bisa menjadi ruang dialog, selama keadilan berdiri sebagai penjaga.
Dan malam itu, di balik layar yang sunyi, mulai Arif menulis. Ia, menulis bukan untuk melawan melainkan untuk mengingatkan. Ia menulis dengan harapan, agar kebijakan dan nurani dapat berjalan seiring, tanpa saling meniadakan.
Editor Lilis Suryani.
Oleh : Ummu Fahhala, S.Pd. (Prakstisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)
