Oleh : Dr. H. Momon S.Ag., M.Ag.
(Dosen PIAUD Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Edukasi PAUD
Tulisan ini membahas kiat dan panduan utama bagi para pendidik yang ingin menanamkan akidah yang benar pada anak - anak mereka, berdasarkan psikologi anak dan tahapan perkembangannya. Tulisan ini juga menjelaskan cara menyampaikan informasi dengan metode yang menarik, menggunakan contoh dari lingkungan sekitar serta situasi yang mereka alami sehari-hari.
Penerapan praktis untuk memperkenalkan anak pada banyak Asmaul Husna, menumbuhkan rasa cinta kepada Allah serta membangun ke depan hati dan pikiran mereka kepada-Nya.
Mengingat pentingnya masa kanak – kanak, perlu adanya upaya penyatuan untuk memperkenalkan akidah kepada anak dan mendekatkannya dengan dunia mereka, agar anak dapat mengenal Allah SWT., melalui metode ilmiah yang mudah, dapat dipahami dan menarik bagi mereka.
Pendidik memberikan pelajaran cara mengenalkan Allah SWT., kepada anak, sebagaimana firman Allah SWT :
اِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْخَلّٰقُ الْعَلِيْمُ
“Tuhan Sejatimulah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui (QS. Al Hijr [15]: 86).
Ia melihat keagungan dan ketinggian langit, hamparan serta keteguhan bumi, butiran udara beserta penyebarannya, kehidupan yang ia bawa dalam dirinya serta makhluk -makhluk disekitarnya yang juga bertasbih kepada Allah SWT., agar ia dapat mengenal-Nya.
ذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوْهُ ۚوَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ
“Itulah Allah Tuhanmu. Tidak ada tuhan selain Dia, pencipta segala sesuatu. Maka, sembahlah Dia. Dialah pemelihara segala sesuatu” (QS. Al An'am [6]: 102)
Jika seorang anak mengenal Allah, ia akan mencintai-Nya, dan jika ia mencintai-Nya, ia akan menaati-Nya. Anak mengenal Allah melalui firman-Nya :
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Allah memiliki Asmaulhusna (nama - nama yang terbaik). Maka, mohonlah kepada-Nya… (QS. Al A'raf [7]: 180).
Maka, ia mengimani keesaan-Nya, jiwa merasa tenang melihat kelembutan dan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya, ia mengagungkan Allah dalam dirinya saat melihat kekuatan dan kekuasaan-Nya serta selalu merasa melingkari oleh-Nya. Karena ia tahu, bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui segala sesuatu. Dengan demikian, akidah pun menyatu dalam kehidupannya dan membentuk akhlaknya.
Penulis berpendapat, bahwa waktu terbaik untuk memulai pendidikan akidah adalah sejak dini pada kehidupan anak. Menunda pembicaraan, tentang Allah kepada anak akan menyulitkan orang tua dalam menyampaikan informasi tersebut di kemudian hari. Dimulainya sejak dini membuat percakapan menjadi lebih alami, karena bersumber dari apa yang dilihat anak sehari-hari, seperti saat orang tua berdoa, shalat dan berzikir.
Semakin dini orang tua berbicara tentang Allah kepada anak, maka akan semakin mudah dan cepat bagi anak untuk merasa dekat dengan-Nya serta lebih responsif terhadap perintah dan larangan-Nya. Berapapun usianya, seorang anak memiliki kemampuan untuk menyerap keyakinan sejak sangat dini.
Selanjutnya contoh praktis untuk memperkenalkan anak pada nama - nama Allah dan sifat-sifat-Nya, seperti : Al-Hayyu Al-Qayyum (Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri), Al-Ahad Ash-Shamad (Maha Esa lagi Maha Tempat Menggantung), Asy-Syafi (Maha Penyembuhan), Al-Khaliq (Maha Pencipta), Al-Ghafur (Maha Pengampun), As-Sattir (Maha Menutupi Aib), dan lain sebagainya. Ini cara praktisnya menanamkan rasa cinta kepada Allah dalam diri seorang anak :
Pertama : Menyampaikan Sebuah Cerita
Dahulu kala, pada suatu hari, seorang anak kecil pergi bersama ayahnya berjalan-jalan ke sebuah taman indah yang dipenuhi bunga warna-warni dan pepohonan tinggi. Saat mereka sedang berjalan, anak itu berhenti dan bertanya kepada ayahnya; “Ayah, siapakah yang membuat bunga – bunga ini begitu indah ? Dan, siapakah yang mengirimkan matahari untuk mewujudkan hari kita?”
Sang ayah tersenyum, menggenggam tangan anaknya dan berkata; "Wahai anakku. Allah Subhanahu wa Ta'ala, adalah pencipta segala sesuatu yang indah yang kau lihat di sekitarmu. Dialah Allah yang sangat mencintai kita, yang telah mengaruniakan mata ini untuk melihat, hati ini untuk merasakan dan Dialah yang menjaga kita di setiap saat, bahkan ketika kita sedang tidur." Anak itu menatap langit yang cerah dan bertanya, "Apakah Tuhan melihatku sekarang, Ayah?"
Ayahnya menjawab dengan lembut, "Ya, Nak. Tuhan selalu bersamamu, mendengar ucapanmu, mengetahui apa yang ada di hatimu dan mencintai lebih dari kamu mencintai dirimu sendiri. Karena Tuhan begitu murah hati dan memberikan kita semua nikmat ini, maka kita pun mencintai-Nya, bersyukur atas pemberian-Nya dan melakukan hal - hal yang membuat-Nya ridha."
Anak itu merasakan kehangatan yang luar biasa di dalam hatinya. Sejak hari itu, ia mulai merasakan kehadiran Tuhan dalam segala hal yang indah, mencintai Tuhan dengan tulus serta bersyukur kepada-Nya dalam setiap doa dan setiap waktu.
Kedua : Dialog
Mulailah dengan mengajukan pertanyaan reflektif tentang nikmat Allah, seperti; "Siapa yang menciptakan matahari yang hangat ini untuk kita?" atau "Mengapa kita mencintai Allah ?". Biarkan anak mengungkapkan perasaan dan pikirannya dengan jujur tanpa berbicara, karena hal ini membuat merasa bahwa Allah dekat disekitarnya dan mendengarkannya.
Gunakan kisah – kisah dalam Al-Qur'an yang menonjolkan rahmat dan pemberian Allah, kemudian diskusikanlah dengan anak. Tanyakan kepadanya; "Bagaimana kamu melihat rahmat Allah dalam kisah ini?". Kaitan ini membantu anak memahami sifat - sifat keindahan dan keagungan Allah secara sederhana.
Jadikan dialog sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari “Anda”, baik saat melihat pemandangan alam yang indah maupun ketika terjadi situasi yang menuntut rasa bersyukur.
Mengingat peristiwa nyata dengan kasih sayang Tuhan menjadikan iman menjadi praktik yang hidup, bukan sekadar teori yang kaku. Pastikan bahasa percakapan penuh dengan kelembutan dan dorongan serta menghindari gaya menakut-nakuti.
Tujuannya adalah agar anak tumbuh dengan perasaan aman dan tenteram dalam kasih sayang Allah, yang membangun kesadaran internal untuk berbuat baik karena cinta, bukan karena takut.
Ketiga : Hasil Dzikir dari Mengucapkan Nama – Nama Allah yang Maha Indah
Memperkenalkan dzikir—yaitu mengingat Allah—kepada anak - anak dengan melafalkan Nama - Nama Terindah Allah ( Asmaul Husna ) sejak usia dini serta membantu mereka terbiasa dengan praktik ini, merupakan metode pendidikan spiritual yang sangat efektif. Praktik ini bukan sekadar soal menghafal, melainkan suatu proses penanaman nilai - nilai yang menumbuhkan kedekatan spiritual dan rasa cinta yang mendalam kepada Sang Pencipta.
Anak – anak, adalah pemikir konkret yang lebih mudah memahami sesuatu melalui contoh – contoh nyata atau ciri – ciri yang jelas. Ketika mereka menghafal dan memahami makna Asmaul Husna. Misal; mereka belajar bahwa Allah adalah Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan Ar-Rahiim (Yang Maha Penyayang) saat mereka merasakan kasih sayang dan belasan kasih dari orang tua serta orang – orang di sekitar mereka. Mereka mengenal Allah sebagai Al-Hafiz (Yang Melindungi) yang senantiasa menjaga mereka saat mereka bermain atau tidur. Dengan mengenal sifat – sifat ini, bahwa Allah terasa dekat dan nyata bagi mereka, bukan sekedar konsep abstrak, yang menjadi landasan tumbuhnya rasa cinta.
Keempat : Refleksi
Anak - anak secara alami sangat penasaran. Mendorong mereka untuk mengamati ciptaan Tuhan adalah cara paling nyata untuk menumbuhkan rasa takjub, yang merupakan pintu gerbang menuju cinta.
Saat melihat bunga – bunga mekar, hujan turun atau keindahan matahari terbenam, orang tua dapat memikirkan pemandangan – pemandangan ini dengan berkata; “Ciptaan Tuhan sungguh indah, bukan? Tuhan menciptakan warna - warna bunga - bunga ini, karena Dia sangat mencintai kita dan ingin kita bahagia.” Melalui rasa takjub terhadap ciptaan-Nya ini, hati seorang anak akan terdorong untuk mencintai Sang Pencipta.
Kelima : Penerapan Praktis dalam Kehidupan
Menanamkan kecintaan kepada Allah SWT., pada anak – anak tidak dapat dicapai hanya melalui pemahaman abstrak saja. Hal ini, membutuhkan langkah - langkah praktis yang konsisten, menyenangkan dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Saat Makan; Ingatkan mereka, bahwa makanan lezat ini adalah wujud kasih sayang Ar-Razzaq (Sang Pemberi Rezeki). Dorong anak "Anda" untuk mengucapkan 'Bismillah' dengan penuh keikhlasan, bukan sekadar sebagai kebiasaan belaka.
Ketika Anak - Anak Merasa Takut atau Sedih
Ajarkanlah mereka untuk memohon perlindungan kepada Al-Hafiz (Yang Melindungi) atau As-Salam (Yang Memberi Kedamaian), misalnya; dengan berkata, “Ayo, mari kita mohon perlindungan kepada Allah, Yang Maha Pemilik Segala Sesuatu.”
Pendekatan praktis ini akan tertanam kuat di hati seorang anak, jika diterapkan secara konsisten dan diteladani langsung oleh orang tua dalam dinamika kehidupan keluarga sehari-hari.
Simpulan
Menanamkan rasa cinta kepada Allah SWT., pada anak - anak merupakan landasan utama dalam membangun karakter spiritual yang kokoh dan bermakna. Proses ini tidak dicapai melalui paksaan atau teori yang kaku, melainkan melalui pendekatan yang menyentuh hati, pikiran, perasaan dan pengalaman sehari-hari mereka.
TM.
