Oleh : Dr. H. Hery Saparudin M.Pd.I.
Nur Ilahi
Manusia bisa memiliki banyak harta, tapi tetap merasa kekurangan. Rumah semakin luas, namun dada semakin sempit. Tabungan bertambah, namun kegelisahan tidak berkurang. Apa yang sesungguhnya sedang kita cari; banyaknya kepemilikan atau ketenteraman dalam menjalani kehidupan ?
Kekayaan Allah tidak terbatas, sedangkan kekayaan kita sangat terbatas. Apa pun yang kita genggam dapat berpindah tangan. Kesehatan dapat melemah, jabatan dapat berakhir dan harta dapat berkurang. Kesadaran ini seharusnya menjadikan kita lebih rendah hati, lebih bersyukur dan lebih berhati-hati menggunakan setiap pemberian-Nya.
Kedudukan Kita sebagai Hamba
Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
Artinya : “Wahai manusia ! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah, Dialah Yang Mahakaya, Maha Terpuji.” (QS.Fāṭir [35]: 15)
Ayat ini, mengembalikan manusia kepada kedudukannya sebagai hamba. Sebesar apa pun kekayaan seseorang, ia tetap membutuhkan Allah. Kita dapat membeli makanan, tetapi tidak dapat menjamin tubuh dapat menikmatinya. Kita dapat membangun rumah megah, namun ketenteraman didalamnya tetap harus dirawat dengan iman, kasih sayang dan akhlak. Oleh karena itu, memiliki harta patut disertai kesadaran bahwa kita diberi amanah untuk mengelolanya dan akan dimintai pertanggung jawaban atas penggunaannya.
Kekayaan Sejati adalah Kaya Hati
Rasulullah ﷺ bersabda :
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Artinya : “Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.” (HR. al-Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051; muttafaq 'alaih)
Hadis ini, mengajak kita memeriksa ukuran keberhasilan. Perbandingan berikut menggambarkan sikap batin, bukan penilaian terhadap seluruh orang kaya atau orang yang hidup sederhana.
Harta Berlimpah tetapi Hati Miskin — Penghasilan Sederhana dengan Hati Kaya
Tersiksa oleh iri dan rasa takut kehilangan — Merasa cukup, bersyukur dan tetap berbagi
Ingin menguasai milik orang lain — Menjaga kehormatan dan kejujuran
Kepemilikan bertambah, kegelisahan ikut bertambah — Ingin berkelimpahan berlebihan, hati lebih tenang.
Kaya hati, berarti mampu merasa cukup sambil terus berusaha. Kita bekerja dengan sungguh - sungguh, memperbaiki kehidupan keluarga dan mengejar kemajuan tanpa mengorbankan kejujuran.
TQN sebagai Jalan Minata Amanah
Dalam perspektif Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN), kekayaan dapat menjadi bagian dari pendidikan jiwa. Zikir, muhasabah dan adab menjadi jalan menata hubungan antara keinginan, usaha serta penghambaan kepada Allah. Kesadaran akan Allah perlu hadir di tempat bekerja, ruang usaha, meja perundingan dan kehidupan keluarga.
Setelah sekian lama berzikir, apakah kita semakin jujur saat memperoleh uang ? Semakin tertib menunaikan kewajiban dan semakin ringan membantu sesama ? Pertanyaan ini menjadi bahan muhasabah, agar pelatihan ruhani membuahkan hasil dalam tindakan sehari-hari.
Saat memperoleh keuntungan, kita bersyukur. Saat mengalami kerugian, kita mulai berusaha dan bersabar. Saat menerima kepercayaan, kita menunaikan amanah. Dengan demikian, zikir menguatkan tanggung jawab dan adab dalam mengelola rezeki.
Tiga Arah Kekayaan Sejati
Kesatu : Kaya Ilmu
Ilmu membantu kita membedakan halal dan haram, memahami kewajiban serta mengelola kehidupan dengan bijaksana.
Kedua : Kaya Hati
Kelapangan jiwa menjaga kita, agar tidak sombong ketika berhasil dan tidak putus asa ketika menghadapi kesulitan.
Ketiga : Kaya Harta
Diridhoi Allah, harta diusahakan dengan cara halal, digunakan untuk menjaga keluarga, menunaikan kewajiban dan membantu sesama.
Allah mengarahkan manusia untuk menggunakan karunia-Nya :
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Artinya : “Carilah dengan apa yang telah Allah karuniakan kepadamu negeri akhirat, tetapi jangan lupakan bagianmu di dunia. Berbuatlah baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah melakukan kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang - orang yang melakukan kerusakan.” (Terjemahan makna QS. al-Qaṣaṣ [28]: 77)
Rasulullah ﷺ juga bersabda :
الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى
Artinya : “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (Petikan HR. al-Bukhari no. 1429 dan Muslim no. 1033; muttafaq 'alaih)
Semangat meraih kelapangan rezeki dapat menjadi niat yang mulia, apabila dilakukan dengan cara halal disertai tanggung jawab dan diarahkan untuk memberi manfaat.
Berusahalah agar rezeki bertambah, ilmu berkembang dan hati semakin luas
Saat Allah menitipkan kelapangan, jadikanlah jalan memperbanyak amal. Saat keadaan terasa sempit, teruslah berikhtiar dan minta pertolongan-Nya.
Doa
غِنَاكَ يَا اللَّهُ مُطْلَقٌ، وَغِنَانَا مُقَيَّدٌ،
فَنَسْأَلُكَ بِغِنَاكَ الْمُطْلَقِ،
أَنْ تُغْنِيَنَا غِنًى لَا فَقْرَ بَعْدَهُ أَبَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ،
بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
Ya Allah, kekayaan-Mu tidak terbatas, sedangkan kekayaan kami sangat terbatas. Karuniakanlah kepada kami kekayaan yang sejati; kaya ilmu, kaya hati dan kaya harta yang Engkau ridai. Jauhkanlah kami dari kefakiran serta jadikanlah seluruh karunia-Mu sebagai bekal untuk beribadah kepada-Mu,” ya Rabb. Amin.
Rujukan : Al-Qur'an, Fāṭir [35]: 15 dan al-Qaṣaṣ [28] : 77 (quran.com/35/15; quran.com/28/77); Ṣaḥīḥ al-Bukhari no. 6446 dan 1429; Ṣaḥīḥ Muslim no. 1051 dan 1033 (sunnah.com). Penomoran hadis mengikuti referensi tersebut.
TM.
