Oleh: Ummu Azmi
Kecerdasan buatan (AI) mulai diperkenalkan pada pertengahan abad ke-20 dan mengalami perkembangan sangat pesat. AI telah mengubah banyak hal dalam kehidupan kita. Namun, semakin cerdas sebuah teknologi akan semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya. Bahkan sampai para peneliti AI, termasuk "Bapak AI" dunia mewanti-wanti pemerintah untuk bersiap menghadapi "ledakan kecerdasan" AI.
Sebuah riset berjudul "Bagaimana jika otomatisasi R&D AI memicu ledakan kecerdasan?" diterbitkan di jurnal Cambridge Programme on AI Science & Policy (CASP). Riset ini melibatkan 22 peneliti termasuk Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton yang dianggap sebagai bapak AI modern. Mereka mendesak para pembuat kebijakan untuk bertindak segera sebelum terjadi kemajuan yang tak terkendali dari teknologi tersebut.
(CNNIndonesia,30 September 2026)
Teknologi AI telah banyak memberikan manfaat untuk kehidupan manusia. Misalnya di bidang kesehatan dan keuangan. Kini AI sudah bisa mendeteksi penyakit lebih awal, mendukung penemuan obat,menganalisis risiko keuangan, sampai mampu membantu pengambilan keputusan.
Selain dampak positif, AI juga memberikan dampak negatif, yaitu berupa ancaman siber, hilangnya kendali dan keterlibatan manusia serta ancaman perang antar negara.
Amerika Serikat dan China hampir terlibat "Baku Hantam" karena ulah AI. Ini terjadi akibat laporan intelijen yang dibuat dengan bantuan AI hampir membuat militer AS mencegat kapal China di Timur Tengah karena di duga membawa komponen senjata nuklir.
Perkembangan teknologi AI dapat memberikan kemudahan sekaligus menimbulkan bahaya bagi manusia.
Dalam proses belajar mengajar misalnya. Guru bisa menemukan pengembangan bahan ajar ataupun bisa menganalisis gaya belajar siswa. Begitupun siswa, mereka bisa mengerjakan soal yang sulit dengan bantuan AI ini. Namun, ini bisa menimbulkan ketergantungan. Banyak siswa yang pada akhirnya malas membaca, menulis, menghitung karena semuanya sudah tersedia dalam AI. Daya kritis juga melemah dan akhirnya menghilang.
Penggunaan AI bisa untuk kebaikan tapi juga sangat mungkin digunakan untuk kejahatan. AI banyak dipakai oleh pelaku kejahatan untuk menipu, meretas, mencuri identitas, membahayakan keamanan orang lain. Dapat dipastikan ledakan kecerdasan buatan tanpa kendali akidah dan syariat islam bisa beresiko pada kehancuran kehidupan manusia.
Allah SWT telah menciptakan manusia dengan sempurna. Manusia diberikan kemuliaan akal untuk memahami tanda-tanda kekuasaan Allah,sekaligus untuk bekal dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin di bumi,sehingga teknologi yang dibuat, termasuk AI bisa dikelola untuk kemaslahatan umat manusia dan tidak menjadi malapetaka di kemudian hari.
Islam sudah menetapkan hukum yang tegas dalam segala bentuk hasil pemikiran manusia. Ada yang termasuk ke dalam hadarah dan ada juga yang termasuk ke dalam madaniyah. Hadarah berbentuk pemikiran dan itu dipengaruhi ideologi tertentu, sehingga negara tidak akan mengambilnya. Sedangkan madaniyah bersifat netral dan berbentuk fisik, contohnya seperti alat transportasi maupun barang-barang elektronik, sehingga negara boleh mengambilnya dan mengembangkannya untuk kemajuan dan kemaslahatan rakyat sesuai dengan hukum syara.
AI adalah buah perkembangan teknologi buatan manusia, sehingga termasuk madaniyah dan boleh diambil untuk kemaslahatan kaum muslimin. Namun, AI juga dipengaruhi oleh berbagai informasi, pemikiran dan ideologi yang diproses menjadi satu keputusan. Sehingga kaum muslimin harus memilah agar AI tidak mempengaruhi akidah dan tidak bertentangan dengan syariat.
Alhasil AI ditangan manusia yang memiliki akidah yang kokoh dan memiliki ketundukan pada syariat akan memberikan kemaslahatan bagi manusia. Sebaliknya, jika AI berada di tangan manusia kafir akan mendatangkan bahaya dan kerusakan di bumi. Maka, sistem kehidupan manusia harus mau diatur dengan syariat islam, agar rahmatan lil 'alamin bisa terwujud.
Wallahu 'alam bishawab.
