Deskripsi Masalah :
Sudah menjadi hal yang biasa dikalangan santri ataupun non santri memelihara kuku, sementara ini belum di jumpai dalil yang jelas mengenai hal itu.
Pertanyaan :
1. Adakah dalil yang menjelaskan tentang diperbolehkannya memelihara kuku?
Jawaban :
1. Tidak ada. Bahkan memanjangkan kuku hukumnya makruh
Referensi :
(الخلاصة في فقه الأقليات جـ ٤ صـ ٥٩)
تطويل الأظافر مكروه إن لم يكن محرماً لأن النبي صلى الله عليه وقّت في تقليم الأظافر ألا تترك فوق أربعين يوماً . رواه مسلم في الطهارة.
(تيسير العلام شرح عمدة الحكام- للبسام جـ ١ صـ ١٤)
قال ابن حجر: يتعلق بهذه الخصال فوائد دينية ودنيوية منها تحسين الهيئة وتنظيف البدن والاحتياط للطهارة، ومخالفة شعار الكفار، وامتثال أمر الشارع. ا.هـ. ٧- أن ما يفعله الآن الشبان والشابات من تطويل الأظافر، وما يفعله الذكور من إعفاء الشوارب، من الأمور الممنوعة شرعا، المستقبحة عقلا وذوقا. وأن الدين الإسلامي لا يأمر إلا بكل جميل ولا ينهى إلا عن كل قبيح.
(Al-Khulasa fi Fiqh Al 'Qoliati/ Yurisprudensi Minoritas, juz 4, hal. 59)
Merawat kuku tidak disukai jika tidak dilarang karena Nabi Muhammad SAW., telah menetapkan bahwa pemotongan kuku tidak boleh dibiarkan lebih dari empat puluh hari. Diriwayatkan oleh Muslim secara suci.
(Tayseer Al-Alam Sharh Umdatu Al-Hakam - oleh Al-Basam, juz 1, hal. 41)
Ibnu Hajar berkata : Yang berhubungan dengan sifat-sifat tersebut adalah manfaat Agama dan duniawi, antara lain memperbaiki penampilan, membersihkan badan, menjaga kesucian, tidak menta'ati slogan-slogan orang kafir, dan menta'ati perintah hukum. (hal: 7);
- Apa yang dilakukan para pemuda dan pemudi saat ini ? Dalam hal memanjangkan kuku, dan apa yang dilakukan laki-laki dalam menumbuhkan kumis, termasuk perbuatan yang diharamkan dalam syariat Islam dan menjijikan akal dan selera Agama Islam hanya memerintahkan segala sesuatu yang indah dan hanya melarang segala sesuatu yang jelek;
Dr. KH. Aep Tata Surya SH,. MM,. MBA., beserta Istri Tini Suhartini SPd, Silaturahim ke Almukarom Dr. KH. Abu Bakar Sidik MAg,. Pengasuh Pontren Al-Mustariyah Sukabumi.
Tanya jawab kitab kuning ( Bhasthul Kutub Turats):
Jawab Ust.H. Dede Saepudin SAg ;
1. Memotong Kuku Termasuk Sunah Fitrah
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
«الْفِطْرَةُ خَمْسٌ - أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ -: الْخِتَانُ، وَالاسْتِحْدَادُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الإِبْطِ»
(HR. Bukhari no. 5889 dan Muslim no. 257)
Terjemahan:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Fitrah itu ada lima—atau lima hal yang termasuk fitrah—: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak."
2. Batas Maksimal Membiarkan Kuku (40 Hari)
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
«وُقِّتَ لَنَا فِي قَصِّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيمِ الأَظْفَارِ، وَنَتْفِ الإِبْطِ، وَحَلْقِ الْعَانَةِ، أَنْ لاَ نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً»
(HR. Muslim no. 258)
Terjemahan :
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata ; "Diberi waktu bagi kami dalam memotong kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan agar kami tidak membiarkannya lebih dari empat puluh malam."
Pendapat para Mu'alim / Akademisi Sepakat :
Sunnah memotong kuku dalam Islam
Justru Islam menganjurkan memotong kuku secara rutin :
“Termasuk sunnah - sunnah fitrah, adalah mencukur bulu kemaluan, memotong kuku dan mencukur kumis.”
(HR. Bukhari & Muslim) ;
Dan dalam riwayat lain :
“Ditetapkan waktu bagi kami dalam memotong kumis, menggunting kuku, mencabut rambut ketiak, dan mencukur rambut kemaluan agar kami tidak membiarkannya lebih dari 40 malam.”
(HR. Muslim).
Para ulama menyarankan :
Jangan membiarkan kuku lebih dari 40 hari tanpa dipotong;
Sebagian ulama menganjurkan memotong kuku pada hari Jumat sebagai waktu utama, meski tidak wajib;
Kesimpulan:
Tidak ada ayat Al-Qur’an yang melarang memotong kuku secara umum.
Larangan memotong kuku dalam hadis hanya khusus bagi orang yang berniat berkurban, sejak 1 Dzulhijjah sampai hewan kurbannya disembelih;
Kurban, memotong kuku justru dianjurkan sebagai bagian dari kebersihan dan sunnah fitrah, tanpa larangan khusus terkait waktu (siang/malam, hari tertentu)
Penulis : Dr. KH. Aep Tata Suryana SH,. MM,. MBA.