Oleh : H. Hidayat S.Pd.I,. MPd.
Dakwah & Pendidikan Islam
Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain. Ada seseorang yang diam – diam membantu tetangganya, seorang ibu yang tidak pernah lelah mendoakan anak-anaknya dan seorang guru yang dengan sabar membimbing muridnya tanpa mengharapkan penghargaan.
Mungkin tidak ada yang memberikan pujian. Tidak ada pula yang mengabadikannya melalui foto atau membagikannya di media sosial. Namun, semua kebaikan itu tetap memiliki nilai di hadapan Allah Swt.
Di tengah kehidupan yang semakin terbuka, kita terkadang merasa bahwa sesuatu yang baru dianggap berarti jika dilihat dan diakui orang lain. Padahal, dalam ajaran Islam, nilai suatu amal tidak ditentukan oleh banyaknya manusia yang menyaksikan, melainkan oleh keikhlasan, niat, dan kesesuaiannya dengan tutunan agama.
Kebaikan yang tidak terlihat oleh manusia bukan berarti tidak bernilai. Sebab, Allah Maha Mengetahui setiap niat dan perbuatan hamba-Nya.
Kebaikan Kecil yang Bernilai Besar
Sering kali kita berasumsi bahwa kebaikan harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar. Padahal, tindakan sederhana dapat mendatangkan manfaat yang sangat berarti bagi kehidupan orang lain.
Menyapa tetangga dengan ramah, membantu orang tua membawa barang, mendengarkan keluh kesah sahabat atau memberikan makanan kepada seseorang yang membutuhkan merupakan contoh kebaikan yang dapat dilakukan siapa saja.
Allah SWT. berfirman dalam Surat Az-Zalzalah ayat 7 :
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
Artinya : “Siapapun yang melakukan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.”
Ayat tersebut mengajarkan bahwa sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan manusia tidak akan merugikan biaya Allah.
" Oleh karena itu, jangan meremehkan kesempatan berbuat baik. Bisa jadi, sesuatu yang kita anggap sederhana justru menghadirkan kebahagiaan besar bagi orang lain ".
Keikhlasan Menjadikan Amal Bermakna
Salah satu nilai utama dalam pendidikan akhlak Islam, adalah keikhlasan. Ikhlas berarti melakukan amal dengan mengharapkan keridaan Allah, bukan semata-mata mencari perhatian atau penghargaan manusia.
Allah Swt., berfirman : dalam Surat Al-Insan ayat 9 :
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
Artinya : “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah. Kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.”
Pesan ayat ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat. Ketika membantu seseorang, hendaknya kita tidak menjadikan ucapan terima kasih sebagai tujuan utama.
Tentu saja, menghargai bantuan orang lain tetap merupakan akhlak yang baik. Namun, seseorang yang berusaha ikhlas tidak akan menjadikan penolakan yang diberikan sebagai alasan untuk berhenti berbuat baik. Keikhlasan juga perlu dibor secara terus menerus. Sebab, manusia memiliki keinginan untuk dihargai. Keinginan tersebut wajar, tetapi perlu diarahkan agar tidak menguasai tujuan beramal.
Tidak Semua Kebaikan Harus Dipublikasikan
Perkembangan teknologi membuat berbagai kegiatan sosial semakin mudah dibagikan kepada masyarakat. Dokumentasi bantuan, kegiatan sedekah dan aksi kemanusiaan dapat memberikan inspirasi serta mendorong kepedulian bersama. Namun, tidak semua kebaikan harus diperlihatkan.
Dalam surat Al-Baqarah ayat 271, Allah menjelaskan bahwa menampakkan sedekah merupakan perbuatan baik, sedangkan menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang - orang fakir adalah lebih baik bagi pemberinya. Rasulullah Saw., juga menjelaskan keutamaan orang yang bersedekah secara tersembunyi dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari nomor 1423.
Ajaran tersebut, bukan berarti melarang publikasi kegiatan sosial. Ada kalanya dokumentasi diperlukan untuk pertanggungjawaban dan mengajak masyarakat membantu sesama. Hal yang terpenting adalah menjaga niat, mempertimbangkan manfaat serta menghormati martabat penerima bantuan.
Jangan sampai seseorang merasa malu karena kesulitannya diungkapkan kepada banyak orang. Bantuan yang baik seharusnya menghadirkan ketenangan, bukan menambah beban perasaan.
Belajar Ikhlas dari Kehidupan Sehari-hari
Dalam keluarga, keikhlasan dapat terlihat dari mengorbankan orang tua yang bekerja dan mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.
Dilingkungan pendidikan, keikhlasan diwujudkan melalui guru yang sabar membimbing peserta didik, termasuk mereka yang membutuhkan perhatian khusus.
Sementara itu, dalam kehidupan masyarakat, keikhlasan hadir melalui kepedulian terhadap tetangga, membantu orang yang sakit serta menjaga hubungan baik meskipun terdapat perbedaan pandangan.
Semua tindakan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan akhlak tidak cukup hanya diajarkan melalui nasihat. Nilai - nilai Islam perlu dihidupkan kembali melalui keteladanan dan kebiasaan sehari-hari. Kita tidak harus menjadi orang terkenal untuk memberikan manfaat. Kita juga tidak perlu menunggu memiliki harta berlimpah untuk mulai membantu.
Allah Mengetahui Apa yang Tidak Dilihat Manusia
Ada kalanya seseorang merasa kecewa, karena kebaikannya tidak dihargai. Ia telah membantu dengan tulus, tetapi orang lain seolah-olah tidak memperhatikan pengorbanannya. Perasaan demikian merupakan sesuatu yang manusiawi. Namun, jangan sampai mengecewakan membuat hati kehilangan semangat untuk terus berbuat baik.
Manusia memiliki keterbatasan dalam mengetahui niat dan perjuangan orang lain. Sebaliknya, Allah mengetahui setiap usaha yang dilakukan hamba-Nya. Oleh karena itu, marilah belajar berbuat kebaikan dengan hati yang lapang. Tetaplah membantu sesuai kemampuan, tanpa mengabaikan tanggung jawab kepada diri sendiri dan keluarga.
Pada akhirnya, ukuran kehidupan yang bermakna bukan hanya seberapa banyak orang mengenal kita, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan kepada sesama.
Teruslah berbuat baik meskipun tidak semua orang melihatnya. Sebab, kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas tidak memerlukan tepuk tangan manusia untuk menjadi bernilai di hadapan Allah. “Wallahu a’lam bish-shawab.
Rujukan dalil : QS. Az-Zalzalah [99]: 7; QS. Al-Insan [76]: 9; QS. Al-Baqarah [2]: 271; Shahih al-Bukhari, hadis no. 1423.
TM.
