Oleh Dr. Srie Muldrianto MPd. (Aktivis Bela Negara RI)
Opini Publik
Dalam politik kita dapat merujuk pada David Beetham (1991) dalam buku “The Legitimation of Power” dan Imam Al Mawardi dalam Al Ahkam As Sulthaniyah. Yang menarik, adalah pendapat Imam Ruhullah Khomeini pendiri Republik Islam Iran negara unik yang memiliki konsep Wilayatul Faqih (1979). Dari ketiga tokoh tersebut, membahas terkait syarat suatu negara dapat langgeng dan berkuasa.
Dalam suatu Pemerintahan, agar dapat berkuasa paling tidak ada dua syarat yaitu Masyruiyat (legitimasi) / sah secara hukum dan Maqbuliyat (Akseptabilitas). Tanpa salah satunya, maka kekuasaan suatu pemerintahan akan mudah goyah dan terjatuh. Oleh karena itu, para politisi harus dapat memahami aturan atau hukum yang berlaku.
Seorang politisi harus dapat memberikan dukungan dari rakyat, agar apa yang direncanakan dapat diimplementasikan dan dapat mendukung atau melibatkan partisipasi rakyat secara besar-besaran. Tidak salah jika para politisi harus dapat mengambil hati para pendukungnya, mengenalkan dan merasakan suasana penderita rakyat dapat mendekatkan rakyat dengan pemimpinnya.
Pertanyaannya mengapa kadang-kadang suatu Pemerintahan yang tidak sah dapat bertahan cukup lama? Suatu pemerintahan yang tidak sah dapat bertahan dan berkuasa cukup lama menurut Vaclav Havel dalam buku The Power of Powerless (1978), bukan hanya karena didukung oleh kekuatan militer atau polisi. Sebuah negara yang tidak sah, biasanya dzolim dan melakukan ringkasan dalam upaya mempertahankan kedudukannya. Kebohongan yang dilakukan pemimpin dzolim dengan cara meminta dukungan rakyatnya atau yang dipimpinnya untuk berbohong atau meminta rakyatnya untuk bersama-sama hidup dalam ketidakjujuran.
Havel bilang, bahwa sebetulnya apa yang disampaikan atau ditampilkan oleh rakyat dalam mendukung pemerintah adalah bukan karena mereka percaya tapi karena semua orang pura - pura percaya. Mengapa orang pura - pura percaya ? Karena, mereka takut oleh penguasa dan tidak mau keluar dari zona nyaman.
Untuk melawan kezaliman ini Havel memberi saran agar; hiduplah dalam kebenaran, bangun kekuatan paralel dan lawan bukan dengan politik tapi dengan moral. Menurut Havel inilah tiga kekuatan yang dimiliki, oleh orang - orang yang tak berkuasa.
Hidup dalam Kebenaran (Hidup dalam Kebenaran
Solusi dalam melawan situasi yang dipenuhi ketidakjujuran, adalah bukan melakukan kudeta tetapi melakukan kejujuran dan jangan ikut mendukung ketidakjujuran, misalnya; kita tidak ikut-ikutan mengkampanyekan sesuatu yang tidak jujur, buruh bersatu mendukung pemerintah dan orang lain.
Bangun Kekuatan Paralel
Orang yang tidak mendukung pemerintah, adalah orang - orang yang tidak mempunyai senjata, partai, media atau uang tetapi mereka mempunyai kebenaran. Oleh karena itu, harus membangun komunitas orang - orang yang jujur dan tulus.
Bangun struktur paralel yang berbeda dengan struktur pemerintah ! Seperti ekonomi paralel, budaya paralel, pendidikan paralel sehingga rakyat punya dunia sendiri yang dipercaya oleh rakyat lain. Ketika pemerintah resmi runtuh, maka komunitas paralel inilah yang akan menggantikannya. Peristiwa ini mirip dengan apa yang dilakukan Khomeini dalam membangun Hauzah (semacam pesantren). Mereka punya dana sendiri yang dikelola Ulama, punya sistem pendidikan sendiri seperti Hauzah, punya media sendiri dan budaya sendiri sehingga ketika Reza Pahlevi terguling dan kabur ke Amerika Struktur pemerintahan baru dibentuk dengan konsep Wilayatul Faqih. Tapi sebelum itu, pasca tergulingnya Reza Pahlevi mengadakan referendum yang hasilnya lebih dari 90% dukungan rakyat memilih sistem pemerintahan Islam (Maqbuliyat)
Lawan dengan Moral
Havel mengatakan, bahwa jangan melawan politik dengan partai karena menjadikan kita masuk ke dunia yang kotor tapi lawanlah dengan moral ! Bukan politik. Karena, “sebenarnya politik yang sejati adalah merawat sesama”.
TM.
