Oleh : Dr. H. Hery Saparudin, M.Pd.I
NUR ILAHI
Generasi milenial tumbuh di tengah perkembangan teknologi, media sosial, keterbukaan informasi, perubahan gaya hidup dan kompetisi yang sangat cepat. Perubahan tersebut, melahirkan banyak peluang; akses ilmu semakin mudah, komunikasi semakin luas, kreativitas berkembang dan ruang dakwah semakin terbuka. Namun, perubahan yang sama juga dapat membentuk pola pikir serba instan, materialistis, konsumtif, mudah mencari pengakuan, reaktif terhadap informasi serta menjadikan ukuran keberhasilan hanya pada popularitas, kekayaan, jabatan dan penampilan.
Dalam perspektif Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN), perubahan pola pikir tidak cukup dilakukan pada tingkat pengetahuan. Perubahan harus menyentuh hati, niat, kesadaran, pengendalian hawa nafsu dan akhlak. Karena itu, TQN dapat dipahami sebagai salah satu jalan pendidikan ruhani yang mengarahkan manusia dari pola pikir yang hanya berpusat pada dunia menuju pola pikir yang agamis: Menjadikan Allah SWT., sebagai orientasi, syariat sebagai pedoman, dzikir sebagai penghidup hati, ilmu sebagai cahaya dan akhlak sebagai buahnya.
Pola pikir agamis bukan berarti menolak kemajuan, teknologi, pendidikan, ekonomi atau budaya modern. Pola pikir agamis, adalah cara memandang, menilai, memilih dan bertindak berdasarkan iman, nilai syariat, kesadaran kepada Allah SWT., dan pertimbangan akhlak. Seorang milenial yang agamis tetap dapat aktif di dunia digital, berprestasi, berbisnis, berkarya dan berorganisasi, tetapi aktivitasnya diarahkan oleh nilai halal-haram, benar-salah, manfaat-mudarat, serta ridha Allah.
Dengan demikian, tujuan TQN bukan membuat generasi muda menjauh dari zaman, melainkan membentuk generasi yang mampu hidup di zamannya tanpa kehilangan arah spiritualnya.
Landasan Al-Qur'an tentang Perubahan Diri
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra'd [13]: 11).
Ayat ini memberikan prinsip, bahwa perubahan sosial harus dimulai dari perubahan internal. Dalam konteks TQN, perubahan internal mencakup pembenahan niat, pembersihan hati, pengendalian nafsu, pembiasaan dzikir, muhasabah dan pembentukan akhlak. Generasi milenial tidak cukup hanya menjadi generasi yang melek teknologi; mereka perlu menjadi generasi yang sadar tujuan hidup.
Dzikir sebagai Dasar Transformasi Pola Pikir
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya : “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. ” (QS. Ar-Ra'd [13]: 28). Dzikir dalam pendidikan ruhani TQN, berfungsi mengembalikan pusat perhatian manusia kepada Allah. Ketika hati terbiasa mengingat Allah, keputusan hidup tidak semata-mata ditentukan oleh tren, tekanan lingkungan atau keinginan mendapatkan pengakuan. Dzikir melatih kesadaran, agar seseorang bertanya : Apakah ini diridhai Allah ? Apakah ini bermanfaat ? Apakah tindakan ini mendekatkan atau menjauhkan saya dari-Nya ?
Pencitraan Menuju Keikhlasan
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya : “Sesungguhnya amal - amal itu bergantung pada niat dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. ” (Muttafaq 'alaih: HR. al-Bukhari dan Muslim).
Budaya digital dapat mendorong seseorang melakukan sesuatu karena ingin dilihat, dipuji, disukai atau dianggap berhasil. TQN, mengarahkan manusia kembali kepada ikhlas. Bukan berarti semua aktivitas harus disembunyikan, tetapi niat harus terus diperiksa. Media sosial dapat menjadi sarana dakwah dan pendidikan selama tidak menjadikan pujian manusia sebagai tujuan utama.
Kesadaran Kamera Menuju Muraqabah
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Artinya : “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. ” (Hadis Jibril, muttafaq 'alaih: HR. al-Bukhari dan Muslim).
Muraqabah membentuk pola pikir, bahwa pengawasan Allah lebih utama daripada penilaian manusia. Diruang digital, seseorang mungkin dapat menghapus jejak, menyembunyikan identitas atau menampilkan citra tertentu. Tetapi kesadaran ihsan mengajarkan, bahwa tidak ada ruang yang berada di luar pengetahuan Allah. Inilah fondasi integritas; baik ketika dilihat maupun ketika tidak dilihat manusia.
FOMO dan Perbandingan Sosial Menuju Qana'ah dan Syukur
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ
Artinya : “Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka. ” (QS. Taha [20]: 131).
Media sosial membuat kehidupan orang lain mudah terlihat, tetapi yang terlihat biasanya hanya sebagian kecil dari kenyataan. TQN mendidik hati melalui qana'ah, syukur, sabar dan tawakkal. Qana'ah bukan kemalasan. Seseorang tetap berusaha dan berprestasi, tetapi tidak menjadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk membenci dirinya sendiri atau menghalalkan segala cara.
Budaya Instan Menuju Mujahadah dan Istiqamah
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
Artinya : “Orang - orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar - benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-'Ankabut [29]: 69).
Teknologi membiasakan manusia memperoleh banyak hal dengan cepat. Akan tetapi, ilmu, kedewasaan, akhlak dan kematangan ruhani tidak lahir secara instan. TQN menekankan latihan, disiplin, mujahadah al-nafs, istiqamah dalam ibadah dan kesungguhan memperbaiki diri. Pola pikir “saya ingin sekarang” diarahkan menjadi “saya harus menjalani proses yang benar”.
Informasi Viral Menuju Tabayyun
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya. ” (QS. Al-Hujurat [49]: 6).
Pola pikir agamis tidak mudah percaya hanya karena sebuah informasi viral. Prinsip tabayyun mengajarkan verifikasi, kehati-hatian dan tanggung jawab. Seorang yang terbiasa berdzikir semestinya tidak hanya tenang ketika beribadah, tetapi juga tenang ketika menerima berita; tidak tergesa-gesa menuduh, membagikan atau menghakimi.
Menjaga Lisan Menjadi Menjaga Lisan dan Jari
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya : “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. ” (Muttafaq 'alaih: HR. al-Bukhari dan Muslim).
Pada era digital, lisan memiliki perluasan bentuk; tulisan, komentar, unggahan, pesan, video dan konten yang dibagikan. Karena itu, prinsip hadist ini relevan sebagai etika komunikasi digital. Menahan jari dari komentar yang menghina, fitnah, ghibah, provokasi dan penyebaran berita palsu merupakan bagian dari latihan akhlak.
Emosi Reaktif Menuju Pengendalian Diri
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Artinya : “Orang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Sesungguhnya orang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah. ”(Muttafaq 'alaih: HR. al-Bukhari dan Muslim).
TQN, mengajarkan perjuangan menghadapi nafsu. Dalam kehidupan milenial, mujahadah itu tampak ketika seseorang mampu menahan kemarahan, tidak langsung membalas komentar, tidak mudah terprovokasi serta mampu membedakan antara membela kebenaran dan melampiaskan ego.
Individualisme Menuju Ukhuwah dan Kepedulian
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Artinya : “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (Muttafaq 'alaih: HR. al-Bukhari dan Muslim).
Kedalaman spiritual tidak boleh berhenti pada pengalaman pribadi. Dzikir semestinya melahirkan kasih sayang, kepedulian, penghormatan, pelayanan dan persaudaraan. Semakin dekat kepada Allah, seseorang seharusnya semakin baik akhlaknya kepada manusia.
Pola pikir yang perlu diarahkan
Transformasi agamis melalui nilai TQN ;
- Mengejar validasi manusia - Mengejar ridha Allah
- Pencitraan berlebihan - Ikhlas dan kejujuran diri
- FOMO dan membandingkan diri - Qana'ah, syukur, dan tawakkal
- Serba instan - Mujahadah, sabar dan istiqamah
- Mudah percaya informasi viral - Tabayyun dan kehati-hatian
- Reaktif dan mudah marah - Sabar dan pengendalian nafsu
- Pamer keberhasilan - Tawadhu' dan syukur
- Konsumtif/materialistis - Zuhud proporsional dan prioritas akhirat
- Aktif digital tanpa batas - Disiplin waktu dan kesadaran ruhani
- Personal branding sebagai tujuan - Akhlak dan manfaat sebagai orientasi
- Takut tidak dikenal manusia - Muraqabah : sadar Allah mengetahui
Formula Pendidikan Ruhani TQN bagi Generasi Milenial
Transformasi pola pikir dapat dirumuskan dalam enam tahap :
DZIKIR → MURAQABAH → MUHASABAH → MUJAHADAH → TAZKIYATUN NAFS → AKHLAKUL KARIMAH.
1. Dzikir : Menghidupkan hati dan mengembalikan orientasi kepada Allah.
2. Muraqabah : Membangun kesadaran bahwa Allah selalu mengetahui keadaan hamba.
3. Muhasabah : Menilai kembali niat, ucapan, perilaku, penggunaan waktu dan aktivitas digital.
4. Mujahadah : Melatih kemampuan melawan dorongan nafsu yang merusak.
5. Tazkiyatun nafs : Membersihkan hati dari riya', ujub, takabbur, hasad dan cinta dunia yang berlebihan.
6. Akhlakul karimah : Menjadi buah nyata dari proses spiritual; jujur, santun, amanah, rendah hati, disiplin, dan bermanfaat.
Indikator Pola Pikir Milenial yang Agamis Generasi milenial dapat disebut mengalami transformasi pola pikir secara agamis, apabila teknologi tidak lagi menguasai dirinya, tetapi digunakan sebagai alat kebaikan; keputusan hidup mempertimbangkan ridha Allah; keberhasilan tidak hanya diukur dari materi; informasi disikapi dengan tabayyun; perbedaan dihadapi dengan adab; ibadah membentuk akhlak; ilmu mendorong kerendahan hati; dan aktivitas sosial melahirkan manfaat bagi sesama.
Relevansi TQN dengan Pendidikan Tinggi dan Dakwah Digital Nilai - nilai TQN dapat dipadukan dengan pendidikan tinggi melalui pembinaan karakter, literasi digital beretika, budaya akademik yang jujur, disiplin ibadah, penguatan adab kepada guru dan sesama serta kegiatan sosial.
Dalam dakwah digital, TQN dapat mendorong lahirnya konten yang menyejukkan, argumentatif, beradab, tidak provokatif dan berorientasi pada perbaikan manusia.
Dengan pendekatan demikian, agama tidak diposisikan sebagai lawan modernitas. Agama justru menjadi fondasi etik, agar kemajuan teknologi tetap berada dalam koridor kemanusiaan dan ketuhanan.
Simpulan
Perspektif TQN terhadap perubahan pola pikir generasi milenial menuju pola pikir yang agamis bertumpu pada transformasi batin. TQN tidak mengajarkan generasi milenial untuk meninggalkan dunia modern, tetapi membimbing mereka agar modernitas tidak menghilangkan orientasi kepada Allah. Dzikir menata hati, muraqabah membangun integritas, muhasabah memperbaiki diri, mujahadah mengendalikan nafsu, tazkiyatun nafs membersihkan jiwa dan akhlakul karimah menjadi hasil akhirnya.
Dengan demikian, pola pikir agamis bukan pola pikir yang anti-teknologi, melainkan pola pikir yang mampu menempatkan teknologi sebagai sarana, bukan tujuan; dunia sebagai ladang amal, bukan pusat penghambaan; dan keberhasilan sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Allah serta semakin bermanfaat bagi manusia.
“TQN tidak mengajak generasi milenial meninggalkan dunia digital, tetapi membimbing mereka agar tidak kehilangan Allah di tengah dunia digital.”
Referensi Pokok
• Al-Qur'an al-Karim: QS. Ar-Ra'd [13]: 11 dan 28; QS. Taha [20]: 131; QS. Al-'Ankabut [29]: 69; QS. Al-Hujurat [49]: 6.
• Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma'il. Al-Jami' al-Sahih (Sahih al-Bukhari).
• Muslim ibn al-Hajjaj. Al-Jami' al-Sahih (Sahih Muslim).
• Hadis-hadis muttafaq 'alaih yang digunakan: hadis niat; hadis Jibril tentang ihsan; berkata baik atau diam; pengendalian diri ketika marah; dan mencintai kebaikan bagi saudara.
