DENPASAR — Program elektrifikasi kendaraan di Bali memasuki tahap baru setelah EV-GO mengumumkan kesepakatan awal dengan Perumda Bali. Perkembangan tersebut disampaikan melalui kanal media sosial resmi perusahaan setelah pertemuan pada 7 Oktober 2026.
Kesepakatan awal itu menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi energi dan transportasi di Pulau Dewata, khususnya melalui konversi sepeda motor berbahan bakar konvensional menjadi kendaraan listrik. Namun, realisasi program masih bergantung pada tindak lanjut kerja sama dan kesiapan ekosistem pendukung.
Raine Renaldi, President EV-READY Group yang menaungi program EV-GO, menilai perkembangan tersebut sebagai sinyal positif bagi kelanjutan elektrifikasi kendaraan. Ia menyebut dukungan pemangku kepentingan diperlukan untuk memperluas program sekaligus memberikan kepastian bagi pelaku usaha.
“Saya rasa ini adalah sinyal positif ya, mengingat banyaknya rangkaian program menuju Bali energi bersih. Salah satunya dengan konversi kendaraan ke listrik, dan juga kepastian untuk teman-teman pengusaha untuk membangun jaringan infrastruktur energi seperti BSS (Battery Swap Station) yang jumlahnya akan masif,” ujar Raine.
Menurut Raine, program konversi tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan teknologi dan perangkat konversi. Pelaksanaannya membutuhkan jaringan bengkel, teknisi, distribusi komponen, stasiun penukaran baterai, pasokan energi, pembiayaan, regulasi, serta edukasi masyarakat.
Di sisi lain, Raine menyoroti alokasi anggaran subsidi konversi sepeda motor listrik untuk tahun anggaran 2027 yang disebut mencapai sekitar Rp639 miliar untuk mendukung konversi 63.000 unit sepeda motor. Angka tersebut perlu merujuk pada ketetapan resmi pemerintah untuk memastikan besaran anggaran dan target penerimanya.
“Memang angkanya masih di bawah ekspektasi awal, tetapi kami akan tetap memaksimalkan program konversi ini melalui sosialisasi kepada beberapa stakeholder sekaligus,” kata Raine.
Ia menilai subsidi dapat membantu menekan biaya konversi bagi konsumen sekaligus mendorong aktivitas industri pendukung. Peningkatan jumlah kendaraan yang dikonversi berpotensi menambah kebutuhan teknisi, komponen, baterai, perawatan, dan infrastruktur pertukaran baterai.
Raine menilai Bali memiliki sejumlah faktor yang mendukung pengembangan kendaraan listrik, mulai dari karakter sebagai destinasi wisata internasional hingga kebijakan daerah mengenai kendaraan listrik berbasis baterai. Meski demikian, kesiapan implementasi tetap membutuhkan penilaian terhadap infrastruktur, pembiayaan, dan penerimaan masyarakat.
“Saya rasa dengan dukungan pemerintah daerah, sosialisasi kepada masyarakat dan juga komunitas akan jauh lebih mudah. Bali bahkan sudah membuat regulasi khusus yang belum dimiliki daerah lain,” ujar Raine.
EV-GO berencana memprioritaskan kawasan wisata dan kendaraan dengan tingkat penggunaan tinggi dalam pelaksanaan program. Kendaraan niaga dan kendaraan produktif dipandang sebagai kelompok yang dapat merasakan dampak perubahan biaya operasional secara lebih langsung.
“Pastinya kita akan mulai dengan daerah wisata, dan kendaraan niaga atau produktivitas tinggi di area tersebut, sehingga dampak perubahannya akan langsung terasa begitu program konversi berjalan,” jelasnya.
Penggunaan kendaraan listrik pada sektor pariwisata, logistik, dan transportasi lokal dinilai berpotensi mengurangi konsumsi bahan bakar serta emisi dari kendaraan. Namun, besarnya penghematan akan bergantung pada biaya konversi, harga energi, perawatan, pola penggunaan, dan umur pakai baterai.
Raine juga melihat dunia usaha sebagai salah satu penggerak awal transformasi tersebut. Menurut dia, efisiensi operasional dapat menjadi pertimbangan bagi pelaku usaha untuk beralih ke kendaraan listrik, sementara masyarakat dan wisatawan berpotensi menikmati lingkungan yang lebih rendah polusi dan kebisingan.
“Dunia usaha bisa diuntungkan dengan efisiensi kendaraan listrik dan diringankan biayanya melalui subsidi nanti, dan masyarakat setempat juga turis bisa merasakan berkurangnya polusi udara, bahkan sampai polusi suara seperti suara knalpot, ahaha,” selorohnya.
Salah satu infrastruktur yang menjadi perhatian adalah Battery Swap Station (BSS), yaitu fasilitas untuk menukar baterai yang habis dengan baterai yang telah terisi. Sistem ini dapat memangkas waktu berhenti kendaraan, terutama bagi pengguna yang membutuhkan mobilitas tinggi sepanjang hari.
Pengembangan jaringan BSS juga berpotensi membuka peluang usaha bagi operator stasiun, pemilik lokasi, produsen baterai, pembuat perangkat penukaran, serta penyedia teknologi digital dan sistem pemantauan. Namun, kelayakan investasi akan ditentukan oleh jumlah pengguna, standardisasi baterai, biaya operasional, dan kepastian model bisnis.
EV-GO memperkirakan ekosistem ekonomi yang terbentuk dari transformasi energi tersebut berpotensi mencapai Rp80 triliun per tahun. Perusahaan juga memproyeksikan penyerapan sekitar 7.000 tenaga kerja formal dan 20.000 tenaga kerja informal. Angka tersebut merupakan proyeksi perusahaan yang masih memerlukan penjelasan mengenai cakupan sektor, metode perhitungan, dan periode realisasinya.
Potensi ekonomi itu disebut mencakup berbagai kegiatan, mulai dari manufaktur komponen, distribusi, jasa konversi, perawatan kendaraan, pengelolaan baterai, infrastruktur energi, hingga layanan digital. Jika berkembang, rantai usaha tersebut dapat menciptakan kebutuhan tenaga kerja dengan keterampilan baru, termasuk teknisi kendaraan listrik, operator BSS, dan tenaga pendukung teknologi.
Bagi EV-GO, Bali dipandang dapat menjadi lokasi percontohan penerapan konversi kendaraan dalam skala lebih luas. Keberhasilan model tersebut nantinya dapat menjadi bahan evaluasi sebelum diterapkan di daerah lain, dengan mempertimbangkan perbedaan karakter wilayah, regulasi, infrastruktur, serta kemampuan ekonomi masyarakat.
Perkembangan kesepakatan awal dengan Perumda Bali juga menjadi perhatian bagi investor dan pelaku industri yang ingin masuk ke sektor kendaraan listrik. Meski peluang investasi terbuka, keputusan bisnis tetap memerlukan kejelasan bentuk kerja sama, pembagian tanggung jawab, kepastian regulasi, permintaan pasar, dan skema pembiayaan.
Tahap selanjutnya adalah memastikan kesepakatan awal tersebut dapat ditindaklanjuti melalui program yang terukur. Selain konversi kendaraan, kesiapan infrastruktur, ketersediaan baterai, standar keselamatan, kompetensi teknisi, serta evaluasi manfaat ekonomi dan lingkungan akan menentukan keberlanjutan elektrifikasi kendaraan di Bali. (ek)