Oleh : Dr. H. Hery Saparudin, M.Pd.I
(Dosen STAI Yamisa Soreang, Bandung)
Artikel,-
Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah (TQN), merupakan salah satu jalur spiritual yang menekankan pembinaan batin melalui dzikir, ketekunan ibadah, mujahadah, pembentukan akhlak serta bimbingan mursyid. Lebih dari sekadar rutinitas keagamaan, bahwa TQN hadir sebagai sarana pendekatan diri kepada Allah SWT., yang kemudian tercermin secara nyata dalam perilaku keseharian.
Hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, adalah ikatan spiritual yang diwujudkan melalui iman, ibadah, dzikir, ketaatan, doa, tawakal dan keindahan akhlak. Ikatan ini tidak terbatas pada gerakan ritual semata, melainkan membentuk kesadaran mendalam bahwa setiap langkah, ucapan dan niat senantiasa berada dalam pantauan serta pengetahuan Allah SWT.
Tujuan utama TQN, adalah mencapai kedekatan sejati kepada Allah (taqarrub ilallah), sekaligus membentuk pribadi yang bertakwa dan berakhlak mulia.
Dalam TQN, upaya menyempurnakan hubungan hamba dengan Tuhan ditempuh melalui lima jalan utama :
Pertama : Dzikir, menjadi napas utama dalam pembinaan TQN. Ia, dilakukan untuk mengingat Allah SWT., secara terus-menerus, menjauhkan hati dari kelalaian. Dzikir bukan sekadar gerak lisan, melainkan menghadirkan kesadaran batin bahwa manusia senantiasa bergantung kepada Allah.
Kedua : Muraqabah, berarti kesadaran penuh bahwa Allah SWT., selalu mengawasi hamba-Nya. Kesadaran ini mendorong seseorang berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatan, jujur ketika tak ada yang melihat, menjauhi kecurangan, tidak menyakiti sesama dan menegakkan kebenaran meski sendirian.
Ketiga : Mujahadah, adalah perjuangan sungguh - sungguh melawan kecenderungan diri yang buruk serta menaklukkan hawa nafsu. Dalam TQN, murid dibimbing untuk meninggalkan kebiasaan yang tidak baik dan secara bertahap meningkatkan kualitas ketaatan.
Keempat : Taubat dan Introspeksi Diri, perbaikan dimulai dari kesadaran akan kekurangan, bertobat, memohon ampun, lalu bertekad berubah. Taubat sejati tidak berhenti pada penyesalan, tetapi melahirkan perbaikan perilaku yang nyata.
Kelima : Bimbingan Mursyid dalam tradisi TQN, mursyid memegang peran sentral sebagai pembimbing rohani. Hubungan guru dan murid diarahkan untuk membangun kedisiplinan ibadah, memperhalus akhlak, serta memandu langkah spiritual hingga mendekatkan diri kepada Allah.
Melalui kelima amalan di atas, perubahan yang ingin dicapai setidaknya mencakup tiga ranah :
1. Hati menjadi tenang ; tumbuh keikhlasan, kesabaran, ketawakkalan dan kerinduan yang mendalam kepada Allah.
2. Ibadah makin disiplin ; shalat tepat waktu, dzikir berkesinambungan, doa yang tulus, tilawah Al-Qur’an, serta ibadah lainnya menjadi kebutuhan jiwa.
3. Perilaku membaik ; menghormati sesama, menjauhi perbuatan tercela dan mengutamakan kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Simpulan
Kedekatan kepada Allah SWT., tidak diukur dari banyaknya aktivitas lahiriah, melainkan dari bagaimana keimanan mengubah karakter seseorang. TQN pada hakikatnya, adalah proses menyempurnakan lahir dan batin. Dari dzikir yang menggetarkan hati, hingga akhlak yang mewarnai kehidupan sehari-hari. Tujuannya bukan sekadar ketenangan pribadi, melainkan lahirnya manusia yang religius, berakhlak mulia, disiplin, amanah dan memiliki kesadaran moral yang tinggi.
Dengan demikian, Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah dapat dipahami, sebagai salah satu pendekatan pembinaan rohani yang utuh ; mendekatkan diri kepada Allah SWT., sekaligus menjadikan kedekatan itu sebagai cahaya yang menerangi seluruh perjalanan hidup.
(Redaksi)