Tazkiyatun Nafs, Dzikir dan Akhlak sebagai Jalan Membentuk Hati yang Bersih
“Kebaikan yang dibiasakan akan menjadi akhlak; dzikir yang dihidupkan kembali akan menjaga hati.”
Oleh
Dr. H. Hery Saparudin, M.Pd.I
Dosen STAI YAMISA Soreang Bandung
Nur Ilahi
Kehidupan manusia selalu memperhadapkan hati pada dua arah; kecenderungan menuju kebaikan dan tarikan menuju keburukan. Islam tidak cukup hanya memerintahkan seseorang meninggalkan dosa secara lahiriah, tetapi juga menuntun agar sumber – sumber kejahatan di dalam hati dibersihkan; kesombongan, iri hati, dendam, riya, cinta berlebihan kepada dunia dan kelalaian kepada Allah SWT. Dalam perspektif tasawuf, perubahan akhlak dimulai dari perbaikan batin. Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) menempatkan dzikir, muhasabah, muraqabah, disiplin beribadah dan adab sebagai sarana pendidikan ruhani agar seorang salik semakin mampu menjauhi keburukan dan membiasakan kebaikan.
1. Landasan Al-Qur'an : Membersihkan Jiwa
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Sungguh beruntungnya orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 9–10)
Ayat ini menegaskan bahwa kemenangan ruhani bukan hanya ditentukan oleh pengetahuan, tetapi oleh proses tazkiyah; menyucikan jiwa dari sifat tercela dan menumbuhkan sifat terpuji. Dalam kerangka TQN, dzikir dan latihan ruhani tidak berhenti secara lisan; Tujuan akhirnya adalah perubahan akhlak, ketenangan batin dan kedekatan kepada Allah.
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ dan تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan panjang-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Ma'idah [5]: 2)
Kebaikan tidak hanya bersifat pribadi. Seorang yang menempuh jalan ruhani harus menjadi sumber manfaat, kedamaian dan pertolongan. Oleh karena itu, menghindari kejahatan berarti pula tidak menjadi bagian dari sistem, pergaulan, ucapan atau tindakan yang menumbuhkan dosa dan permusuhan.
2. Hadis Muttafaqun 'Alaih : Ukuran Akhlak Seorang Mukmin
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangan.”
(Muttafaqun 'alaih — HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberi ukuran yang sangat praktis : Kualitas keberagamaan tampak dari apakah orang lain aman dari ucapan dan tindakan kita. Latihan TQN, dzikir seharusnya melahirkan kendali diri. Semakin hidup hati mengingat Allah, semakin terjaga pula lisan, tangan dan perilaku sosialnya.
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya, apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (Muttafaqun 'alaih — HR. al-Bukhari dan Muslim)
Kebaikan bukan sekedar tidak menyakiti, tapi aktif menghendaki kebaikan bagi orang lain. Ini adalah jembatan dari tazkiyah menuju ihsan sosial; hati dibersihkan dari hasad, persaingan tidak sehat dan kebencian; lalu diganti dengan kasih sayang, doa, dan kepedulian.
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (Muttafaqun 'alaih — HR. al-Bukhari dan Muslim)
Di era digital, hadis ini sangat relevan. Kejahatan lisan kini dapat berubah menjadi kejahatan jari; fitnah, transmisi, dakwah, komentar kasar dan penyebaran informasi tabayyun. Seorang salik dituntut menjadikan media digital sebagai ruang amal, bukan ruang pelampiasan hawa nafsu.
3. Perspektif TQN : Dari Dzikir Menuju Akhlak
TQN, dzikir bukan sekedar repetisi lafaz, tetapi kesadaran pendidikan. Ia mengarahkan hati, agar terus terhubung kepada Allah sehingga perilaku lahir perlahan mengikuti kebersihan batin. Beberapa prinsip yang relevan antara lain :
Dzikir, menghidupkan kesadaran kepada Allah agar hati tidak mudah dikuasai dorongan buruk.
Muhasabah, memeriksa diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain; Mengaku dosa, kekurangan dan motif tersembunyi.
Muraqabah, merasa memuji Allah sehingga muncul rasa malu untuk berbuat maksiat, meskipun tidak dilihat manusia.
Mujahadah, melawan hawa nafsu secara bertahap, konsisten dan realistis.
Adab, menjadikan kesopanan kepada Allah, guru, keluarga, sesama dan lingkungan sebagai buah dari perjalanan ruhani.
Istiqamah, mengubah kebaikan dari tindakan sesaat menjadi kebiasaan yang menetap.
4. Tuntunan Praktis : Jauhi Kejahatan Lisan, Dekatkan Adab Perubahan Menuju Kebaikan.
Yang Dijauhi dan Latihan Ruhani serta Kebaikan Pengganti :
Ghibah, fitnah, ucapan kasar; Dzikir + kontrol lisan; Berkata baik, diam, tabayyun.
Hasad dan iri hati; Muhasabah + doa untuk orang lain; Syukur dan ikut bergembira atas nikmat orang.
Riya dan mencari pujian; Meluruskan niat; Ikhlas dan amal tersembunyi.
Marah dan dendam; Muraqabah + menahan reaksi; Sabar, maaf, berdamai.
Lalai dan cinta dunia berlebihan; Dzikir + mengingat akhirat; Qana'ah, sedekah, kemudahan.
Kezaliman sosial; Mujahadah + adab; Adil, amanah, menolong sesama.
5. Amalan Harian yang Mudah Diingat
RUMUS 5 J :
- JAGA HATI
- JAGA LISAN
- JAGA PANDANGAN
- JAGA PERGAULAN
- JAGA ISTIQAMAH
Awali hari dengan niat yang benar dan dzikir sesuai bimbingan guru/mursyid yang diikuti.
Sebelum berbicara atau menulis di media sosial, tanyakan: benar, baik, perlu dan bermanfaatkah ? Setiap malam lakukan muhasabah singkat : kejahatan apa yang berhasil ditahan, kebaikan apa yang belum dilakukan ?
Ganti satu kebiasaan buruk dengan satu kebiasaan baik yang spesifik dan terukur.
Jika salah, segera istighfar, perbaiki kesalahan dan kembali berjalan; jangan jadikan dosa sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki diri.
Simpulan
“Jauhi kejahatan Lisan mendekatkan adab perubahan kebaikan”, adalah inti perjuangan akhlak. Islam mengajarkan, bahwa keberuntungan terletak pada penyucian jiwa, sementara hadis Nabi ﷺ mengukur keimanan melalui keselamatan orang lain dari lisan dan tangan kita, kecintaan terhadap sesama, serta kemampuan berkata baik atau memilih diam. Dalam perspektif TQN, dzikir, muhasabah, muraqabah, mujahadah, adab dan istiqamah menjadi jalan untuk memindahkan ajaran dari pengetahuan menuju karakter.
Ukuran keberhasilan perjalanan ruhani bukanlah banyaknya istilah yang dikuasai, melainkan semakin sedikit keburukan yang keluar dari diri dan semakin banyak kebaikan yang dirasakan oleh sesama.
“Dzikir menjaga hubungan dengan Allah; akhlak membuktikan dampaknya kepada manusia.”
Referensi
Al-Qur'an al-Karim : QS. Asy-Syams [91]: 9–10; QS. Al-Ma'idah [5]: 2.
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari.
Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim.
Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya' 'Ulum al-Din — khususnya pembahasan tazkiyat al-nafs, adab, dan penyakit hati.
Al-Jilani, 'Abd al-Qadir. Al-Ghunyah li Talibi Tariq al-Haqq — pembahasan adab, ibadah, dan pembinaan ruhani.
Sambas, Ahmad Khatib. Fath al-'Arifin — salah satu referensi penting dalam tradisi Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.
Bruinessen, Martin van. Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia. Bandung: Mizan (berbagai edisi).
Catatan : Praktik teknis dzikir dan suluk dalam TQN mengikuti bimbingan mursyid/guru yang sah dalam silsilah masing - masing. Tulisan ini bersifat edukatif - akademik dan tekanan umum nilai tazkiyah serta akhlak.
TM.
