
Oleh: Arshana Malika
elitKITA.com // Di tengah kemajuan teknologi dan kemudahan komunikasi, generasi muda justru menghadapi persoalan kesepian yang semakin serius. Media sosial membuat seseorang dapat terhubung dengan ratusan bahkan ribuan orang, tetapi banyaknya koneksi digital tidak selalu menghadirkan hubungan yang bermakna. Seseorang dapat terlihat aktif, produktif, dan bahagia di hadapan orang lain, sementara di baliknya menyimpan tekanan yang tidak diketahui siapa pun. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesehatan mental generasi muda tidak bisa hanya dilihat dari apa yang tampak di permukaan.
Salah satu peristiwa yang menjadi sorotan terjadi pada seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR, berusia 19 tahun. Mahasiswa tersebut diduga mengalami krisis hingga melakukan percobaan bunuh diri di lingkungan kampus pada September 2026. Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa mahasiswa yang berada dalam lingkungan pendidikan tinggi sekalipun dapat menghadapi persoalan kesehatan jiwa yang berat. Karena itu, lingkungan kampus tidak cukup hanya menjadi ruang untuk mengejar prestasi akademik, tetapi juga perlu menjadi ruang yang mampu memberikan dukungan ketika mahasiswa menghadapi tekanan. (Kompas.id, September 2026)
Kasus lain terjadi pada seorang pria berinisial FS, berusia 30 tahun, yang ditemukan meninggal dunia di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat. Sebelum kejadian tersebut, FS diketahui sempat meninggalkan pesan bernada perpisahan dan memiliki kepedulian terhadap isu kesehatan mental, termasuk melalui donasi kepada komunitas yang bergerak di bidang tersebut. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa seseorang yang tampak peduli terhadap kesehatan mental pun dapat menyimpan pergulatan yang tidak mudah diketahui orang-orang di sekitarnya. Hal ini sekaligus menunjukkan pentingnya kepekaan terhadap kondisi orang terdekat dan keberanian untuk membuka ruang percakapan mengenai kesehatan jiwa. (Kompas.id, September 2026)
Kondisi kesehatan jiwa generasi muda juga terlihat dari data layanan Healing119.id layanan dukungan psikologis yang dikembangkan Kementerian Kesehatan. Pemerintah menyebut layanan ini ditujukan bagi masyarakat yang mengalami tekanan psikologis, keputusasaan, pikiran untuk mengakhiri hidup, maupun kondisi krisis psikologis. Layanan tersebut menyediakan dukungan awal secara anonim dan dapat membantu menghubungkan masyarakat dengan pertolongan yang lebih lanjut. Fakta bahwa layanan khusus semacam ini diperlukan menunjukkan bahwa persoalan kesehatan jiwa membutuhkan perhatian serius dan tidak dapat dianggap sekadar persoalan pribadi. (Kementerian Kesehatan RI, 7 Agustus 2025)
Bahkan pada September 2026, Kementerian Kesehatan kembali mengingatkan bahwa gangguan jiwa dapat dialami siapa saja tanpa mengenal usia, jenis kelamin, maupun status ekonomi. Masalah kesehatan jiwa sering kali tidak terlihat secara kasatmata sehingga seseorang yang tampak baik-baik saja belum tentu benar-benar berada dalam kondisi baik. Karena itu, masyarakat didorong untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku orang di sekitarnya dan tidak menunggu sampai persoalan berkembang menjadi krisis. (Kementerian Kesehatan RI, 7 September 2026)
Ketika Kesuksesan Individual Melahirkan Kesepian
Fenomena tersebut tentu tidak dapat disederhanakan seolah setiap kasus bunuh diri hanya disebabkan oleh satu faktor. Persoalan kesehatan mental bersifat kompleks dan dapat dipengaruhi berbagai hal, seperti kondisi psikologis, pengalaman hidup, keluarga, tekanan sosial, ekonomi, maupun akses terhadap bantuan profesional. Karena itu, orang yang sedang mengalami krisis membutuhkan pertolongan dan pendampingan, bukan penghakiman. Namun, selain melihat persoalan pada level individu, penting pula melihat bagaimana sistem kehidupan membentuk cara generasi muda memandang diri dan kehidupannya.
Dalam perspektif Islam, sekularisme menjadi persoalan ketika agama dipisahkan dari kehidupan. Akidah tidak lagi menjadi dasar dalam menentukan arah pendidikan, ekonomi, budaya, maupun kehidupan sosial, sehingga generasi dapat tumbuh dengan ukuran keberhasilan yang lebih banyak ditentukan oleh pencapaian duniawi. Mereka didorong untuk menjadi pintar, produktif, sukses, mandiri, dan kompetitif, tetapi tidak selalu mendapatkan pemahaman yang kuat mengenai tujuan hidup. Akibatnya, ketika prestasi yang diharapkan tidak tercapai atau kehidupan berjalan tidak sesuai rencana, sebagian orang dapat mengalami kehampaan dan kehilangan arah.
Kondisi ini semakin diperkuat oleh budaya positivisme dan orientasi kesuksesan individu. Nilai seseorang semakin mudah diukur berdasarkan sesuatu yang terlihat dan dapat dihitung: nilai akademik, pekerjaan, jabatan, pendapatan, jumlah pengikut, penampilan, hingga pencapaian tertentu. Generasi muda akhirnya dapat merasa harus selalu berhasil dan menunjukkan bahwa hidupnya baik-baik saja. Ketika gagal memenuhi standar tersebut, kegagalan bukan hanya dirasakan sebagai kegagalan sebuah target, tetapi bisa berubah menjadi perasaan bahwa dirinya tidak cukup baik.
Kapitalisme juga mendorong pola kehidupan yang kompetitif dan individualistik. Setiap orang dituntut untuk memperjuangkan kepentingannya sendiri agar dapat bertahan dan memperoleh posisi yang lebih baik. Hubungan sosial pun berpotensi bergeser menjadi hubungan yang pragmatis, sementara waktu untuk keluarga dan masyarakat semakin tersita oleh tuntutan pendidikan maupun pekerjaan. Ironisnya, seseorang bisa memiliki banyak koneksi sosial sekaligus merasa tidak memiliki siapa pun untuk benar-benar menjadi tempat bersandar.
Kesepian akhirnya menjadi persoalan sosial. Ketika masyarakat terbiasa dengan pola hidup _“masing-masing berjuang sendiri”_, orang yang sedang mengalami kesulitan dapat merasa malu untuk meminta bantuan. Mereka takut dianggap lemah, tidak sukses, atau tidak mampu menghadapi kehidupan. Padahal, manusia pada dasarnya membutuhkan hubungan dengan orang lain. Ketika ikatan keluarga dan masyarakat melemah, beban psikologis semakin mudah dipikul sendirian.
Maka, penyelesaian persoalan ini tidak cukup hanya dengan mengajak generasi muda untuk “lebih kuat”. Negara memang perlu memperkuat layanan kesehatan jiwa, menyediakan akses konseling dan bantuan profesional, serta memastikan masyarakat mengetahui layanan krisis seperti Healing119. Akan tetapi, upaya tersebut perlu berjalan bersama pembenahan lingkungan sosial yang membentuk manusia. Jangan sampai negara hanya hadir ketika seseorang sudah berada dalam kondisi krisis, sementara akar budaya individualisme, tekanan kompetisi, dan hilangnya orientasi spiritual terus dibiarkan.
Akidah Kokoh, Keluarga Kuat, Masyarakat Peduli
Islam membangun manusia dengan akidah sebagai fondasi kehidupan. Seorang Muslim memahami bahwa tujuan hidup bukan sekadar mengejar kesenangan, materi, jabatan, atau pengakuan manusia, melainkan beribadah kepada Allah SWT. Kesulitan hidup dipandang sebagai bagian dari ujian yang harus dihadapi dengan sabar dan ikhtiar, sedangkan keberhasilan tidak hanya diukur dari pencapaian dunia. Allah Swt. berfirman, “Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).
Akidah yang kokoh menjadi benteng jiwa, tetapi bukan berarti persoalan kesehatan mental cukup diselesaikan dengan nasihat agama. Islam justru memerintahkan manusia untuk berikhtiar dan mencari pertolongan. Ketika seseorang mengalami tekanan berat, keluarga dan masyarakat harus hadir untuk mendampingi, sementara bantuan dokter, psikolog, psikiater, konselor, maupun tenaga profesional lainnya tetap diperlukan sesuai kondisi. Islam juga secara tegas mengharamkan bunuh diri, sebagaimana firman Allah Swt., “Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29).
Islam kemudian membangun keluarga sebagai tempat perlindungan pertama hubungan keluarga tidak dibangun atas individualisme, tetapi atas kasih sayang, tanggung jawab, dan kewajiban untuk saling menjaga. Anak tidak hanya dituntut untuk berprestasi, tetapi dididik dengan akidah dan akhlak. Orang tua pun memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan kondisi anak, mendengarkan keluhannya, dan membimbingnya ketika menghadapi masalah. Dengan demikian, keluarga menjadi tempat seseorang merasa diterima, bukan tempat ia takut menunjukkan kelemahannya.
Tidak berhenti pada keluarga, Islam membangun masyarakat yang saling peduli melalui ukhuwah dan _ta'awun_ Seorang Muslim tidak seharusnya bersikap individualistis ketika melihat saudaranya mengalami kesulitan. Rasulullah saw. menggambarkan kaum Muslimin seperti satu tubuh yaitu ketika salah satu bagian sakit, bagian lainnya ikut merasakan. Prinsip ini membentuk masyarakat yang tidak membiarkan seseorang terisolasi dalam menghadapi persoalan hidup. Kepedulian sosial menjadi bagian dari kehidupan, bukan sekadar program ketika terjadi krisis.
Selanjutnya, negara memiliki tanggung jawab dalam membentuk lingkungan kehidupan yang sehat. Dalam konsep Islam, pemimpin adalah raa'in, yakni pengurus rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Karena itu, negara tidak cukup hanya menyediakan layanan ketika masyarakat sudah mengalami persoalan, tetapi juga wajib membangun sistem pendidikan yang menanamkan akidah, menyediakan layanan kesehatan yang mudah diakses, serta menciptakan kondisi ekonomi yang memungkinkan masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak. Pendidikan tidak diarahkan semata-mata menghasilkan manusia kompetitif, tetapi manusia yang memiliki tujuan hidup dan kepribadian yang kokoh.
Dalam konstruksi islam, penerapan secara menyeluruh berarti pembentukan generasi dilakukan secara integral yaitu akidah membentuk individu, keluarga menguatkan jiwa, masyarakat membangun kepedulian, dan negara menjamin kemaslahatan rakyat. Sistem pendidikan berbasis akidah membekali generasi dengan tujuan hidup, sedangkan sistem ekonomi Islam mengatur agar kebutuhan masyarakat tidak diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme persaingan individual. Negara juga bertanggung jawab menyediakan layanan kesehatan yang dibutuhkan rakyat, termasuk penanganan kesehatan jiwa dan layanan bagi mereka yang berada dalam kondisi krisis.
Dengan konstruksi tersebut, Islam tidak sekadar mengajarkan generasi agar mampu “bertahan” dalam tekanan, tetapi membangun lingkungan yang membuat manusia tidak harus menghadapi tekanan seorang diri. Generasi muda tetap diajarkan untuk berusaha, berprestasi, dan berkarya, tetapi keberhasilan tidak menjadikan mereka individualistis dan kegagalan tidak membuat mereka kehilangan seluruh makna kehidupan. Inilah pentingnya membangun sistem kehidupan yang bukan hanya mencetak manusia sukses secara materi, tetapi juga manusia yang memiliki akidah, keluarga yang kuat, masyarakat yang peduli, serta negara yang benar-benar hadir melindungi rakyatnya.