Oleh : A. Rusdiana.
Haji bukan perlombaan mengejar kesempurnaan fasilitas dan pengalaman, melainkan perjalanan menuju Allah. Ketenangan lahir dari keimanan, sedangkan keselamatan dijaga melalui kepatuhan terhadap aturan.
Sabtu, 17 Oktober 2026, materi perdana Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Masjid Agung Bandung mengangkat ketenangan dan kenyamanan ibadah haji melalui pendekatan psikologis. Sehari kemudian, KH. Sulhan menyampaikan kisi-kisi pelatihan jamaah. Di tengah pemberitaan ketegangan keamanan Arab Saudi, muncul persoalan penting : Jamaah memahami haji sebagai ibadah, namun masih mungkin diliputi kecemasan, keluhan dan keinginan memaksakan amalan tertentu. Bagaimana pengetahuan keagamaan diubah menjadi ketenangan dan perilaku teratur? Tulisan ini mengelaborasi empat pilar pendampingan psikologis-spiritual untuk membangun jamaah yang beriman, tangguh, aman, dan mandiri :
Pertama : Keteladanan Mengubah Pengetahuan Haji Menjadi Perilaku; Albert Bandura (1977), melalui teori pembelajaran sosial, menekankan pentingnya pengamatan dan keteladanan dalam membentuk perilaku.
Jamaah tidak cukup diberi pengetahuan bahwa haji merupakan panggilan Allah dan kewajiban bagi umat Islam yang memenuhi syarat kemampuan (istitha'ah). Pembimbing harus menampilkan kesabaran, ketenangan, dan kepatuhan terhadap aturan. Haji juga mengandung perjuangan fisik, mental, dan harta, sehingga membutuhkan kesiapan menghadapi keterbatasan. Ketika pembimbing mencontohkan sikap tidak mengeluh, menghormati petugas, dan mengutamakan keselamatan, jamaah memperoleh pembelajaran nyata. Ketenangan bukan sekedar materi ceramah, melainkan perilaku yang diteladankan.
Kedua : Kecemasan Keamanan Memerlukan Literasi dan Tawakal; Ketegangan keamanan kawasan Arab Saudi pada Oktober 2026 menuntut kewaspadaan proporsional. Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Faisal Abdullah Al-Amoudi, menegaskan komitmen negaranya melindungi pengunjung dan jamaah umrah (Kompas.com, 18 Oktober 2026). Namun, jaminan tersebut tidak menghapus kebutuhan jamaah mengikuti informasi resmi dan arahan penyelenggara.
Pendampingan psikologis perlu membantu jamaah membedakan ancaman nyata dari rumor, mengendalikan kekhawatiran dan menyiapkan langkah antisipatif. Tawakal bukan mengabaikan risiko, melainkan menyerahkan hasil kepada Allah setelah menjalankan ikhtiar. Jamaah yang tenang bukan mereka yang tidak mengenal risiko, melainkan yang mampu menghadapinya secara bijaksana.
Ketiga : Kesabaran Menjadi Ukuran Kedewasaan Spiritual; Keluh kesah, usia lanjut, sakit, kelelahan dan antrean panjang merupakan tantangan nyata perjalanan haji. Sebagian jamaah juga menginginkan pengalaman ideal, seperti mencium Hajar Aswad atau mendekati lokasi jumrah, meski situasi tidak memungkinkan.
Padahal, menjaga keselamatan harus didahulukan daripada memaksakan amalan yang tidak wajib. Al-Qur'an mengingatkan agar jamaah menjauhi rafats, fusuq dan jidal selama berhaji (QS. Al-Baqarah [2]: 197).
Pendampingan perlu menanamkan kesadaran bahwa kesabaran bukanlah kepasrahan tanpa usaha, melainkan kemampuan mengendalikan emosi dan menerima keterbatasan. Keberhasilan haji tidak diukur dari banyaknya keinginan terpenuhi, tetapi dari kualitas ketaatan dan pengendalian diri.
Keempat : Jamaah Kemandirian Dibangun melalui Pembiasaan; Pendampingan psikologis-spiritual tidak boleh berhenti pada nasihat. Jamaah memerlukan latihan yang mengalami perubahan jadwal, kepadatan, keterpisahan dari rombongan serta gangguan kesehatan. Melalui simulasi, komunikasi empatik, dukungan sebaya, dan pembiasaan mengikuti instruksi, pengetahuan berubah menjadi keterampilan praktis.
Prinsip Bandura relevan; perilaku melalui dipelajari, praktik dan penguatan. Oleh karena itu, pembimbing perlu menjadi teladan sekaligus fasilitator kemandirian. Jamaah mengenali kemampuan diri, memahami batas fisik, meminta pertolongan ketika diperlukan dan tidak membahayakan orang lain. Kemandirian bukan berarti berjalan sendiri, melainkan mampu bertindak tepat dalam kebersamaan.
Pada hakikatnya, bahwa Haji merupakan ibadah mulia yang menuntut kesiapan iman, fisik, mental dan harta. Keutamaannya tidak memaksakan sikap memaksakan diri ataupun mengabaikan keselamatan. Dinamika keamanan Arab Saudi mengingatkan pentingnya mengintegrasikan tawakal dengan kesiapsiagaan.
Melalui keteladanan pembimbing, literasi keamanan, penguatan kesabaran, dan latihan kemandirian, jamaah dapat bergerak dari kegelisahan menuju ketenangan.
Natizahnya; memahami aturan merupakan awal ketaatan; Membiasakan perilaku tertib merupakan bukti kedewasaan spiritual. Haji yang bermakna bukan hanya sampai ke Tanah Suci, melainkan menjaga sikap kesucian sepanjang perjalanan menuju Allah.
Sudah tahu haji itu ibadah, kenapa masih gelisah dan memaksa? Ketenangan bukan sekedar doa, melainkan buah iman, keteladanan, dan kepatuhan. Wallahu Alam,
Penulis:
A. Rusdiana, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Saat ini Ketua Tim PKM. Penguatan Kelompok Bimbingaan Haji Umrah Masjid Agung Untuk Kemandirian Jamaah Haji Penulis Buku Manajemen Alhklak; Sistem Informasi Manajemen, dan Pemegang Matakuliah Kebijakan; SIM-Pendidikan; Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Pangkat Penjelajah Penulis di Kompasiana sejak 22 Januari 2025. Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. DK-Media Elit Kita; Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.
TM.
