Oleh: A. Rusdiana
Jemaah haji dapat memahami penjelasan manasik, tetapi masih ragu menjalankan kegiatan tanpa arahan pembimbing. Kesenjangan pengetahuan dan tindakan ini memerlukan penguatan efikasi diri. Bandura (1977) menjelaskan pentingnya keyakinan terhadap kemampuan melaksanakan tindakan. Secara spiritual, QS. Al-Baqarah [2]: 286 menegaskan bahwa Allah membebani seseorang sesuai kesanggupannya. Rasulullah mengajarkan ikhtiar dan permohonan pertolongan Allah (HR. Muslim, no. 2664).
Al-Ghazali dalam Ihya’
‘Ulum al-Din menjelaskan bahwa tawakal tetap menyertakan upaya mencegah
bahaya. Persoalannya, bagaimana KBIHU Masjid Agung membangun keyakinan dan
keterampilan agar jemaah mampu bertindak sesuai kemampuan serta meminta bantuan
secara tepat?
Tulisan ini bertujuan menjelaskan
penguatan kemandirian melalui lima pilar: pengalaman keberhasilan, penguasaan
manasik, pengelolaan kebutuhan pribadi, pengenalan lokasi dan komunikasi, serta
pemahaman batas kemampuan. Kelimanya menghubungkan pembelajaran dengan praktik
agar keyakinan jemaah tumbuh bersama keterampilan yang dapat diperlihatkan:
Pertama: Pengalaman Keberhasilan Menumbuhkan Keyakinan; Efikasi diri merupakan keyakinan seseorang terhadap kemampuannya menjalankan tindakan yang diperlukan. Bandura menempatkan pengalaman keberhasilan sebagai salah satu sumber pembentuknya. Karena itu, pembimbing perlu memberikan tugas sederhana yang dapat diselesaikan peserta, kemudian meningkatkan tantangannya secara bertahap.
Jemaah dapat memulai dengan
menunjukkan kartu identitas, menjelaskan informasi penginapan, atau menyebutkan
kontak pendamping. Keberhasilan tersebut diperkuat melalui umpan balik yang
jelas. Peserta mengetahui tindakan yang sudah tepat dan bagian yang perlu
diulang. Dengan cara ini, kepercayaan diri bertumpu pada pengalaman nyata,
sementara kesalahan menjadi bahan belajar tanpa mempermalukan jemaah.
Kedua: Penguasaan Manasik Memerlukan Praktik Bertahap; Mendengarkan penjelasan belum cukup untuk memastikan seseorang mampu menjalankan urutan kegiatan. Praktik manasik perlu memberi kesempatan kepada setiap jemaah untuk mencoba, menjelaskan kembali, dan mengajukan pertanyaan. Pembimbing terlebih dahulu memperagakan kegiatan, kemudian mendampingi peserta, lalu mengurangi arahan sesuai perkembangan kemampuannya.
Cara ini selaras dengan pentingnya
pengalaman langsung dan pengamatan terhadap contoh dalam teori Bandura. Peserta
yang kesulitan mengingat dapat menggunakan panduan ringkas dengan tulisan
terbaca. Ukuran keberhasilan mencakup kemampuan mengenali urutan, memahami
tindakan yang diperlukan, serta mengetahui kapan harus berkonsultasi kepada
pembimbing mengenai persoalan ibadah.
Ketiga: Kebutuhan Pribadi Dikelola melalui Pembiasaan; Pengelolaan dokumen, identitas, barang bawaan, dan kebutuhan harian perlu masuk dalam latihan kemandirian. Jika seluruhnya selalu dikerjakan keluarga, jemaah kehilangan kesempatan mengenali barang serta kebutuhannya sendiri. Pendamping dapat mengajak peserta menyusun tempat penyimpanan yang tetap, memberi penanda yang mudah dikenali, dan menggunakan daftar cek sederhana.
Latihan dilakukan berulang sampai jemaah
memahami kegunaannya. Bantuan keluarga tetap diperlukan sesuai kondisi, dengan
memberi ruang bagi peserta mengerjakan bagian yang mampu dilakukannya.
Pembiasaan ini menumbuhkan tanggung jawab serta membantu jemaah menjelaskan kebutuhannya
ketika barang tertinggal atau diperlukan selama perjalanan.
Keempat: Lokasi dan Komunikasi Harus Dipahami; Keterbatasan penggunaan telepon atau aplikasi perlu dijawab dengan pilihan sarana yang sesuai. Jemaah berlatih mengenali nama penginapan, titik kumpul, penanda lokasi, dan cara menghubungi pendamping. Kartu informasi penting disiapkan dalam bentuk tertulis agar tetap dapat digunakan ketika telepon tidak tersedia.
Simulasi perlu mencakup cara
menunjukkan identitas dan menyampaikan permintaan pertolongan kepada petugas.
Pembimbing memeriksa pemahaman melalui praktik, bukan sekadar menanyakan apakah
peserta sudah mengerti. Keberhasilan terlihat ketika jemaah mampu menggunakan
informasi tersebut. Keterampilan sederhana ini membantu peserta mengambil
keputusan dengan lebih tenang saat menghadapi kebingungan.
Kelima: Mengenali Batas Diri Menguatkan Kemandirian; QS. Al-Baqarah [2]: 286 memberi landasan untuk menghargai kesanggupan manusia. Dalam pembinaan, prinsip tersebut mengarahkan penyesuaian latihan dengan kondisi peserta. Jemaah perlu mengenali kelelahan, keterbatasan gerak, kesulitan memahami informasi, dan kebutuhan pendampingan. Meminta bantuan menjadi keputusan yang bertanggung jawab.
Penjelasan Al-Ghazali tentang tawakal dan upaya pencegahan bahaya juga
meneguhkan pentingnya persiapan. Karena itu, daftar cek kesiapan mandiri harus
mencatat kemampuan sekaligus kebutuhan dukungan. Pembimbing dapat
menggunakannya untuk menentukan pendampingan lanjutan. Keyakinan diri yang
sehat tumbuh bersama kesadaran terhadap batas kemampuan dan kepedulian terhadap
keselamatan bersama.
Singkatnya, penguatan kemandirian
memerlukan perpaduan keyakinan, keterampilan, dan dukungan yang sesuai. Teori
efikasi diri Bandura membantu menjelaskan pentingnya pengalaman keberhasilan,
sedangkan Al-Qur’an, hadis, dan pandangan ulama memberikan landasan spiritual
serta etis bagi ikhtiar. KBIHU Masjid Agung perlu menerapkannya melalui praktik
manasik, simulasi kebutuhan harian, latihan komunikasi, dan pendampingan
bertahap. Luaran konkretnya ialah daftar cek kesiapan mandiri serta kartu
informasi penting. Keberhasilan pembinaan terlihat ketika jemaah mampu
melakukan tugas sesuai kesanggupan, menggunakan informasi, dan meminta
pertolongan secara tepat. Dari pengalaman belajar tersebut, kemandirian
berkembang menjadi bekal menjalankan ibadah dengan tertib dan bertanggung
jawab. Wallahu a‘lam.
_________________
*) Tulisan ini dipersiapkan untuk materi
ke-3 PKM Penguatan Kelompok
Bimbingaan Haji Umrah Masjid Agung Untuk Kemandirian Jamaah Haji”
- Bandura, A. (1977). Self-efficacy: Toward a unifying theory of behavioral change. Psychological Review, 84(2), 191–215.
