Oleh : Dr. Srie Muldrianto M.Pd . (Aktivis Pendidikan)
Opini Publik
Logika, adalah Ilmu yang membahas tentang Definisi dan Argumentasi. Dua pembahasan logika tersebut, menjadi pintu masuk untuk membahas Ilmu Pengetahuan dan Filsafat, baik yang bersifat fisik maupun metafisik (abstrak).
Ilmu Pengetahuan pasti berbicara tentang definisi atau bahasan sebuah objek dan ketika mengobservasi, kita harus dapat menguraikan secara detail dan teliti. Kita mengurai tentang objek yang kita teliti, objek apa yang sedang kita teliti, bagaimana mengurai, memisahkan satu entitas dengan entitas yang lain ? Apa pembedaan entitas yang satu dengan entitas yang lain atau apa yang menyatukan satu entitas dengan entitas lain ? Baru kemudian kita dapat melakukan analisa, sintesa, evaluasi atau transformasi dari satu entitas ke entitas yang lain. Setelah itu baru kami melakukan pemaparan kesimpulan dengan memaparkan temuan melalui sebuah premis yang dijadikan argumentasi yang akhirnya dapat menyimpulkan mana yang benar ? Dan mana yang salah?
Ilmu Pengetahuan dan Filsafat kadang dibedakan obyeknya yang satu bersifat fisik dan yang lainnya bersifat metafisik. Tapi ada juga yang menyamakan obyeknya seperti Max Planck. Sebagian orang menyatakan bahwa alat ukur kebenaran Ilmu Pengetahuan, adalah fakta sedangkan alat ukur menentukan kebenaran filsafat adalah logika.
Padahal dua hal tersebut tidak bisa dipisahkan dalam kenyataan, itu selalu berjalin kelindan. Tentu kita sepakat, bahwa untuk menentukan sesuatu itu benar atau salah harus ada alat ukurnya. Tanpa alat ukur tak mungkin kita membuat keputusan yang benar atau salah.
Tanpa landasan Logika kita dapat terjatuh pada kesimpulan yang salah atau kesimpulan yang seolah-olah benar (Fallacy) padahal salah. Jika kita hanya mengandalkan kebenaran fakta yang indikatornya pengamatan panca indera kita, bisa saja keliru seperti ketika kita memasukkan pulpen atau tongkat ke dalam air, mata kita akan melihat bahwa pulpen atau tongkat itu jadi membelok atau tidak lurus, atau kita melihat fata morgana seolah-olah ada air padahal itu tipuan penglihatan.
Dengan menguasai logika kita dapat membedakan atau memilah serta memilih berdasarkan jenis atau kelompok tertentu. Penguasaan logika, bahkan matematika sebagai dasar Ilmu atau sebagai landasan Ilmu dapat membantu kita untuk membuat pola atau rumus tertentu pada suatu entitas. Dengan menemukan pola atau rumus tertentu kita dapat menemukan sebab akibat sesuatu. Setelah mengetahui sebab-akibat sesuatu, maka akal kita dapat mengambil keputusan atau dapat memecahkan suatu masalah secara jernih dan terukur.
Oleh karena itu, sejatinya lembaga pendidikan kita khususnya pada setiap pendidikan dasar dapat membuat fokus pembelajaran yang lebih mengedepankan pengetahuan dasar ini, baik matematika maupun logika. Selain itu pola pendidikan dasar, sejatinya lebih dapat menggerakan alam imajinasi peserta didik melalui pembelajaran seni yang menyenangkan dan menggembirakan hingga anak memiliki kepekaan terhadap keindahan juga dapat membangun perasaan serta kelembutan. Sehingga anak didik menjadi anak yang pintar akalnya, lembut hatinya dan perilakunya baik.
Logika dan Matematika telah banyak membantu Ilmuan dan para mufasir atau ahli agama untuk memahami kitab suci. Tidak hanya itu Para Ulama juga banyak terinspirasi oleh al-Qur'an untuk menemukan dan mengembangkan ilmu Pengetahuan dan melahirkan teknologi, hingga membawa perubahan atau transformasi. Beberapa contoh ahli Matematika yang juga pakar dalam Ilmu agama : Al Khawarizmi, Al Biruni, Omar Khayam, Bahaudin Al Amili, Al Khazin dan lain-lainnya. Banyak sekali dari mereka yang terinspirasi dari Al Qur'an, hingga mereka melakukan gerakan dan perubahan untuk kemajuan. Namun sayangnya kini umat Islam dijauhkan dari Filsafat dan Ilmu Pengetahuan serta Teknologi.
Darimana kita memulai ? Cara pandang atau cara berpikir kita tentang akal dan wahyu yang sejati saling menguatkan bukan menghindar !
Sayangnya, kini sebagian umat Islam seolah dijauhkan dari filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi. Padahal kuncinya sederhana : Cara memandang kita, bahwa akal dan wahyu sejatinya saling menguatkan, bukan saling menjauhkan. Disanalah kekuatan peradaban dimulai.
TM.
