Dr. H. Hery Saparudin
NUR ILAHI
“Mengenal diri bukan berhenti pada siapa aku di mata manusia, tapi memahami siapa aku di hadapan Allah.”
Kembali ke Pertanyaan Dasar
Manusia sering sibuk memikirkan masa depan, kedudukan, rezeki, pengakuan dan berbagai kemungkinan yang belum terjadi.
Namun ada satu pertanyaan yang lebih mendasar: “Who am I ?” — siapakah diriku sebenarnya ? Dalam Islam, jawaban atas pertanyaan ini tidak dibangun oleh ego atau imajinasi, tetapi oleh wahyu. Manusia adalah ciptaan Allah SWT., hidup dengan ukuran-Nya, memikul amanah, diperintah berikhtiar dan pada akhirnya kembali kepada-Nya.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS.Adz-Dzariyat : 56)
1. Aku Adalah Hamba Allah
Identitas pertama bukan manusia jabatan, gelar, harta atau popularitas. Identitas paling hakiki adalah 'abdullah — hamba Allah. Oleh karena itu, hidup tidak cukup hanya bertanya “apa yang aku inginkan ?”, tetapi juga “apa yang Allah kehendaki dariku ?” Ibadah dalam makna luas, adalah menata seluruh kehidupan agar berada dalam ketaatan; ilmu, keluarga, pekerjaan, kekuasaan, harta dan waktu.
2. Aku Membawa Fitrah
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
Hadapkanlah wajahmu dengan lurus menuju agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. (QS. Ar-Rum : 30)
Rasulullah ﷺ bersabda : كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ — “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.” (Muttafaqun 'alaih : HR. al-Bukhari dan Muslim).
Kembali kepada fitrah bukan berarti meninggalkan akal, ilmu atau kemajuan. Justru fitrah mengarahkan semuanya kepada tujuan yang benar; akal muncul wahyu, keinginan mengendalikan kebenaran, ilmu melahirkan adab dan ambisi ketundukan kepada keridaan Allah.
3. Aku Adalah Makhluk yang Terbatas
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al-Qamar : 49)
Manusia memiliki kemampuan, tetapi bukan kekuasaan mutlak. Ia dapat merencanakan, berusaha, belajar, berobat dan mengambil sebab, namun hasil akhirnya tetap berada dalam ilmu dan kehendak Allah. Kesadaran akan bukan batas alasan untuk lemah; justru itulah dasar kerendahan hati dan ketenangan.
- Aku punya kemauan, tapi kemauanku terbatas.
- Saya boleh bercita-cita tinggi, tetapi tidak boleh merasa menguasai hasil.
- Aku wajib mengambil sebab, tapi hati tetap bergantung kepada Allah.
4. Takdir Tidak Membatalkan Ikhtiar
Ketika para sahabat bertanya tentang amal dan ketentuan Allah
Rasulullah ﷺ bersabda : اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ — “Beramallah, karena setiap orang dimudahkan menuju apa yang diciptakan untuknya.” (Muttafaqun 'alaih).
Maka sikap seorang mukmin adalah; ikhtiar tanpa kesombongan, tawakal tanpa kemalasan dan menerima takdir tanpa kehilangan tanggung jawab.
5. Aku Adalah Pemegang Amanah dan Sedang Diuji
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Dia menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk : 2)
Hidup bukan sekedar mengumpulkan sebanyak-banyaknya, melainkan mempertanggungjawabkan sebaik-baiknya.
Ilmu itu amanah; jabatannya amanah; keluarga adalah amanah; harta adalah amanah; dan waktunya amanah. Nilai manusia di sisi Allah tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang dimilikinya, namun oleh kualitas iman, ketakwaan dan amalnya.
6. Ketenangan Lahir Ketika Hati Kembali kepada Allah
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd : 28)
Dalam hadis qudsi Allah berfirman: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي — “Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.” (Muttafaqun 'alaih).
Banyak kegelisahan muncul ketika manusia ingin menguasai masa depan yang belum terjadi. Islam mengajarkan untuk merencanakan tanpa mempertuhankan rencana, tanpa bekerja menggantungkan hati pada hasil dan berdzikir agar hati kembali kepada pusatnya : Allah SWT.
7. Aku Akan Kembali Kepada-Nya
ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Kemudian Dia mematikan kamu, lalu menghidupkan kamu kembali, kemudian kepada-Nya kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah : 28)
Rasulullah ﷺ bersabda : مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ — “Barang siapa yang membunuh perjumpaan dengan Allah, Allah senang melompatinya.” (Muttafaqun 'alaih).
Jawaban Ringkas :
“ Who am I ?”
Aku adalah hamba Allah - Tujuan utama hidup adalah ibadah dan pengabdian kepada-Nya.
Aku membawa fitrah - Hatiku memiliki kecenderungan kepada kebenaran dan pengenalan kepada Allah.
Aku adalah makhluk terbatas - Aku berusaha, tetapi tidak menguasai seluruh hasil.
Aku memikul amanah - Ilmu, waktu, keluarga, harta dan jabatan akan dipertanggungjawabkan.
Aku sedang diuji - Dunia adalah tempat beramal, bukan tempat tinggal terakhir.
Aku akan kembali - Akhir perjalanan adalah kembali kepada Allah dan mempertanggungjawabkan kehidupan.
Diakhiri Penutup
Kembali kepada fitrah bukan berarti mundur dari kehidupan. Kita tetap belajar, bekerja, meneliti, membangun dan merencanakan masa depan. Namun semuanya ditempatkan sebagai jalan pengabdian, bukan tujuan akhir. Ketika manusia mengenal siapa dirinya, ia tidak mudah diperbudak oleh pengakuan, kecemasan atau ambisi yang berlebihan.
WHO AM I ?
“AKU ADALAH HAMBA ALLAH YANG SEDANG MENEMPUH PERJALANAN PULANG KEPADA-NYA.”
Referensi Utama :
1. Al-Qur'an al-Karim.
2. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari.
3. Muslim bin al-hajjaj, Shahih Muslim.
4. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an al-'Azhim.
5. Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim.
6. Ibnu Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari.
TM.
