“Jasmerah bukan sekadar
mengingat masa lalu. Tragedi 1965 mengajarkan moderasi, literasi informasi,
keadilan, dan pentingnya merawat persatuan.”
Oleh: A. Rusdiana
Menjelang 30 September,
ingatan bangsa kembali pada salah satu episode paling kompleks dalam sejarah
Di era digital, terdapat GAP baru: informasi sejarah semakin mudah ditemukan, tetapi kemudahan mengakses informasi belum otomatis melahirkan kemampuan memahami sejarah secara kritis. Potongan video, unggahan media sosial, dan narasi tanpa sumber dapat mengalahkan ketekunan membaca dokumen.
Pesan Bung Karno, “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”,
karenanya menemukan relevansi baru. Bukan sekadar mengingat masa lalu, tetapi
belajar darinya. Tulisan ini mereduksi berbagai pelajaran tragedi 1965 menjadi empat
pilar: moderasi, literasi informasi, kemanusiaan-keadilan, serta rekonsiliasi
dan persatuan:
Pertama, Moderasi: Ideologi Jangan Menghilangkan Kemanusiaan; Sejarah menunjukkan bahwa polarisasi politik dan ideologis dapat merusak hubungan sosial ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan. Salah satu pelajaran yang juga disoroti dalam refleksi DetikJatim mengenai 1965 ialah bahaya ekstremisme dan polarisasi masyarakat. detikcom
Bagi
generasi sekarang, pelajarannya bukan meniadakan keyakinan atau perbedaan
pemikiran. Yang dibutuhkan adalah kedewasaan mengelolanya. Berbeda tidak
identik dengan bermusuhan. Demokrasi membutuhkan ruang argumentasi,
keterbukaan, dan penghormatan terhadap hukum. Keteguhan prinsip perlu
berjalan bersama kesediaan menghormati sesama manusia.
Kedua, Literasi Digital: Waspadai Propaganda dan Disinformasi; Jika dahulu propaganda bergerak melalui pidato, pamflet, radio, dan jaringan organisasi, kini sebuah informasi dapat menjangkau jutaan orang hanya dalam hitungan menit. Karena itu, salah satu hikmah penting sejarah adalah jangan mudah percaya sebelum memeriksa. Artikel yang menjadi bahan tulisan ini juga menempatkan kewaspadaan terhadap hoaks dan propaganda sebagai salah satu pelajaran dari tragedi tersebut. detikcom
Inilah
tantangan Keterbukaan Informasi Publik (KIP) pada era digital. Ketersediaan
informasi harus diimbangi literasi: mengenali sumber, memeriksa konteks,
membandingkan data, serta membedakan fakta dengan opini. Informasi yang
terbuka tanpa kecakapan literasi dapat melahirkan kebingungan; informasi yang
diperiksa secara kritis dapat melahirkan pengetahuan.
Ketiga, Keadilan: Negara Hukum Harus Melindungi Kemanusiaan; Tragedi 1965 juga mengingatkan bahwa konflik politik tidak boleh menjadi pembenaran bagi tindakan yang mengabaikan martabat manusia. Komnas HAM mendokumentasikan laporan mengenai pembunuhan, perampasan kebebasan, penyiksaan, penganiayaan, penghilangan paksa, dan bentuk pelanggaran lainnya dalam rangkaian 1965–1966. Komnas HAM Library
Karena
itu, keadilan dan perlindungan HAM harus menjadi bagian penting dari pendidikan
sejarah. Persoalan sosial dan politik perlu diselesaikan melalui mekanisme
hukum yang adil dan transparan, bukan kekerasan. Generasi digital perlu
memahami bahwa kemajuan teknologi tanpa penghormatan terhadap
kemanusiaan hanya menghasilkan masyarakat yang canggih secara perangkat, tetapi
miskin kebijaksanaan.
Keempat, Rekonsiliasi: Mengingat untuk Menjaga Persatuan; Mempelajari sejarah bukan berarti memindahkan permusuhan masa lalu kepada generasi berikutnya. Justru sejarah diperlukan untuk mengenali sebab, akibat, dan kesalahan agar pengalaman buruk tidak terulang. DetikJatim menempatkan rekonsiliasi, keadilan sosial, penghindaran polarisasi, pendidikan sejarah, dan perlindungan HAM sebagai sejumlah pelajaran penting dari tragedi tersebut. detikcom
Rekonsiliasi juga bukan berarti menghapus fakta. Ia memerlukan keterbukaan terhadap sumber sejarah, penghormatan terhadap korban, dialog, dan komitmen menjaga kehidupan bersama. Di sinilah sejarah berfungsi sebagai jembatan antargenerasi, bukan tembok yang terus memisahkan.
Singkatnya,
pesan “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” menjadi
semakin penting di tengah derasnya informasi digital. Dari tragedi 1965
setidaknya terdapat empat pelajaran: moderasi mencegah perbedaan
berubah menjadi permusuhan; literasi melindungi masyarakat dari disinformasi;
keadilan menjaga martabat manusia; dan rekonsiliasi merawat persatuan.
Maka,
Jasmerah bukan ajakan hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Ia dapat dimaknai
sebagai ajakan membaca, memeriksa, memahami, lalu mengambil hikmah
sejarah. Generasi yang mengenal sejarah tidak harus mewarisi
dendamnya. Mereka justru perlu mewarisi pelajarannya—agar
Penulis:
A. Rusdiana, Guru besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Lulusan S-3 Pascasarjana UNINUS Tahun 2012. Penulis Buku SIM-Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Pangkat Penjelajah Penulis di Kompasiana sejak 22 Januari 2025. Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. DK-Media Elit Kita; Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.