Dikobarkan Kembali Oleh : Burhan Rosyidi
Tahun 1952, saat peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan ke-7, dalam pidatonya Soekarno membeberkan lima krisis yang mengancam keberlangsungan Republik Indonesia :
1. KRISIS POLITIK ;
Terjadi ditandai dengan kondisi politik yang terus gaduh, tidak pernah stabil, dan semakin banyak orang yang tidak percaya pada jalan demokrasi.
2. KRISIS ALAT-ALAT KEKUASAAN NEGARA ;
Terjadi manakala mesin - mesin dan aparatusnya tidak bisa berfungsi efektif. Malahan terjadi pemborosan dan korupsi.
3. KRISIS CARA BERPIKIR ;
Terjadi manakala sebagian besar manusia Indonesia, terutama penyelenggara negara kehilangan daya pikir untuk menyelesaikan atau menjawab berbagai persoalan. Pikirannya mandeg dan cenderung mempertahankan keadaan apa adanya. Padahal, untuk berkembang maju, bangsa ini butuh pikiran yang progresif, inovatif dan solutif.
4. KRISIS MORAL ;
Mengacu pada turunnya semangat patriotik dan kesadaran nasional setiap anggota bangsa, terutama para penyelenggara negara dan aparaturnya. Mulai dijangkiti penyakit ego-sentris serta kepentingan yang berorientasi sempit.
5. KRISIS GEZAG ;
Atau turunnya wibawa kekuasaan. Ditandai dengan meluasnya pembangkangan atau pengabaian terhadap eksistensi kekuasaan negara, mulai dari pemerintahan hingga hukum-hukumnya.
Itulah peringatan keras dari Soekarno kepada Bangsa Indonesia, atas ancaman nyata bagi tetap terjaganya keberlangsungan RI, baik sebagai Bangsa Merdeka maupun sebagai Negara Berdaulat.
Sementara itu, sungguh krisis kepemimpinan akan mendahsyatkan kelima krisis tersebut, hingga berkekuatan menghancurkan peradaban.
"Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah!"