Oleh: Risma Aprilia (Aktivis Muslimah)
Generasi Z (Gen Z) adalah generasi yang terlahir dari tahun 1997-2012. Mereka hadir ketika internet dan ponsel pintar sudah berkembang. Hampir semua aktifitas mereka dipermudah dengan digitalisasi. Gen Z pun aktif di kehidupan media sosial karena separuh hidup mereka intens di sana. Tak jarang mereka juga peduli pada isu sosial dan lingkungan.
Namun saat ini, lebih dari 48% Gen Z menyatakan merasa tidak aman secara finansial. Ditengah tekanan ekonomi, alokasi belanja Gen Z untuk self reward, healing dan gaya hidup justru terus meningkat karena dianggap kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan. (kompas.com, 12 Agustus 2026)
Sebetulnya tekanan ekonomi tersebut tidak datang begitu saja, melainkan semuanya tersistem. Semuanya bersumber dari penerapan sistem Kapitalisme saat ini yang mana semua kebutuhan pokok masyarakat ditanggung oleh masing-masing, negara tidak ikut andil dalam pemenuhan tersebut.
Sehingga generasi muda berjuang sendiri. Ditambah dengan biaya hidup yang tidak murah dan terus naik namun gaji yang stagnan. Lowongan pekerjaan yang minim, modal usaha yang sulit serta kebutuhan hidup semakin menghimpit. Semuanya kesulitan yang dialami gen Z bukan karena individu yang kurang usaha, namun memang sudah tersistem.
Disisi lain tekanan hidup ini juga diperparah oleh gaya hidup sekuler liberal yang menjadikan self reward, healing dan konsumsi hedonis sebagai pelarian. Media sosial juga terus mencekoki generasi dengan tren popular yang memicu FOMO (Fear Of Missing Out) atau rasa takut ketinggalan. Sehingga muncullah budaya belanja yang impulsif.
Dibalik itu semua ternyata ada krisis lain yang cukup mendalam, yakni Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Sehingga kebahagiaan diukur dari kenikmatan materi sesaat dan pemenuhan naluri-nalurinya saja. Pemicu utama tersebut semakin liar karena distimulus gaya hidup yang dipamerkan lewat media sosial.
Dari permasalahan Gen Z ini, Islam punya solusi mulai dari tekanan ekonomi sampai menemukan arah tujuan hidup. Kebutuhan ekonomi dalam Islam tidak serta merta ditanggung masing-masing individu seperti saat ini. Setiap individu tidak dibiarkan berpikir sendiri dalam memenuhi kebutuhan dasar hidup serta memenuhi kebutuhan lainnya.
Dalam Islam tidaklah demikian, karena negara menjamin semua kebutuhan dasar masyarakat. Melalui pengelolaan SDA (Sumber Daya Alam) yang dikelola langsung oleh negara dan hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Mulai dari pendidikan gratis, kesehatan gratis, serta kebutuhan dasar lainnya. Tidak seperti saat ini yang kondisinya SDA diprivatisasi oleh para pemilik modal. Sehingga hasil dari sumber daya alam hanya dinikmati oleh segelintir orang saja.
Islam akan mengembalikan peran dari setiap individu, baik lelaki maupun perempuan. Lowongan pekerjaan disediakan oleh negara sebesar-besarnya untuk para lelaki dan kepala keluarga demi terpenuhinya keperluan hajat hidup setiap keluarga. Kemudian para ibu bertugas di rumah memberikan pengasuhan yang terbaik untuk anak generasi, bukan sebaliknya.
Gaya hidup dalam Islam juga diatur tidak serta merta hedonisme dan impulsif. Dahulukan apa yang menjadi kebutuhan, bukan hanya sebatas keinginan. Konten-konten sekuler liberalis dan keturunannya pun akan ditutup oleh negara demi menjaga generasi dari pemahaman dan perilaku yang keliru.
Negara akan mengontrol media dan menjadikan media sebagai sarana untuk edukasi serta meningkatkan ketakwaan masyarakat. Bukan sekadar hiburan tak berfaedah. Apalagi tontonan yang bisa merusak akal sehat dan perilaku generasi.
Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia, yakni untuk beribadah kepada Allah SWT, seperti yang tercantum dalam firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku" (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56).
Tujuan hidup seorang muslim ialah beribadah kepada Allah SWT. Semua aktivitasnya senantiasa dilandasi ketakwaan dan keimanan. Sehingga akan membawa pada ketaatan sesuai dengan perintah dan larangan-Nya. Standar kebahagian hidupnya semata-mata untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT.
Dengan akidah yang kokoh dan memahami tujuan hidup di dunia, maka generasi akan memiliki visi sebagai pembangun peradaban Islam. Menjadi generasi tangguh dan kuat. Tidak mudah lemah dengan semua tantangan hidup serta senantiasa semangat dalam menjalani kehidupan. Rasulullah SAW bersabda bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya tetap ada kebaikan. (HR. Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA)
Wallahu 'alam bishawab
