"Alasan dan Jawaban dalam Perspektif Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)"
Oleh Dr. KH. Hery Saparudin M.Pd.I
Nur Ilahi
Di era digital, kemudahan teknologi dirasakan hampir seluruh lapisan masyarakat, dari masyarakat biasa hingga kalangan elite. Teknologi mempercepat komunikasi, dakwah, pendidikan, pelayanan publik dan penyebaran ilmu. Namun, ruang digital juga dapat membentuk budaya pencitraan : Kemewahan, kedudukan, pujian dan pengakuan dipertontonkan, ditonton, dikagumi, bahkan kadang dijadikan ukuran keberhasilan.
Media sosial pada dasarnya hanyalah sarana. Nilai moralnya sangat bergantung pada niat, isi, cara dan dampak penggunaannya. Menampilkan keberhasilan tidak otomatis berarti sombong atau riya. Ia dapat bernilai baik bila dimaksudkan untuk syukur, edukasi, transparansi, inspirasi atau kemaslahatan. Tetapi ia menjadi penyakit hati ketika tujuannya mencari keagungan diri, haus pujian, merendahkan orang lain atau menjadikan nikmat Allah sebagai alat untuk membangun superioritas.
Dua Sisi Era Digital
Sisi positifnya, informasi dapat disampaikan dengan sangat cepat ke berbagai penjuru dunia. Ilmu, dakwah, karya, peluang ekonomi, kegiatan sosial dan berbagai bentuk kebaikan dapat menjangkau masyarakat dalam hitungan detik. Kelebihan dan kekurangan suatu hal juga lebih cepat diketahui, sehingga ruang evaluasi dan kontrol publik menjadi terbuka.
Sisi negatifnya, arus informasi yang tidak terkendali dapat melahirkan fitnah, manipulasi citra, perbandingan sosial, iri hati, ketidakpuasan, konsumtivisme dan dorongan untuk terus mencari validasi. Apa yang tampak di layar tidak selalu menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Karena itu, seorang Muslim perlu membangun kecerdasan digital sekaligus kedalaman spiritual.
Al-Qur'an : Ukuran Kemuliaan Bukan Pamer Dunia
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan jangan berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman [31]: 18).
Ayat ini menegaskan, bahwa kesombongan memiliki dimensi batin sekaligus perilaku lahir.
لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
QS. Al-Hadid [57]: 23, mendidik manusia agar tidak larut dalam kehilangan dan tidak membanggakan secara angkuh apa yang dianugerahkan kepadanya. Nikmat seharusnya melahirkan syukur, bukan superioritas.
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang - orang yang tidak menghendaki kesombongan di bumi dan tidak pula berbuat kerusakan. Kesudahan yang baik adalah bagi orang - orang bertakwa.” (QS. Al-Qashash [28]: 83).
Orientasi seorang salik bukan meninggikan citra diri, melainkan mencari ridha Allah.
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm [53]: 32). Ayat ini sangat relevan dengan budaya pencitraan : Manusia tidak perlu membangun kesucian semu di hadapan publik; Allah mengetahui keadaan batin yang sesungguhnya.
Hadis Sahih : Allah Melihat Hati dan Amal
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَىٰ صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Rasulullah ﷺ bersabda :
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim, no. 2564). Hadis ini menjadi koreksi mendasar terhadap budaya yang hanya mengukur manusia dari tampilan, kekayaan, popularitas, dan simbol status.
Hadis Sahih : Definisi Kesombongan
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Ketika Rasulullah ﷺ menjelaskan kesombongan, beliau bersabda: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim, no. 91). Jadi, memiliki pakaian bagus, kendaraan, jabatan atau harta bukan otomatis kesombongan. Inti kibr, adalah sikap batin yang menolak kebenaran dan memandang rendah orang lain.
Inilah batas penting dalam menilai perilaku digital. Kita tidak boleh mudah memvonis isi hati seseorang hanya dari satu unggahan. Namun, setiap orang wajib bermuhasabah : Apakah unggahan itu sarana manfaat dan syukur atau sarana meninggikan diri dan merendahkan pihak lain ?
Hadis Sahih : Bahaya Mencari Popularitas dan Pamer
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ
Rasulullah ﷺ bersabda : “Barang siapa memperdengarkan amalnya agar dikenal, Allah akan menyingkapkannya; dan barang siapa beramal karena riya, Allah akan menampakkan riya itu.” Makna ini diriwayatkan dalam hadis sahih al-Bukhari dan Muslim.
Peringatannya sangat relevan dengan era ketika amal, sedekah, ibadah dan keberhasilan mudah dijadikan konten.
Hadis tersebut bukan larangan mutlak mempublikasikan amal baik. Publikasi dapat dibenarkan ketika ada maslahat yang jelas—misalnya edukasi, laporan amanah, mengajak orang lain berbuat baik atau transparansi—selama niat dijaga dan tidak merendahkan orang lain.
Jawaban TQN terhadap Fenomena Digital Dalam perspektif pembinaan ruhani Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN), masalah utamanya bukan teknologi, melainkan nafs yang menggunakan teknologi. Karena itu, jawaban TQN bukan meninggalkan dunia digital, tetapi menundukkan penggunaannya kepada adab, syariat, dzikir, muhasabah dan tazkiyatun nafs.
1. Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa) — Pamer, ujub, riya, hasad dan takabbur adalah penyakit yang perlu dibersihkan. Seorang salik belajar mengenali gerak nafs sebelum menilai orang lain.
2. Ikhlas : Menggeser Pusat Penilaian — Ukuran utama bukan jumlah pengikut, pujian, tanda suka, jabatan, atau kemewahan, melainkan apakah suatu perbuatan diridhai Allah dan memberi manfaat.
3. Dzikir sebagai Penjaga Hati — Tradisi dzikir dalam TQN—baik yang dilaksanakan secara jahr maupun khafi sesuai tuntunan mursyid dan adab tarekat—mendidik kesadaran bahwa Allah selalu menjadi tujuan. Dzikir seharusnya melahirkan kontrol diri, bukan hanya aktivitas lisan.
4. Muraqabah — Kesadaran bahwa Allah mengetahui keadaan batin membuat seorang Muslim tidak menggantungkan harga dirinya pada penonton digital. Sebelum mengunggah sesuatu, ia bertanya; apakah ini benar, perlu, bermanfaat, dan diridhai Allah ?
5. Muhasabah Digital — Periksa niat sebelum mengunggah, periksa dampak setelah mengunggah. Bila konten memancing kesombongan, menyakiti orang, membuka aib, atau sekadar mengejar pujian, kurangi atau tinggalkan.
6. Tawadhu' — Tawadhu bukan berarti menolak nikmat atau berpura-pura miskin. Tawadhu adalah menyadari bahwa nikmat berasal dari Allah, tidak menjadikannya alasan untuk merendahkan manusia, serta tetap menerima kebenaran dari siapa pun.
7. Khidmah dan Manfaat — Ruang digital idealnya diubah dari panggung ego menjadi medan khidmah; menyebarkan ilmu, menolong sesama, memperkuat silaturahmi, mengajak kepada kebaikan, dan menghadirkan ketenangan.
Pandangan Akademik
“Di mata manusia kamu mungkin terlihat sukses. Tetapi di sisi Allah, yang dinilai bukan lagakmu, bukan hartamu dan bukan pula pencapaianmu. Allah melihat hati dan amalmu.”
Menurut Dr. KH. Hery Saparudin M.Pd.I., ungkapan tersebut menegaskan bahwa ukuran spiritual tidak identik dengan ukuran popularitas. Prestasi dan kekayaan dapat menjadi nikmat dan amanah, tetapi nilainya bergantung pada hati, cara memperoleh, cara menggunakan dan manfaat yang ditimbulkannya.
“Sombong itu di dalam hati, cirinya dapat terlihat di luar. Suka memamerkan diri, merasa paling benar, menolak kebenaran dan merendahkan orang lain adalah tanda yang perlu kita waspadai.”
Kalimat ini perlu dipahami secara hati - hati : Tanda lahir menjadi bahan muhasabah, bukan alasan untuk memastikan isi hati orang lain. Hadis sahih memberi definisi yang tegas, bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.
Formula Praktis TQN untuk Bermedia Sosial
- Benarkan Niat : Unggah karena manfaat, bukan semata-mata mencari pengakuan.
- Jaga kebenaran : Tabayyun sebelum membagikan informasi.
- Jaga Hati : Jangan menjadikan pujian sebagai makanan jiwa.
- Jaga Adab : Jangan menghina, meremehkan, membuka aib, atau membangun citra dengan menjatuhkan orang lain.
- Jaga Nikmat : tampilkan secukupnya dan sertai syukur serta tanggung jawab.
- Perbanyak Dzikir dan Muhasabah : Hati yang ingat Allah lebih mampu menempatkan dunia pada kadarnya.
- Ubah Media Sosial menjadi ruang Khidmah : Ilmu, dakwah, pendidikan, silaturahmi dan kemanfaatan sosial.
Simpulan
Fenomena pamer di era digital tidak cukup dijawab dengan menyalahkan teknologi. Akar persoalannya, adalah orientasi hati.
Al-Qur'an dan hadis sahih mengingatkan bahaya membanggakan diri, mencari ketinggian, menolak kebenaran, merendahkan manusia dan beramal demi pandangan orang.
Jawaban TQN, adalah pendidikan batin : Tazkiyatun nafs, ikhlas, dzikir, muraqabah, muhasabah, tawadhu dan khidmah. Seorang salik tidak harus menghilang dari dunia digital; ia harus hadir dengan hati yang terjaga. Teknologi berada di tangan, tetapi Allah tetap berada dalam kesadaran hati.
“Jangan jadikan media sosial, sebagai panggung untuk membesarkan ego. Jadikan ia, jalan untuk membesarkan manfaat. Sebab yang abadi bukan seberapa banyak manusia memandang kita, tetapi bagaimana Allah menilai hati dan amal kita.”
Rujukan Utama
Al-Qur'an: QS. Luqman [31]: 18; QS. Al-Hadid [57]: 23; QS. Al-Qashash [28]: 83; QS. An-Najm [53]: 32.
Sahih Muslim, Kitab al-Birr wa al-Silah wa al-Adab, hadis no. 2564: Allah melihat hati dan amal.
Sahih Muslim, Kitab al-Iman, hadis no. 91 : Definisi al-kibr (kesombongan).
Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim : Hadis tentang sum'ah dan riya (barang siapa memperdengarkan amalnya / berbuat riya).
