![]() |
Oleh: H. Hidayat, S.Pd.I., M.Pd.
Islam dan Zaman
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), kini semakin dekat dengan dunia pendidikan. Dalam hitungan detik, bahwa AI dapat menjawab pertanyaan, merangkum bacaan, menerjemahkan teks, menyusun soal, bahkan membantu menyiapkan bahan ajar. Kemampuan luar biasa ini memunculkan pertanyaan mendasar jika teknologi makin pintar, apakah peran guru makin berkurang ?
Pertanyaan ini layak direnungkan tepat pada peringatan Hari Guru Sedunia, 5 Oktober 2026. UNESCO, mengangkat tema : "Standing with Teachers: 60 Years of Protecting the Profession, Advancing Its Status and Shaping Our Futures." Peringatan ini, sekaligus menandai 60 tahun Rekomendasi ILO/UNESCO 1966, tentang Status Guru. UNESCO juga mencatat, bahwa teknologi digital menjadi salah satu tantangan baru yang mengubah wajah profesi guru.
Disinilah persoalan sebenarnya terletak. Pendidikan bukan sekadar soal seberapa cepat seseorang memperoleh informasi, melainkan bagaimana ia memahami, menilai, memilih dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab. Seorang siswa mungkin mendapat jawaban dalam sekejap lewat AI, tetapi pendidikan tetap harus memastikan ia memahami alasan, sumber, nilai dan konsekuensi dari jawaban tersebut. AI dapat membantu, tetapi guru tetap membimbing cara berpikir dan menilai kebenaran.
1. AI Memberi Jawaban, Guru Membimbing Cara Berpikir
AI memiliki kemampuan luar biasa mengolah informasi. Namun jawaban yang tampak meyakinkan belum tentu benar. Kajian menunjukkan, bahwa AI dapat membantu menyusun materi sekaligus menjadi tutor pendamping, tetapi juga berisiko menyajikan informasi keliru dan menurunkan integritas akademik. Karena itu, literasi AI, berpikir kritis, pemeriksaan fakta dan pengawasan manusia menjadi semakin penting.
Guru tidak perlu berlomba dengan AI dalam kecepatan menjawab. Peran guru justru berubah menjadi pembimbing nalar kritis, membiasakan siswa bertanya : Apa sumbernya ? Dapat dipercaya? Ada pandangan lain ? Bagaimana membuktikannya ?
2. Pendidikan Bukan Hanya Transfer Ilmu
Dalam pandangan Islam, tugas pendidik tidak berhenti pada penyampaian pengetahuan. Al-Qur'an (QS. Al-Jumu'ah [62]: 2) menggambarkan misi Rasulullah meliputi pembacaan ayat, penyucian jiwa (tazkiyah) serta pengajaran Kitab dan Hikmah. Tafsir Ibn Kathir menegaskan keterkaitan erat antara penyucian manusia dan pengajaran ilmu. Artinya, pendidikan bukan sekadar ta'lim, melainkan pembentukan manusia seutuhnya.
Di sinilah batas AI terlihat jelas. AI dapat menjelaskan arti kejujuran, tetapi tidak hidup sebagai teladan kejujuran di hadapan murid. AI dapat menjelaskan kesabaran, tetapi tidak mampu mendampingi anak yang kesulitan dengan sabar dan kasih sayang. Peserta didik membutuhkan bukan hanya informasi, melainkan keteladanan.
3. Guru Masa Depan Bukan Guru yang Menolak AI
Menegaskan pentingnya peran guru bukan berarti menolak teknologi. UNESCO melalui AI Competency Framework for Teachers, memetakan 15 kompetensi guru di era AI, mencakup pola pikir berpusat pada manusia, etika, dasar penerapan, pedagogi, hingga pengembangan profesional. Hubungan pendidikan bergeser dari guru - siswa menjadi guru - AI - siswa.
Guru masa depan bukan yang menjauh dari AI, melainkan yang mampu menggunakannya secara pedagogis dan etis. AI boleh membantu menyusun bahan ajar, tetapi guru yang menentukan kesesuaiannya dengan kebutuhan siswa. AI boleh membantu menulis, tetapi guru menjaga agar kemudahan itu tidak merusak kejujuran akademik. Teknologi adalah alat; guru tetap pendidik.
4. Keteladanan Tidak Dapat Diotomatisasi
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulum al-Din menempatkan kasih sayang kepada peserta didik, pengajaran sesuai kemampuan serta kesesuaian ilmu dan perilaku sebagai tugas utama guru. Gagasan ini kian relevan: siswa yang kehilangan kepercayaan diri tidak selalu butuh jawaban baru; terkadang mereka hanya butuh mendengar, "Coba lagi, kamu mampu."
Hadis Nabi SAW., mengingatkan : "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." Mengajar, adalah aktivitas mulia karena ilmu tidak hanya diketahui, tetapi diwariskan dan dihidupkan. Jika guru hanya dianggap penyampai informasi, sebagian tugasnya memang dapat dibantu AI. Namun guru sejati lebih dari itu ; membimbing nalar, menanamkan nilai, membangun karakter, membaca potensi dan memberi keteladanan.
Simpulan
Tantangan pendidikan hari ini bukan memilih antara guru atau AI, melainkan membangun guru yang mampu memanfaatkan AI tanpa kehilangan jati diri sebagai pendidik. Hari Guru Sedunia 2026 menjadi momen untuk menegaskan kembali: teknologi boleh berubah secepat kilat, tetapi pendidikan tetap membutuhkan sentuhan manusia.
"AI boleh makin pintar, tetapi pendidikan tetap membutuhkan guru yang memiliki ilmu, hikmah, hati dan keteladanan."
Kata Kunci : Guru, kecerdasan buatan, Hari Guru Sedunia, pendidikan Islam, literasi AI, pendidikan digital, keteladanan
Profil Penulis :
H. Hidayat S.Pd.I., M.Pd. ; akademisi dan praktisi pendidikan Islam. Alumni Pondok Pesantren YAMISA, STAI YAMISA, dan UIN. Fokus pada manajemen pendidikan Islam, pendidikan karakter, etika keilmuan, serta pengembangan pendidikan Islam di era digital.
