Oleh : Edy Mulyadi, Wartawan Senior
Opini Publik,-
Senin malam, 28 September 2026. Kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat. Prabowo Subianto bertandang secara personal. Ia didampingi Mensesneg Prasetyo Hadi, Seskab Teddy Indra Wijaya dan Sufmi Dasco Ahmad. Agenda resminya : bertakziah atas wafatnya adik Megawati, Guruh Soekarnoputra.
Di panggung politik, tak ada asap tanpa api. Tak ada jamuan malam yang sebatas basa-basi. Pertemuan dua tokoh nasional itu, jelas bukan sekadar silaturahmi biasa. Senyum yang tampil di depan kamera mungkin hangat. Ucapan para juru bicara terdengar sejuk. Namun bagi siapa pun yang memahami dinamika politik nasional, pertemuan itu adalah sinyal pembuka babak baru kekuasaan.
Prabowo sedang menggambar ulang peta kekuasaannya. Dan, gambar itu dibuat tanpa menggunakan pensil warna dari Solo.
Lepas dari Bayang - Bayang
Sejak dilantik, pertanyaan terbesar yang membayangi Istana hanyalah satu : Seberapa berdaulat Prabowo ? Lebih tepatnya, apakah beliau benar - benar Presiden yang berkuasa secara de jure maupun de facto, bukan sekadar di bawah bayang - bayang dan kendali Jokowi ?
Pertanyaan itu wajar. Publik paham betapa besar peran Jokowi, melapangkan jalan Prabowo menuju kursi kepresidenan. Publik juga mengerti bagaimana dan mengapa Gibran Rakabuming Raka disandingkan di posisi Wakil Presiden.
Namun politik kekuasaan punya hukumnya sendiri. Tak ada presiden yang rela menjadi sekadar "petugas" bagi pendahulunya. Tak ada pemegang tongkat komando yang betah berada di bawah ketiak sang pembuat raja.
Langkah Prabowo menemui Megawati, adalah pernyataan kedaulatan yang terukur. Ini diplomasi jalur belakang yang dirancang untuk satu tujuan utama, menggeser pusat gravitasi kekuasaan dari pengaruh Jokowi. Ini cara Prabowo, menyatakan diri berjalan sendiri.
Langkah ini elegan sekaligus tajam. Prabowo tidak menyerang Jokowi secara terbuka. Tidak pula memutus tali silaturahmi dengan Solo. Beliau memegang kemudi dengan halus.
Namun pesan dari Teuku Umar terdengar jelas bahwa Prabowo Subianto, adalah Presiden Republik Indonesia yang utuh. Beliau menentukan sendiri siapa mitranya, bagaimana strateginya dan ke mana arah kapal Republik berlayar.
Mengapa Megawati yang dirangkul ? Jawabannya sejarah dan perhitungan politik. Prabowo dan Megawati memiliki ikatan emosional yang panjang. Pahit-manis Perjanjian Batu Tulis 2009, membuktikan keduanya berbagi bahasa politik yang sama nasionalisme yang berakar pada kedaulatan dan penghormatan terhadap sejarah bangsa.
Di luar sejarah, ada kenyataan parlemen yang tak terbantahkan. Prabowo sadar menjalankan pemerintahan tanpa stabilitas di DPR adalah bunuh diri politik. Merangkul PDIP, berarti mengamankan benteng pertahanan. Tidak harus masuk kabinet, kesepahaman tak tertulis pun sudah cukup.
Komunikasi cair antara Dasco dan Puan mengubah PDIP dari potensi oposisi keras menjadi mitra kritis yang terkendali. Prabowo, memperoleh penyeimbang yang kokoh. Jika tekanan dari Solo datang, sudah ada aliansi alternatif yang berdiri di Senayan.
Di sini muncul pertanyaan dimana posisi Gibran ? Secara konstitusional, kedudukannya aman. Kecuali jika persoalan ijazah SMA, berakhir di Mahkamah Konstitusi. Namun secara politik, ia kian terisolasi. Jarak antara Teuku Umar dan Solo, menempatkan Wapres di posisi yang sulit ; berada di struktur eksekutif, namun terasing dari kesepakatan besar antara Gerindra dan PDIP. Perannya, berisiko menyusut menjadi pelengkap protokol semata.
Ibarat catur : Prabowo menggerakkan perwira-perwiranya, sementara bidak di sisi lain dibiarkan di pinggir papan.
Di balik kelancaran pertemuan ini, ada dua tokoh yang bekerja senyap : Puan Maharani dan Sufmi Dasco Ahmad.
Puan berperan sebagai penjaga pintu, menjaga jalur komunikasi tetap terbuka tanpa gesekan yang menguras energi. Sementara Dasco, bertindak sebagai perantara yang cekatan, tidak banyak bicara di depan kamera, namun lincah mengurai benang kusut di belakang panggung. Pendekatannya bukan gertakan, melainkan kompromi yang bisa diterima semua pihak.
Melalui keterampilan Puan dan perhitungan Dasco, simpul yang rumit antara Istana, Banteng dan Senayan akhirnya terikat tanpa gaduh.
Bagaimana respon kubu Solo ? Di permukaan, bahwa Jokowi tetap irit bicara, menyebut silaturahmi antar tokoh bangsa itu hal baik. Namun di balik layar, lingkaran Solo tak akan diam. Penguatan jaringan relawan, pemantapan posisi di partai pendukung dan konsolidasi dukungan bisnis adalah langkah bertahan sekaligus bersiap.
Pertarungan pengaruh ini tak akan meledak menjadi konflik terbuka, kedua pihak sama - sama menjaga stabilitas. Yang terjadi adalah perang dingin ; politik halus, senyap, namun menentukan arah kebijakan ke depan.
Panggung politik Indonesia kini memasuki babak baru. Di babak ini, Prabowo mulai berdiri di atas kakinya sendiri. Lepas dari bayang - bayang, apalagi kendali, pendahulunya. Setidaknya, begitulah harapan rakyat.
Jakarta, 30 September 2026.
Editor TM.