Oleh : H. Sugandi Miharja Ph.D.
Opini Publik
Ada satu kebiasaan kecil di jalan raya yang menarik untuk direnungkan, membunyikan klakson.
Bunyinya sederhana, tetapi maknanya bisa sangat berbeda. Satu bunyi klakson dapat berarti peringatan keselamatan, ungkapan ketidaksabaran, bahkan sekadar tegur sapa. Karena itu, persoalannya bukan hanya seberapa sering kita membunyikan klakson, tetapi untuk apa dan untuk siapa klakson itu dibunyikan.
Saya pernah berkunjung ke Jepang atas undangan The Japan Foundation. Dalam perjalanan dan pengamatan terhadap kehidupan masyarakat di sana, saya melihat bahwa lalu lintas bukan hanya persoalan kendaraan dan aturan, tetapi juga persoalan budaya, kedisiplinan dan penghormatan terhadap ruang publik. Pengalaman tersebut, membuat saya semakin tertarik melihat kebiasaan berlalu lintas di Indonesia, termasuk soal klakson.
Secara fungsi utama, klakson adalah perangkat komunikasi alat keselamatan saat mengendarai kendaraan bermotor dengan di gunakan pada saat darurat. Ketika pejalan kaki tidak menyadari adanya kendaraan, ketika kendaraan lain bergerak membahayakan atau ketika perhatian segera dibutuhkan, klakson berbicara sederhana : "Hati - hati, ada kendaraan di sekitar Anda."
Ini, adalah klakson yang berorientasi kepada orang lain, komunikasi preventif demi mencegah bahaya. Disinilah klakson memiliki nilai sosial yang mulia.
Namun fungsi itu bergeser ketika klakson dibunyikan berulang-ulang saat antrean belum bergerak, lampu baru berubah atau kendaraan di depan dianggap terlalu lambat. Bukan bahaya yang mendesak, melainkan ketidaksabaran yang meluap. Bunyi yang berulang menjadi tekanan kepada pengguna jalan lain mendesak, menyalahkan, bahkan mempermalukan. Jalan raya yang seharusnya ruang bersama, berubah menjadi arena saling melampiaskan emosi.
Ada pula wajah ketiga ; klakson sebagai sapaan. Di lingkungan yang kebersamaan masih kental, bunyi klakson bisa berarti "Saya lewat," "Apa kabar?" atau "Sampai jumpa." Budaya lokal memberi warna pada teknologi. Tetapi bahasa sosial ini tetap harus tahu tempat, sapaan yang akrab di kampung bisa menjadi gangguan di sekitar rumah sakit, sekolah atau tempat ibadah.
Ada enam (4) panduan yang dapat menjadi cermin etika kita di ruang publik :
1. Bunyikan untuk keselamatan, hanya jika ada bahaya nyata yang perlu diwaspadai segera.
2. Gunakan secara singkat dan proporsional, satu bunyi pendek sudah cukup, tidak perlu berulang berkali-kali.
3. Bukan pelampiasan emosi ; kemarahan, frustrasi atau tekanan waktu tidak boleh dialihkan kepada orang lain melalui bunyi klakson.
4. Bukan alat pemaksa, pengguna jalan lain bukan bawahan kita ; jalan raya, adalah milik bersama.
5. Perhatikan lingkungan ; ada ruang yang ramai, ada pula ruang yang butuh ketenangan.
6. Bedakan kebutuhan keselamatan dengan keinginan pribadi, berhenti sejenak dan tanya : "Saya menekan klakson karena bahaya atau karena saya tidak sabar ?"
Pertanyaan sederhana ini sesungguhnya adalah latihan kesadaran diri.
Kita kerap menganggap etika berlalu lintas hanya soal menaati lampu merah, memakai sabuk pengaman atau tidak melawan arus. Padahal, etika juga terlihat dari bagaimana kita memperlakukan orang lain saat berada di ruang publik.
Klakson pertama untuk keselamatan, berorientasi pada orang lain.
Klakson kedua untuk ketidaksabaran, berpusat pada diri sendiri.
Klakson ketiga untuk tegur sapa, berwarna budaya dan keakraban.
Sama - sama berasal dari satu tombol, tetapi motif dan maknanya berbeda jauh.
Pada akhirnya, kualitas budaya lalu lintas tidak hanya terlihat dari mulusnya jalan atau canggihnya kendaraan. Ia terlihat dari kemampuan manusia mengendalikan diri, saat berbagi ruang dengan sesama.
Menekan klakson sangat mudah. Menahan diri saat tidak perlu justru lebih mulia.
Maka, lain kali tangan kita hendak menekan tombol itu, pertanyaannya bukan : "Mengapa yang di depan tidak segera jalan ?" Melainkan ;
"Apakah suara klakson saya sedang menyelamatkan seseorang, menyapa seseorang atau hanya sedang melampiaskan diri ?"
Sebab cara kita membunyikan klakson, adalah bagian kecil dari cara kita menghormati sesama di jalan raya.
Editor TM.

