"Koreksi Studi Tradisional untuk Memperkuat Kesiapan dan Produktivitas Lulusan"
Oleh Dr. H. Sugandi Miharja
Artikel,-
Studi ilmu sosial perlu mengubah orientasinya. Pola tradisional biasanya dimulai dari hafalan materi, definisi, teori, tokoh dan konsep, lalu diarahkan pada penerapan. Pendekatan ini tetap penting sebagai fondasi, tetapi perlu dikembangkan agar lulusan mampu menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan nyata. Perguruan tinggi berperan memperkuat kesiapan lulusan menghadapi perubahan dunia kerja, perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, pembelajaran dapat dimulai dari HOTS, dilanjutkan ke MOTS, lalu diperkuat dengan LOTS. Prosesnya berangkat dari pertanyaan : Masalah apa yang perlu dipahami, persoalan apa yang perlu dipecahkan, perubahan apa yang dapat dikembangkan dan kontribusi apa yang dapat diberikan lulusan ? Dari sana ditentukan keterampilan penerapan dan pengetahuan dasar yang diperlukan.
HOTS (Higher Order Thinking Skills) menjadi arah utama. Mahasiswa didorong menganalisis masalah sosial, mengevaluasi informasi, menemukan kesenjangan, merumuskan pertanyaan penelitian dan menciptakan alternatif solusi. Dalam ilmu sosial, mahasiswa tidak cukup bertanya, “Apa itu kemiskinan?” Mereka perlu mengkaji : “Mengapa kemiskinan terjadi dalam konteks tertentu, faktor apa yang saling berhubungan, bagaimana bukti menjelaskan fenomena tersebut dan intervensi apa yang dapat dikembangkan?”
Orientasi ini sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan masyarakat yang menuntut kemampuan memecahkan masalah, beradaptasi, berkomunikasi, berkolaborasi, memanfaatkan teknologi dan menciptakan nilai. Karena itu, mahasiswa perlu menghadapi persoalan autentik selama studi. Bekal tersebut, membuka peluang untuk memasuki dunia kerja, mengembangkan layanan profesional, melakukan penelitian, membangun kewirausahaan sosial dan menghasilkan kontribusi produktif lainnya.
Setelah masalah dan tujuan berpikir ditentukan melalui HOTS, proses berlanjut ke MOTS (Middle Order Thinking Skills) sebagai jembatan menuju tindakan. Mahasiswa belajar menerapkan teori, menggunakan metode, membaca data, melakukan asesmen, menyusun program, memanfaatkan teknologi dan menguji alternatif solusi. Dalam Bimbingan dan Konseling, misalnya, teori konseling diterapkan melalui asesmen kebutuhan, perencanaan layanan, praktik konseling, evaluasi dan pengembangan program.
Selanjutnya, LOTS (Lower Order Thinking Skills) menjadi fondasi. Mahasiswa tetap perlu menguasai konsep, istilah, fakta, teori, prinsip dan prosedur dasar. Namun, semua itu dipelajari untuk mendukung pemahaman dan penyelesaian masalah, bukan sekadar dihafalkan.
Pola tersebut dapat dirumuskan : HOTS, MOTS, LOTS : Masalah & tujuan → Penerapan & keterampilan → Pengetahuan & konsep dasar.
Proses kemudian bergerak kembali: LOTS + MOTS + HOTS → KARYA → PRODUKTIVITAS → KONTRIBUSI SOSIAL. Dengan pendekatan ini, studi ilmu sosial tidak dimulai dari pertanyaan “Apa yang harus dihafalkan ?”, melainkan “Apa yang perlu dipahami, dianalisis, dievaluasi dan dikembangkan ?” Setelah itu, ditentukan teori, konsep, metode, data dan keterampilan yang diperlukan.
Membalik urutan LOTS–MOTS–HOTS bukan berarti mengabaikan pengetahuan dasar. Pendekatan ini justru menempatkan pengetahuan secara fungsional ; pengetahuan menjadi fondasi berpikir, keterampilan menjadi sarana bertindak dan HOTS menjadi pengarah untuk menciptakan nilai serta perubahan.
Dengan demikian, pendidikan tinggi dapat beralih dari kampus yang berorientasi pada materi menuju kampus yang berorientasi pada masalah, kompetensi, karya dan kontribusi. Tujuannya bukan menjamin setiap lulusan memperoleh pekerjaan, karena kesempatan kerja dipengaruhi kondisi ekonomi dan struktur pasar kerja. Pendidikan dapat memperkuat kesiapan, adaptabilitas, kompetensi, kreativitas dan kemampuan lulusan untuk memasuki dunia kerja atau mengembangkan peluang produktif secara mandiri.
HOTS menjadi arah. MOTS menjadi jalan. LOTS menjadi fondasi. Kesiapan, produktivitas dan kontribusi menjadi orientasi.
(Redaksi)