“Maulid boleh berlalu, tetapi teladan Rasul harus terus menyala melalui belajar, karya, literasi digital, keterbukaan informasi, dan pengabdian.”
Oleh: Prof. Dr. H. A. Rusdiana, M.M. (Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung / Dewan Kehormatan elitkita.com)
elitKITA.com — Tanggal 29 Rabi’ul Awal 1448 H/11 September 2026 M menjadi penghujung perjalanan bulan Maulid sekaligus momentum untuk bertanya: setelah peringatan berlalu, apa yang tetap tinggal dalam kehidupan kita?
Fenomena yang tampak setiap Rabi’ul Awal menunjukkan kuatnya kecintaan umat kepada Rasulullah SAW. melalui salawat, pengajian, tabligh, kajian sirah, dan berbagai kegiatan sosial-keagamaan. Namun, tantangan sesungguhnya hadir setelah suasana peringatan itu berlalu: apakah kecintaan tersebut mampu terus hidup dalam perilaku belajar, bekerja, menulis, menggunakan teknologi, menyampaikan informasi, dan mengabdi kepada masyarakat?
Secara normatif, Islam menempatkan Rasulullah SAW. sebagai uswatun hasanah, teladan terbaik bagi kehidupan manusia sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Ahzab [33]: 21. Keteladanan tersebut tidak berhenti pada dimensi ritual, tetapi menyentuh nilai kejujuran, amanah, kecerdasan, tanggung jawab, dan kemanfaatan sosial.
Dalam konteks kekinian, nilai-nilai itu bertemu dengan konsep literasi digital, yakni kemampuan bukan hanya mengakses dan memproduksi informasi, tetapi juga menilai kebenaran, memahami konteks, menjaga etika, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Dengan demikian, kecakapan digital tanpa adab berpotensi menghasilkan informasi yang cepat, tetapi belum tentu benar dan bermanfaat.
Di sinilah terdapat Gap atau Persoalan.
Ruang digital berkembang sangat cepat, sementara kedewasaan literasi tidak selalu bergerak dengan kecepatan yang sama. Informasi dapat diproduksi dalam hitungan detik, terlebih dengan hadirnya kecerdasan artifisial (AI), tetapi verifikasi sumber, penghormatan terhadap hak cipta, kejujuran akademik, akurasi informasi, dan tanggung jawab publik tetap membutuhkan integritas manusia.
Demikian pula, Karya Tulis Ilmiah (KTI) dapat semakin mudah disusun dengan bantuan teknologi, tetapi kemudahan tersebut tidak boleh menghilangkan proses berpikir kritis dan tanggung jawab intelektual penulis. Keterbukaan Informasi Publik (KIP) pun tidak cukup dimaknai sekadar membuka informasi, melainkan memastikan informasi yang disampaikan benar, proporsional, dapat dipertanggungjawabkan, dan memberi kemaslahatan kepada masyarakat.
Refleksi ini terasa semakin bermakna ketika pada hari ini saya mendapat amanah berada di Dewan Kehormatan elitkita.com, bersama Prof. H. Wildan Anas, Prof. Hj. Ulfiah, Prof. Badrudin, dan Prof. Rohmat Mulyana. Amanah tersebut saya pahami bukan semata-mata sebagai posisi, melainkan tanggung jawab moral untuk ikut menjaga marwah ruang informasi. Terlebih, lingkup perhatian media ini bersentuhan dengan Karya Tulis Ilmiah, literasi digital, dan Keterbukaan Informasi Publik—tiga ranah yang membutuhkan perpaduan antara kecakapan, kebenaran, keterbukaan, etika, dan kemanfaatan.
Tulisan ini bertujuan merefleksikan bagaimana cinta kepada Rasulullah Saw. dapat ditransformasikan menjadi etos literasi yang beradab di ruang digital:
Cinta yang menggerakkan semangat belajar, ilmu yang melahirkan karya, teknologi yang dikendalikan oleh etika, serta keterbukaan informasi yang memperkuat kepercayaan publik. Dengan perspektif tersebut, spirit Maulid tidak berhenti ketika Rabi’ul Awal berakhir, tetapi diteruskan dalam tindakan nyata yang relevan dengan kehidupan akademik, media, dan masyarakat digital.
Dari refleksi tersebut, setidaknya terdapat empat pelajaran penting yang layak direnungkan bersama:
Pertama, cinta Rasul harus bergerak menjadi keteladanan;
Allah menegaskan bahwa pada diri Rasulullah Saw. terdapat uswatun hasanah, teladan yang baik (QS. Al-Ahzab [33]: 21). Karena itu, cinta kepada Nabi tidak cukup dinyatakan melalui ucapan dan peringatan. Cinta harus terlihat dalam kejujuran, amanah, kecerdasan, kesantunan, serta kepedulian kepada sesama.
Di tengah derasnya arus informasi digital, keteladanan tersebut semakin penting. Menulis berita, opini, Karya Tulis Ilmiah (KTI), maupun konten digital bukan sekadar persoalan kemampuan merangkai kata. Setiap tulisan membawa tanggung jawab moral. Informasi harus diperiksa, sumber harus dihormati, fakta tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan, dan perbedaan tidak semestinya berubah menjadi permusuhan.
Kedua, belajar harus melahirkan karya dan kemanfaatan;
Semangat belajar merupakan salah satu jalan meneruskan keteladanan. Pendidikan tidak semestinya berhenti ketika materi selesai disampaikan atau tugas memperoleh nilai. Ilmu perlu bergerak dari materi menuju kompetensi, dari tugas menuju karya, dan dari ilmu menuju manfaat. Mahasiswa dapat mengembangkan tugas kuliah menjadi artikel, penelitian, berita, feature, media pembelajaran, atau gagasan yang dapat dibaca masyarakat.
Dosen pun memiliki tanggung jawab untuk terus belajar, meneliti, menulis, membimbing, dan berbagi pengetahuan. Di sinilah media digital mempunyai posisi strategis: menjadi jembatan yang membawa ilmu keluar dari ruang kelas menuju ruang publik. Literasi akhirnya bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi kemampuan menghadirkan pengetahuan yang berguna.
Ketiga, literasi digital membutuhkan adab dan integritas;
Kemudahan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial, telah mempercepat produksi dan penyebaran informasi. Namun, kecepatan tidak selalu identik dengan kebenaran. Literasi digital karena itu harus dibangun di atas kemampuan memeriksa fakta, memahami konteks, menghargai hak cipta, menjaga etika komunikasi, serta bertanggung jawab atas setiap informasi yang disebarkan.
Kehadiran AI pun seharusnya memperkuat daya pikir manusia, bukan menggantikan kejujuran intelektual. Dalam konteks KTI, teknologi dapat membantu pencarian gagasan, pengolahan data, dan penyuntingan, tetapi penulis tetap bertanggung jawab atas argumentasi, sumber, orisinalitas, dan kebenaran karya. Teknologi boleh semakin cerdas, tetapi manusia tidak boleh kehilangan adab.
Keempat, keterbukaan informasi harus memperkuat kepercayaan publik;
Keterbukaan Informasi Publik (KIP) merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat modern. Keterbukaan bukan sekadar membuka sebanyak-banyaknya informasi, melainkan menghadirkan informasi yang benar, relevan, dapat dipertanggungjawabkan, dan memberikan manfaat kepada masyarakat. Media mempunyai peran penting dalam membangun jembatan antara informasi, pengetahuan, dan kepentingan publik.
Karena itu, KTI, literasi digital, dan KIP sesungguhnya memiliki satu titik temu: membangun masyarakat yang berpengetahuan sekaligus berintegritas. Media tidak cukup mengejar kecepatan dan perhatian pembaca. Media juga perlu menjaga akurasi, keberimbangan, pendidikan publik, dan martabat manusia. Di situlah kehormatan media memperoleh maknanya.
Penghujung Rabi’ul Awal bukanlah akhir dari keteladanan. Justru setelah gema Maulid mereda, nilai-nilai Rasulullah SAW. diuji dalam kehidupan nyata: bagaimana kita belajar, mengajar, menulis, menggunakan teknologi, menyampaikan informasi, dan melayani masyarakat.
Amanah di Dewan Kehormatan elitkita.com saya maknai sebagai bagian dari ikhtiar tersebut. Kehormatan bukan terutama tentang posisi, melainkan tanggung jawab menjaga nilai. Dunia digital membutuhkan orang-orang yang tidak hanya terampil menghasilkan informasi, tetapi juga mampu menjaga kebenaran, etika, keterbukaan, dan kemanfaatannya bagi kehidupan.
Maulid boleh berlalu, tetapi teladan Rasul tidak boleh padam. Cinta kepada beliau harus bergerak menjadi semangat belajar; belajar berkembang menjadi ilmu; ilmu melahirkan karya; karya dijaga oleh adab dan integritas; kemudian semuanya bermuara pada pengabdian. Di tengah derasnya ruang digital, ukuran kemajuan bukan hanya seberapa cepat informasi diproduksi dan disebarkan, melainkan seberapa benar, beradab, terbuka, dan bermanfaat informasi itu bagi masyarakat. Itulah jalan menjadikan literasi sebagai bagian dari pengabdian dan ilmu sebagai cahaya kehidupan. Wallahu A’lam.
Editor IT : A'Hendra, S.Sos (Pimred)
Penulis:
A. Rusdiana, Guru besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Lulusan S-3 Pascasarjana UNINUS Tahun 2012. Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Pangkat Penjelajah Penulis di Kompasiana sejak 22 Januari 2025. Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.