
Oleh: Arshana Malika
elitKITA.com // Generasi Z tumbuh di tengah perubahan ekonomi yang cepat dan penuh ketidakpastian. Bagi banyak anak muda, memiliki pekerjaan dan penghasilan n ternyata belum otomatis menghadirkan rasa aman secara finansial. Survei yang dikutip dalam pemberitaan menunjukkan bahwa lebih dari 48 persen Gen Z tidak merasa aman dengan kondisi keuangannya. Kekhawatiran terhadap biaya hidup, masa depan, kebutuhan sehari-hari, dan kemampuan membangun kehidupan yang stabil menjadi persoalan yang membayangi generasi ini. (Berita Energi Samarinda, 2026).
Tekanan ekonomi tersebut juga terlihat dari dilema yang dihadapi Gen Z dalam mengatur penghasilannya. Di satu sisi, mereka didorong untuk menabung dan mempersiapkan masa depan, tetapi di sisi lain mereka ingin menikmati hidup setelah bekerja keras. Self-reward, healing, dan berbagai bentuk konsumsi pengalaman pun semakin populer di kalangan anak muda. Pengeluaran tersebut sering kali tidak lagi dipandang sekadar sebagai kemewahan, melainkan sebagai kebutuhan untuk menjaga kondisi emosional di tengah tekanan kehidupan. (Kompas.com, 12 Agustus 2026).
Fenomena tersebut menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap konsumsi. Bagi sebagian Gen Z, membeli sesuatu, pergi berlibur, menikmati kuliner, atau mengikuti tren tertentu dianggap sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Media sosial ikut memperkuat kecenderungan ini karena kehidupan orang lain terus ditampilkan dalam bentuk yang tampak menyenangkan dan ideal. Akibatnya, muncul dorongan untuk tidak tertinggal dari tren, pengalaman, atau gaya hidup yang sedang populer.
Di tengah kondisi tersebut, Gen Z sebenarnya berada dalam persimpangan yang tidak mudah. Mereka dituntut untuk mandiri secara finansial, membangun karier, memiliki tabungan, dan mempersiapkan masa depan, sementara biaya hidup terus menjadi tantangan. Pada saat yang sama, mereka juga hidup dalam lingkungan digital yang terus menawarkan kesenangan dan konsumsi sebagai bagian dari gaya hidup. Tekanan ekonomi dan budaya konsumtif akhirnya bertemu dan menciptakan persoalan yang tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga berkaitan dengan cara manusia memahami kebahagiaan dan tujuan hidup. (Kompas.com, 3 Mei 2026).
Tekanan Ekonomi dan Pelarian Hedonis
Dalam perspektif kritik terhadap kapitalisme, tekanan ekonomi yang dihadapi Gen Z bukanlah persoalan individual semata. Sistem ekonomi kapitalistik menempatkan individu dalam persaingan untuk memperoleh pekerjaan, pendapatan, dan akses terhadap berbagai kebutuhan hidup. Ketika biaya hidup meningkat sementara kemampuan ekonomi tidak selalu bertumbuh sebanding, generasi muda dituntut untuk berjuang sendiri agar dapat bertahan. Negara cenderung tidak menjamin seluruh kebutuhan dasar rakyat secara langsung, sehingga beban kehidupan semakin banyak dipikul oleh individu dan keluarga.
Situasi tersebut menciptakan tekanan psikologis yang besar. Ketidakpastian pekerjaan, harga kebutuhan yang meningkat, biaya tempat tinggal, serta tuntutan untuk sukses dalam usia muda membuat banyak anak muda merasa kelelahan. Dalam kondisi demikian, self-reward dan healing kemudian hadir sebagai bentuk pelarian yang dianggap wajar. Setelah menghadapi tekanan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, konsumsi ditawarkan sebagai cara untuk mendapatkan kebahagiaan meskipun hanya sementara.
Masalahnya, budaya tersebut tidak berdiri sendiri. Sistem sekuler-liberal memberikan kebebasan luas kepada industri untuk terus menciptakan keinginan baru melalui iklan, hiburan, dan media sosial. Tren populer terus berganti dan menciptakan rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO). Seseorang dapat merasa harus membeli barang tertentu, mengunjungi tempat tertentu, atau mengikuti gaya hidup tertentu agar tetap dianggap relevan dalam lingkungan sosialnya.
Budaya konsumsi akhirnya menjadi lingkaran yang sulit diputus. Tekanan hidup membuat seseorang ingin mencari kesenangan, sementara industri menawarkan berbagai produk dan pengalaman sebagai jawabannya. Setelah kesenangan tersebut berlalu, persoalan ekonomi tetap ada, bahkan dapat bertambah karena pengeluaran yang tidak terkontrol. Gen Z kemudian kembali menghadapi tekanan yang sama dan mencari pelarian baru, sehingga siklus konsumsi terus berlangsung.
Namun, persoalan Gen Z sesungguhnya tidak berhenti pada ekonomi dan gaya hidup. Ada krisis yang lebih mendasar, yaitu hilangnya pemahaman tentang tujuan hidup manusia. Ketika kehidupan hanya dipahami sebagai kesempatan untuk mengejar kebahagiaan pribadi dan kepuasan materi, manusia akan terus mencari sesuatu yang baru untuk mengisi kekosongan. Standar kebahagiaan pun mudah berubah sesuai tren, pendapatan, dan penilaian sosial.
Mengembalikan Tujuan Hidup
Generasi
Islam menawarkan cara pandang yang berbeda dalam melihat persoalan kehidupan manusia. Islam tidak menolak manusia bekerja, memiliki harta, menikmati rezeki yang halal, atau mendapatkan kebahagiaan duniawi. Namun, seluruh aktivitas tersebut ditempatkan dalam kerangka yang benar, yaitu sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah SWT. Dengan demikian, kebahagiaan tidak hanya diukur berdasarkan banyaknya barang yang dimiliki atau pengalaman yang dapat dibeli.
Bagi generasi muda, sistem tersebut diharapkan dapat mengurangi beban untuk menghadapi seluruh persoalan hidup sendirian. Negara mendorong terbukanya lapangan pekerjaan dan pengembangan kemampuan masyarakat agar setiap individu dapat menjalankan perannya secara produktif. Dalam pandangan Islam, laki-laki sebagai pencari nafkah diberikan peluang untuk bekerja dan memenuhi tanggung jawab terhadap keluarganya. Dengan adanya tanggung jawab negara dalam pengurusan rakyat, persoalan ekonomi tidak seluruhnya dibebankan kepada kemampuan individu menghadapi pasar.
Islam juga memiliki pandangan yang jelas terhadap gaya hidup. Hedonisme dan konsumsi berlebihan tidak dijadikan standar kehidupan, sementara sikap sederhana dan bertanggung jawab terhadap harta didorong dalam kehidupan sehari-hari. Media dan ruang publik semestinya tidak terus-menerus mendorong masyarakat mengejar kesenangan sesaat. Media diarahkan untuk memberikan edukasi, membangun kesadaran, serta meningkatkan ketakwaan masyarakat.
Yang paling mendasar adalah Islam membangun mengenai tujuan hidup manusia. Allah SWT berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56 bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah dalam pengertian Islam tidak terbatas pada ritual, tetapi mencakup seluruh aktivitas kehidupan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan Allah. Dengan pemahaman tersebut, generasi muda memiliki arah yang lebih besar daripada sekadar mengejar tren dan kepuasan sesaat.
Gen Z memiliki potensi besar sebagai generasi yang akan menentukan arah masyarakat di masa depan. Energi, kreativitas, kemampuan teknologi, dan jumlah mereka yang besar dapat menjadi kekuatan penting bagi kebangkitan umat. Namun, potensi tersebut membutuhkan arah dan tujuan yang benar agar tidak habis hanya untuk mengejar gaya hidup yang terus berubah. Akidah Islam yang kokoh dapat membentuk generasi yang memahami bahwa kehidupannya memiliki misi yang lebih besar, yaitu menjadi hamba Allah sekaligus berkontribusi dalam membangun peradaban yang berlandaskan Islam.
Karena itu, persoalan Gen Z yang terhimpit tidak cukup dijawab dengan nasihat agar lebih hemat atau lebih pandai mengatur keuangan. Persoalan tersebut memiliki dimensi ekonomi, budaya, dan ideologis yang saling berkaitan. Tekanan ekonomi perlu diatasi melalui sistem yang benar, budaya hedonis perlu digantikan dengan pola hidup yang bertanggung jawab, dan krisis tujuan hidup harus dijawab dengan akidah Islam. Dengan cara pandang tersebut, generasi muda tidak hanya mampu bertahan menghadapi kehidupan, tetapi juga memiliki arah untuk menjalani hidup dengan penuh makna dan perjuangan.
Wallahu 'alam bishawab.