Oleh : Dr.H.Hery Saparudin M.PD.I
NŪR ILĀHĪ
TQN, adalah sintesis dua Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah, menjadi satu sistem amaliah yang utuh dan memiliki ciri khas tersendiri, bukan sekadar digabungkan berdampingan.
- Pendiri/perumus : Syekh Ahmad Khatib Sambas, ulama asal Sambas, Kalimantan Barat, yang bermukim di Mekah pada abad ke-19.
- Unsur Qadiriyah : zikir jahr (bersuara), silsilah, khataman, manakiban, pembaiatan.
- Unsur Naqsyabandiyah : zikir khafi (diam/batin), pembiasaan zikir berkesinambungan.
- Sebelum TQN, penggabungan tarekat sudah ada (misal Ibrahim al-Kurani), tetapi TQN membentuk identitas & konfigurasi baru yang khas Indonesia.
Tokoh Sentral : Syekh Ahmad Khatib Sambas
- Lahir : 1217 H / 1802 M, Sambas, Kalimantan Barat
- Nama lengkap : Muhammad Khatib ibn 'Abd al-Ghaffar al-Sambasi al-Jawi
- Pendidikan di Mekah: dididik oleh Syekh Dawud al-Fatani, kemudian dibaiat kepada Syekh Syams al-Din (mursyid Qadiriyah)
- Keahlian : menguasai Al-Qur'an, hadis, fikih, dan ilmu syariat sebelum mendalami tasawuf
- Kedudukan : Setelah gurunya wafat, dikenal sebagai Syekh Mursyid Kamil al-Mukammil
- Kisah Karamah : Banyak beredar di kalangan murid, dipahami sebagai narasi hagiografis (penghormatan komunitas), bukan fakta sejarah terverifikasi
Silsilah Spiritual
Mata rantai dimulai dari Nabi Muhammad SAW → Ali → para Imam → Syekh Abdul Qadir al-Jaylani → berlanjut hingga Syekh Syams al-Din → Syekh Ahmad Khatib Sambas.
Silsilah berfungsi sebagai legitimasi, identitas dan kelanjutan pembinaan rohani.
Ajaran & Amaliah TQN
Bentuk Praktik Keterangan
Zikir Jahr Dilafalkan dengan suara terdengar (warisan Qadiriyah)
Zikir Khafi, dilakukan secara diam/batin, berulang & berkesinambungan (warisan Naqsyabandiyah)
Khataman Pembacaan penuntasan Al-Qur'an/zikir bersama
Manakiban Pembacaan riwayat & pujian kepada Nabi serta para wali
Baiat Ikrar kesetiaan & pembinaan langsung mursyid kepada murid hubungan Mursyid - Murid Pendampingan rohani, keteladanan, pembentukan adab & karakter
Kekhasan TQN :
menyeimbangkan lahir–batin, syariat–hakikat, ilmu–amalan. Identitasnya bukan ditentukan satu teknik zikir, melainkan keseluruhan sistem pembinaan spiritual.
Penyebaran & Pusat - Pusat TQN di Jawa
Penyebaran melalui jaringan guru - murid, pesantren, jamaah haji, dan majelis zikir. Mekah menjadi titik pertemuan sebelum ajaran dibawa ke Nusantara.
Pada dekade 1970-an, tercatat 4 pusat utama di Jawa :
1. Rejoso - Jombang
2. Mranggen - sekitar Semarang
3. Suryalaya - Tasikmalaya
4. Pagentongan - Bogor
Pusat - pusat ini menjaga kontinuitas tradisi melalui khataman, manakiban, dan pembinaan berkelanjutan.
Makna & Nilai
- Keseimbangan ilmu & batin ; ilmu syariat harus dibarengi pembinaan batin, adab, dan keikhlasan
- Pembentukan karakter ; Keteladanan, kedisiplinan, konsistensi ibadah, pengendalian diri
- Bagi Perguruan Tinggi Islam ; metode ilmiah tetap dijunjung ; nilai tasawuf memperkuat etika, keikhlasan, ketawadukan, dan orientasi pengabdian ; bukan menggantikan ilmu, melainkan menyempurnakan watak pelakunya
Simpulan
TQN lahir dari sintesis yang dirumuskan Syekh Ahmad Khatib Sambas di Mekah, menyatukan amalan pilihan Qadiriyah dan Naqsyabandiyah menjadi satu corak khas Indonesia. Melalui jaringan mursyid, murid, pesantren dan ritual. TQN, menyebar luas dengan empat pusat utama di Jawa. Ajaran utamanya, menegaskan keseimbangan antara zikir lahir - batin, ilmu - amalan serta pembinaan akhlak menjadi warisan spiritual yang hidup hingga kini.