Oleh : A. Rusdiana.
Artikel
Kita baru melewati dua momen bersejarah bangsa, peringatan peristiwa 30 September yang mengingatkan pada luka dan pelajaran sejarah serta Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober dengan tema "Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur."
Momentum ini tidak boleh berhenti sebagai seremoni. Sejarah harus melahirkan pelajaran. Nilai harus menjadi tindakan. Pengetahuan harus melahirkan kebijaksanaan.
Kita belajar, perbedaan tidak boleh menjadi permusuhan. Kekuasaan tidak boleh meninggalkan keadilan. Kepentingan tidak boleh mengalahkan kemanusiaan. Ilmu tidak boleh memperbesar pertentangan. Sejarah yang dipelajari dengan jernih menjadikan kita arif, bukan mewarisi kebencian.
NILAI MENJADI AKSI, ILMU MENJADI BAKTI
Nilai tidak cukup dihafal. Ilmu tidak cukup dikuasai. Kebaikan tidak cukup dibicarakan. Semua harus dibuktikan dalam amal nyata. Allah SWT., berfirman :
"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. Ash-Shaff: 2–3)
Harus ada kesatuan antara perkataan dan perbuatan. Jujur baru bermakna ketika tetap jujur saat ada kesempatan berbuat curang. Adil baru teruji ketika berlaku benar bahkan kepada yang berbeda pandangan. Bersatu nyata ketika perbedaan tidak membuat saling merendahkan.
Ilmu pun demikian. Rasulullah Saw., mengajarkan memohon ; "Ilmu yang bermanfaat" bukan sekadar ilmu yang banyak diketahui, melainkan yang melahirkan manfaat.
Maka:
- Nilai menjadi aksi sama mengubah keyakinan kebaikan menjadi perilaku nyata.
- Ilmu menjadi bakti sama mengubah pengetahuan, keahlian, profesi menjadi pelayanan bagi sesama
EMPAT IKHTIAR BERSAMA
Kesatu : Nilai Harus Dibuktikan dengan Aksi
Bangsa ini kaya nilai luhur: jujur, tanggung jawab, gotong royong, persatuan, keadilan. Tantangannya bukan kekurangan nilai, melainkan jarak antara nilai yang diyakini dan tindakan yang dilakukan.
Allah SWT., berfirman :
"Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin." (QS. At-Taubah: 105)
Kejujuran tampak dalam pekerjaan. Keadilan tampak dalam keputusan. Persatuan tampak dalam hidup bersama di tengah perbedaan. Pancasila hidup bukan saat dibacakan, melainkan ketika Ketuhanan melahirkan akhlak, Kemanusiaan melahirkan penghormatan, Persatuan mengalahkan ego, Musyawarah menghindarkan kesewenang-wenangan, dan Keadilan hadir dalam kehidupan bersama.
Kedua : Ilmu Harus Melahirkan Bakti dan Kemanfaatan
"Allah SWT., akan mengangkat orang - orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)
Semakin tinggi ilmu, semakin besar tanggung jawab bukan untuk gengsi, jabatan atau perdebatan, melainkan untuk memberi manfaat. Ilmu turun dari ruang kuliah ke ruang kehidupan :
- Ilmu pendidikan ; memperbaiki pembelajaran.
- Ilmu manajemen ; menata pelayanan yang adil.
- Teknologi ; memudahkan kehidupan.
- Penelitian ; menjawab persoalan nyata.
Bagi kita semu :
- Mahasiswa - bukan sekadar nilai, tapi kompetensi untuk melayani
- Guru/dosen - bukan sekadar materi, tapi berapa yang bertumbuh
- Pemimpin - bukan sekadar jabatan, tapi seberapa besar manfaat yang lahir
Ketiga : Persatuan Dirawat dengan Keadilan
Persatuan tidak cukup diserukan, ia harus dirawat dengan keadilan, penghormatan dan tanggung jawab. Allah SWT., berfirman :
"Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan…" (QS. An-Nahl: 90)
"Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Ma'idah: 8)
Keadilan tidak bergantung pada siapa yang kita sukai. Perbedaan pilihan tidak memutus persaudaraan. Perbedaan latar tidak melahirkan diskriminasi. Sejarah mengajarkan: jangan wariskan kebencian kepada generasi berikutnya. Merawat Indonesia sama menghormati perbedaan begitupun menegakkan keadilan.
Keempat : Dari Pembiasaan Baik Menuju Budaya Pengabdian
Perubahan besar lahir dari amal kecil yang istiqamah. Rasulullah Saw., bersabda :
"Amal yang paling dicintai Allah SWT., adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit." (HR. Bukhari–Muslim)
Membiasakan jujur, mendengar sebelum menghakimi, memverifikasi sebelum menyebar, menghargai perbedaan, menggunakan ilmu untuk menolong dari kebiasaan lahir karakter. Dari karakter lahir integritas. Dari ilmu yang diamalkan lahir bakti.
- Nilai tanpa aksi ; slogan
- Ilmu tanpa amal ; sia - sia
- Persatuan tanpa keadilan ; rapuh
Sebaliknya :
- Nilai diamalkan → integritas
- Ilmu diamalkan → manfaat
- Keadilan ditegakkan → persatuan kokoh
Mari bertanya pada diri sendiri :
"Apa yang sudah saya lakukan dengan ilmu yang saya miliki ? Apakah nilai kebaikan terlihat dalam perilaku saya ?"
Jadikan sejarah sebagai guru kebijaksanaan, bukan bahan permusuhan. Jadikan Pancasila hidup dalam tindakan. Jadikan iman melahirkan amal, ilmu melahirkan manfaat, ketakwaan melahirkan keadilan.
Nilai menjadi aksi. Ilmu menjadi bakti. Persatuan dirawat dengan keadilan.
Semoga Allah SWT., menjadikan kita orang yang tidak hanya pandai berkata baik, tetapi istiqamah melakukannya; tidak hanya berilmu, tetapi bermanfaat ; tidak hanya hidup untuk diri, tetapi meninggalkan jejak kebaikan bagi sesama.
Resensi Khutbah : https://beritadisdik.com/category/kampus.
Editor Toni Mardiana S. IKom.
