Oleh : H. Hidayat S.Pd.I,. M.Pd.
Artikel
Pendidikan selalu membawa harapan. Orang tua menyekolahkan anaknya, agar memperoleh masa depan yang lebih baik. Guru mengajar, agar peserta didiknya bertumbuh. Mahasiswa menempuh pendidikan tinggi untuk memperluas pengetahuan dan kompetensi. Sementara sekolah, madrasah, pesantren dan perguruan tinggi terus berupaya menghasilkan generasi yang berilmu.
Namun, di tengah semakin luasnya akses terhadap pengetahuan, ada satu pertanyaan sederhana yang layak direnungkan : Setelah ilmu diperoleh, ke mana ilmu itu dibawa ?
Pengetahuan kini dapat diakses jauh lebih mudah dibanding masa sebelumnya ; buku digital, jurnal daring, perkuliahan jarak jauh. Kemudahan ini patut disyukuri. Tetapi pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang semakin banyak mengetahui. Pendidikan diharapkan membantu manusia menjadi lebih matang dalam berpikir, lebih baik dalam bersikap, lebih bertanggung jawab dalam bekerja serta lebih besar manfaatnya bagi kehidupan.
1. Ilmu Menemukan Makna Ketika Memberi Manfaat
Dalam Islam, ilmu memperoleh kedudukan yang sangat mulia. Allah Swt., berfirman :
"Allah akan mengangkat orang - orang yang beriman di antaramu dan orang - orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujādilah: 11)
Ibn Kathir menjelaskan, ilmu bertemu dengan iman, adab dan kerendahan hati. Di sinilah letak kesenjangan yang perlu dijembatani ; antara mengetahui dan mengamalkan, antara kompetensi dan kepedulian, serta antara ilmu dan kebermanfaatan.
Rasulullah Saw., mengingatkan :
"Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim, no. 1631)
Pilihan katanya ; 'ilmun yuntafa'u bih, ilmu yang dimanfaatkan. Artinya, kemuliaan ilmu tampak ketika ia terus memberi manfaat, bukan sekadar tersimpan dalam ingatan pemiliknya.
Karena itu, pertanyaannya bukan hanya "Berapa materi yang diajarkan ?" melainkan "Apa manfaat yang tumbuh dari proses belajar itu ?"
- Guru ; manfaat tampak ketika peserta didik berkembang.
- Mahasiswa ; ilmu bermakna ketika kompetensi menyelesaikan persoalan nyata.
- Pemimpin ; ilmu manajemen bernilai ketika melahirkan pelayanan yang tertib, adil dan manusiawi.
Bahkan Rasulullah berdoa berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat (HR. Muslim, no. 2722). Maka ukuran pendidikan bukan hanya seberapa banyak yang diperoleh, melainkan ke mana ilmu itu diarahkan.
2. Ilmu Perlu Bertumbuh Bersama Adab
Pendidikan bukan sekadar soal kecerdasan. Ada dimensi lain yang sama pentingnya ; adab.
Semakin luas pengetahuan seseorang, semestinya semakin besar kesadarannya bahwa masih banyak hal yang belum diketahui. Ilmu seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan.
Ibn Rajab al-Hanbali menegaskan ; ilmu yang bermanfaat membimbing mengenal kebenaran dan mendorong menuju apa yang diridai Allah. Orang berilmu idealnya mampu menjelaskan tanpa merendahkan, mengoreksi tanpa mempermalukan, berbeda pendapat tanpa memutus persaudaraan, memimpin tanpa merasa paling penting.
Di sinilah pendidikan karakter sejati ; bukan sekadar materi di buku, melainkan teladan, pembiasaan, dan pengamalan.
3. Dari Mengetahui Menuju Melakukan
Allah berfirman :
"Wahai orang-orang yang beriman ! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. Ash-Shaff: 2–3)
Ibn Kathir menjelaskan ayat ini, sebagai kecaman terhadap ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan. Dalam pendidikan pesannya mendasar :
- Kita ajarkan kedisiplinan → peserta didik butuh keteladanan disiplin.
- Kita ajarkan kejujuran → sistem pendidikan juga perlu dijalankan secara jujur.
- Kita ajarkan tanggung jawab → setiap pemegang amanah perlu menunjukkan tanggung jawabnya.
Nilai perlu dipahami, dicontohkan, dibiasakan, dipraktikkan dan dievaluasi. Di sinilah pendidikan bergerak dari pengetahuan menuju kehidupan.
4. Pendidikan Harus Dekat dengan Kehidupan
Ilmu turun dari ruang belajar menuju ruang kehidupan :
- Ilmu pendidikan → memperbaiki pembelajaran.
- Ilmu manajemen → menata pelayanan yang transparan dan adil.
- Teknologi → memudahkan pelayanan.
- Penelitian → menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Pengabdian tidak selalu butuh kegiatan besar :
- Guru yang sabar membantu peserta didik tertinggal - mengabdikan ilmu.
- Kepala madrasah yang memperbaiki sistem pelayanan - mengamalkan ilmu manajemen.
- Mahasiswa yang meneliti persoalan warga - mempertemukan teori dengan realitas.
- Siapa pun yang memverifikasi kabar, membagikan informasi benar, menolong sesama - membawa ilmu lebih dekat kepada kehidupan.
Satu pertanyaan mengubah orientasi :
"Siapa yang menjadi lebih baik karena ilmu yang saya miliki ?"
Dari "Apa yang saya peroleh?" menuju "Apa yang dapat saya berikan ?"
5. Perubahan Besar Dimulai dari Kebiasaan Kecil
"Amal yang paling dicintai Allah, adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit." (HR. Bukhari–Muslim)
Budaya ilmu lahir dari kebiasaan sederhana ; membaca, menulis, berdiskusi, menerima kritik, jujur, tepat waktu, menghargai perbedaan. Tindakan kecil yang konsisten melahirkan karakter. Karakter melahirkan integritas. Integritas melahirkan kepercayaan. Dan ilmu yang diamalkan melahirkan kebermanfaatan.
Simpulan
Pendidikan memerlukan sarana, kurikulum, teknologi dan tata kelola yang baik. Namun semuanya menemukan tujuannya pada manusia :
- Semakin berilmu, tetap rendah hati.
- Memiliki kompetensi, juga kepedulian.
- Berpikir kritis tanpa kehilangan adab.
- Maju secara akademik tanpa menjauh dari masyarakat.
Ilmu tidak kehilangan kemuliaannya ketika turun membumi. Justru ketika ilmu hadir untuk memperbaiki pembelajaran, melayani masyarakat, menyelesaikan persoalan dan membantu sesama, di situlah ilmu menemukan bentuk pengabdiannya yang paling nyata.
"Sebab ilmu yang baik bukan hanya menerangi pikiran pemiliknya, tetapi juga menghadirkan cahaya bagi kehidupan di sekitarnya."
Kata Kunci : Ilmu bermanfaat ; pendidikan Islam ; adab ; pengabdian ; pendidikan karakter ; Manajemen Pendidikan Islam ; kemaslahatan.
Profil Penulis:
H. Hidayat, S.Pd.I., M.Pd. — Akademisi dan praktisi pendidikan Islam, mahasiswa Program Doktor (S3) Manajemen Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Fokus kajian : manajemen pendidikan Islam, pendidikan karakter, integritas akademik.
(Redaksi)
Editor Toni Mardiana S. IKom.