Bandung|elitkita.com — Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-43 tingkat Kota Bandung menjadi momentum Pemerintah Kota Bandung untuk mempertegas ambisi menjadikan Bandung sebagai kota olahraga sekaligus City of Champions. Tak hanya mendorong masyarakat semakin aktif berolahraga, Pemkot Bandung juga membidik prestasi terbaik pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XV Jawa Barat 2026 dan Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) VII Jawa Barat 2026.
Komitmen tersebut disampaikan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat menghadiri peringatan Haornas tingkat Kota Bandung di GOR Bandung, Selasa (6/10/2026).
Farhan mengatakan, meski peringatan Haornas Kota Bandung tidak dilaksanakan tepat pada 9 September sebagaimana peringatan nasional, hal tersebut tidak mengurangi makna dan semangat Haornas untuk memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat.
Menurutnya, olahraga harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat tanpa mengenal usia maupun kelas sosial. Karena itu, Bandung diarahkan tidak hanya menjadi kota yang melahirkan atlet berprestasi, tetapi juga kota yang sehat, aktif, bugar dan inklusif.
“Pesan yang ingin dibawa di setiap Hari Olahraga Nasional yaitu memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat,” ujar Farhan.
Bidik Prestasi Terbaik di Porprov dan Peparda
Menghadapi Porprov XV dan Peparda VII Jawa Barat 2026, Pemkot Bandung memasang target tinggi. Farhan menegaskan Bandung ingin mengembalikan kejayaan sebagai salah satu kekuatan olahraga di Jawa Barat.
“Kita ingin mengembalikan kejayaan yang pernah dimiliki oleh Kota Bandung di ajang Porprov. Maka ajang Porprov kali ini kami bertekad untuk menjadi yang terbaik di Jawa Barat,” tegasnya.
Target tersebut tidak hanya menyangkut prestasi atlet, tetapi juga kesiapan Bandung sebagai tuan rumah penyelenggaraan event olahraga.
Farhan meminta KONI, NPCI, atlet, pelatih, pengurus organisasi olahraga serta seluruh pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi. Menurutnya, prestasi tidak dapat dibangun secara instan karena membutuhkan latihan, pembinaan, kesiapan fisik dan mental serta dukungan keluarga.
Ia juga menilai apresiasi terhadap perjuangan atlet dan pelatih menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem olahraga. Bonus prestasi, kata Farhan, merupakan bentuk penghargaan atas kerja keras atlet, pelatih dan keluarga yang selama ini memberikan dukungan.
Selain itu, pengembangan olahraga di Kota Bandung diarahkan semakin berbasis ilmu pengetahuan melalui kerja sama dengan kalangan akademisi dan penerapan sport science.
“Kolaborasi ini jadi penting. Saya berpesan kepada KONI dan NPCI agar menjalin kerja sama yang erat dengan para akademisi,” katanya.
Si Badu dan Si Cangkleung Jadi Identitas Porprov dan Peparda
Dalam rangkaian Haornas tersebut, Pemkot Bandung juga resmi memperkenalkan dua maskot untuk menyambut Porprov XV dan Peparda VII Jawa Barat 2026, yakni Si Badu (Badak Utama) untuk Porprov dan Si Cangkleung untuk Peparda.
Peluncuran kedua maskot tersebut bukan sekadar simbol penyelenggaraan, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat identitas dan city branding Kota Bandung.
Farhan menjelaskan, sosok badak pada Si Badu memiliki keterkaitan dengan sejarah dan identitas Kota Bandung. Badak bercula satu disebut pernah menjadi hewan endemik di wilayah Bandung dan memiliki hubungan simbolik dengan Kota Bandung.
“Artinya kita ingin mengembalikan kejayaan yang pernah dimiliki oleh Kota Bandung di ajang Porprov,” ujar Farhan.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bandung Sigit Iskandar mengatakan, peluncuran maskot diharapkan mampu memperkenalkan karakter Kota Bandung sekaligus meningkatkan city branding menjelang pelaksanaan dua event olahraga tersebut.
“Launching maskot untuk mengenalkan identitas Si Badu dan Si Cangkleung untuk meningkatkan city branding sekaligus menambah kemeriahan dalam persiapan sebagai tuan rumah,” kata Sigit.
Dorong Olahraga Masuk Sekolah
Ambisi menjadikan Bandung sebagai kota olahraga juga mulai diarahkan pada pembentukan budaya olahraga sejak usia dini.
Pemkot Bandung tengah melakukan kajian bersama Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengenai kemungkinan penambahan aktivitas atau jam pelajaran olahraga bagi siswa SD dan SMP negeri.
Dalam skema yang sedang dikaji, aktivitas olahraga dapat dilakukan tiga kali dalam sepekan, yakni Senin, Rabu dan Jumat, masing-masing selama 30 menit.
Namun, Farhan menegaskan rencana tersebut masih dalam tahap kajian. Apabila dinilai memungkinkan, penerapannya akan terlebih dahulu dilakukan melalui tahap piloting di sejumlah sekolah.
Menurut Farhan, olahraga tidak semata-mata berkaitan dengan perolehan medali atau kemenangan dalam kompetisi. Olahraga juga menjadi sarana membangun kesehatan, kebugaran, karakter, kegembiraan, persatuan dan kemanusiaan.
“Olahraga adalah salah satu bentuk peradaban tertinggi manusia bagi persatuan, kesatuan, dan kemanusiaan,” ujarnya.
Dengan momentum Haornas 2026, Pemkot Bandung ingin membangun ekosistem olahraga secara lebih menyeluruh—mulai dari budaya olahraga masyarakat, pembinaan atlet usia dini, penguatan prestasi, olahraga inklusif hingga kemampuan menjadi tuan rumah event berskala nasional dan internasional.
Bandung pun tidak hanya ingin dikenal sebagai kota yang melahirkan para juara, tetapi juga sebagai kota olahraga yang sehat, inklusif dan memiliki daya saing melalui semangat “City of Champions”.***