Oleh : Dr. H. Momon S.Ag,. M.Ag. (Dosen PIAUD Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Edukasi PAUD
Jika saudara bertanya kepada seorang guru ataupun orang tua : Apa hal tersulit dalam mengajarkan anak shalat ? Kemungkinan besar dia akan menjawab, bahwa masalahnya bukan pada menghafal langkah - langkah shalat atau mengetahui gerakannya, melainkan bagaimana membuat anak mencintai dan terikat dengan shalat.
Mengajarkan shalat kepada anak bukan berarti sekadar membuat mereka menghafal surat Al-Fatihah, zikir dan mengetahui tata cara shalat saja. Namun yang lebih penting, mereka memahami bahwa shalat adalah waktu khusus untuk berdiri di hadapan Allah, berdoa, menyampaikan isi hati dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Sebab, anak yang belajar shalat dengan dasar cinta, keteladanan dan dilakukan secara bertahap akan memiliki peluang lebih besar untuk menjadikan kebiasaan yang menetap seiring berjalannya waktu. “Bukan sekedar rutinitas yang dilakukan”, karena takut dihukum atau karena disuruh oleh orang tua.
Pentingnya mengajarkan Shalat pada Anak sejak dini
Mengajarkan shalat kepada anak sejak dini membantu anak terbiasa secara bertahap dan memandangnya sebagai bagian alamiah dari kesehariannya, bukan sebagai sesuatu yang dipaksakan secara tiba - tiba saat ia dewasa. Rasulullah SAW., bersabda :
“Perintahkan anak – anak kalian untuk shalat pada saat mereka berusia tujuh tahun” (HR. Abu Dawud dan Ahmad), hal ini menekankan pentingnya mengajarkan anak untuk shalat sejak usia tersebut.
Saat kita dini memulai bersama anak, kita akan bisa mengajarkan langkah - langkah shalat kepada anak secara bertahap. Kita juga bisa membiasakannya dengan wudhu, jadwal shalat dan meniru gerakan shalat tanpa tekanan. Seiring berjalannya waktu, shalat akan berubah dari kebiasaan sederhana yang dipelajari anak menjadi ibadah yang terikat dengan rasa cinta dan kedekatan kepada Allah SWT.
Perlu diingat, bahwa usia tujuh (7) tahun adalah awal perintah untuk shalat, namun bukan berarti anak harus langsung mahir atau hafal semua detailnya sejak hari pertama. Oleh karena itu, pendekatan terbaik adalah dengan cara bertahap, berulang-ulang dan memberikan motivasi.
Bagaimana cara membuat anak kita mencintai ibadah shalat?
Pertama : Jadilah teladannya; Saat ia melihatmu menjalankan shalat dan beribadah dengan tenang, ia akan mulai menirumu dan menganggap shalat sebagai bagian alami dari kesehariannya.
Kedua : Shalat bersamanya; jadikan waktu shalat sebagai momen kebersamaan di antara kita dan doronglah ia untuk shalat di samping kita, bukannya sekadar sekadar perintah yang harus ia lakukan.
Ketiga : menghubungkan shalat dengan kasih sayang; setelah ia selesai, berikan dorongan dengan kata - kata sederhana seperti : “Allah memberi keberkahan terhadapmu sayang, shalatmu indah,” agar ia shalat dengan rasa aman dan dukungan.
Keempat : Gunakan hadiah dengan bijak; kita bisa memberikan hadiah kepada anak saat ia menjaga shalatnya, namun buatlah ia memahami bahwa hadiah bukanlah alasan utama untuk shalat dan yang terpenting adalah kedekatan dengan Allah SWT.
Kelima : Menghindari menakut-nakuti; Daripada mengatakan “Allah akan menghukummu jika tidak shalat,” jelaskan kepadanya bahwa shalat adalah waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah, berdoa dan menceritakan seluruh isi hati.
Dr.H.Momon S.Ag,. M.Ag. (Dosen PIAUD Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Simpulan
Mengajarkan anak untuk shalat sejak usia dini membantu menanamkan nilai - nilai iman yang kokoh di dalam hati mereka, sehingga mereka tumbuh menjadi individu yang taat kepada Allah SWT. Selain itu, melalui kewajiban shalat lima waktu yang teratur, anak – anak dilatih untuk mengembangkan kualitas waktu dan rasa tanggung jawab dalam menjalankan kewajiban agama. Sehingga dapat melaksanakan shalat tanpa merasa terbebani, kemudian kebiasaan yang terbentuk sejak usia dini akan menjadi karakter yang tertanam kuat dan bertahan hingga dewasa.
TM.


