“Keteladanan
Rasul mengajarkan bahwa ilmu tidak berhenti pada apa yang diketahui, tetapi
tumbuh menjadi akhlak, karya, keterbukaan informasi, dan manfaat bagi sesama.”
Oleh: A. Rusdiana
Memasuki minggu ketiga pembelajaran, mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) mulai bergerak dari pengenalan menuju penguatan kompetensi. Pada mata kuliah Sistem Informasi Manajemen Pendidikan (SIM-P) S2 dan Manajemen Maktabah/Perpustakaan S1, penguatan diarahkan pada penggunaan CK-Poster–Templat Penulisan Esai Argumentatif untuk Media, sejalan dengan implementasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE).
Tantangannya ialah
pembelajaran digital terkadang berhenti pada kemampuan menggunakan teknologi
dan menyelesaikan tugas. Padahal,
literasi akademik memerlukan integrasi ilmu, akhlak, kemampuan menulis,
keterbukaan informasi, dan kebermanfaatan. Spirit keteladanan Rasulullah
Saw. memberikan landasan moral agar kompetensi yang dihasilkan OBE tidak hanya
terukur, tetapi juga bernilai dan berdampak.
Dalam konteks itulah, pembelajaran pada minggu ketiga perlu dimaknai lebih jauh daripada sekadar penguasaan materi dan teknologi. Keteladanan Rasul dapat menjadi ruh yang menghubungkan capaian OBE dengan pembentukan karakter, kecakapan akademik, dan tanggung jawab sosial.
Mahasiswa diarahkan bukan hanya mampu mengetahui dan mengerjakan, tetapi juga mampu menulis, mengelola informasi, serta menghadirkan pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dari proses tersebut, setidaknya terdapat empat
pembelajaran penting yang dapat dijadikan pijakan: keteladanan dalam
orientasi belajar, penguatan KTI melalui esai argumentatif, pembentukan akhlak
dalam literasi digital, serta keterbukaan informasi yang bermuara pada
pengabdian:
Pertama: Keteladanan Rasul Menguatkan Orientasi Belajar; Meneladani Rasulullah dalam pendidikan dimulai dengan meluruskan orientasi belajar. Mahasiswa bukan sekadar hadir, memenuhi tugas, memperoleh nilai, atau menuntaskan capaian semester.
Belajar merupakan
proses mengembangkan kapasitas diri agar ilmu dapat dipertanggungjawabkan dan
digunakan bagi kemaslahatan. Dalam kerangka OBE, orientasi tersebut relevan karena
keberhasilan pembelajaran ditentukan pula oleh kemampuan mahasiswa menunjukkan
capaian secara nyata. Niat, disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab menjadi
fondasi agar kompetensi akademik tidak kehilangan arah etik. Ilmu yang
baik semestinya membentuk pribadi sekaligus melahirkan manfaat.
Kedua: Esai Argumentatif Melatih KTI dan Nalar Kritis; Penggunaan CK-Poster–Templat Penulisan Esai Argumentatif bukan sekadar latihan mengikuti format. Mahasiswa belajar menemukan fenomena, mengidentifikasi masalah, menggunakan teori, menyusun argumentasi, dan menghasilkan natizah atau simpulan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Proses tersebut menjadi latihan dasar Karya
Tulis Ilmiah (KTI) sekaligus pembentukan nalar kritis. Di tengah
banjir informasi digital, kemampuan menulis argumentatif semakin penting.
Mahasiswa perlu mampu membedakan data, asumsi, pendapat, dan kesimpulan.
Keteladanan Rasul dalam kejujuran dan amanah dapat diterjemahkan menjadi etika
akademik: menulis berdasarkan sumber, menghindari manipulasi informasi,
serta bertanggung jawab terhadap setiap gagasan yang dipublikasikan.
Ketiga: Literasi Digital Membutuhkan Akhlak Informasi; SIM Pendidikan dan manajemen perpustakaan kini berhadapan langsung dengan ekosistem digital. Informasi tersedia melimpah, tetapi kelimpahan belum tentu menghasilkan pengetahuan yang benar dan bermanfaat.
Karena itu, literasi digital tidak cukup dimaknai sebagai kecakapan
mengoperasikan aplikasi. Mahasiswa perlu belajar menelusuri,
memverifikasi, mengolah, menulis, dan mendistribusikan informasi secara
bertanggung jawab. Di sinilah akhlak menjadi pengendali kompetensi
digital. Cinta kepada Rasul tidak berhenti pada ungkapan, tetapi tercermin
dalam kejujuran menyampaikan informasi, kesantunan berkomunikasi, penghormatan
terhadap karya orang lain, serta kesediaan menggunakan ruang digital untuk
mencerdaskan masyarakat.
Keempat: Keterbukaan Informasi Menuju Pengabdian; Pembelajaran memperoleh makna lebih luas ketika ilmu keluar dari ruang kelas. Semangat Keterbukaan Informasi Publik (KIP) mengingatkan bahwa informasi yang dikelola lembaga pendidikan memiliki dimensi pelayanan dan akuntabilitas.
Mahasiswa SIM-P perlu memahami bagaimana informasi mendukung keputusan pendidikan, sedangkan mahasiswa manajemen perpustakaan belajar bagaimana pengetahuan dikelola agar mudah ditemukan dan dimanfaatkan. Keduanya bertemu pada satu tujuan: informasi harus memberi manfaat.
Tulisan mahasiswa yang dipublikasikan melalui media dapat menjadi bentuk
pengabdian intelektual—mengubah pengetahuan akademik menjadi informasi yang
jernih, edukatif, mudah diakses, dan relevan bagi masyarakat.
Memasuki minggu ketiga, pembelajaran perlu bergerak dari tugas menuju karya, dari kemampuan menuju kebermanfaatan. Keteladanan Rasul memberi fondasi moral; OBE mengarahkan capaian; KTI melatih argumentasi; literasi digital memperluas ruang belajar; dan KIP menguatkan tanggung jawab terhadap informasi. Kelimanya bertemu dalam satu misi pendidikan: membentuk insan yang tidak hanya cakap mengelola pengetahuan, tetapi juga amanah menggunakannya.
Spirit Maulid karena itu tidak
selesai ketika Rabiulawal berlalu. Ia terus hidup ketika mahasiswa belajar
dengan niat, menulis dengan integritas, membuka akses pengetahuan, berkarya
dengan kompetensi, dan mengabdi melalui ilmu.
Editor A'Hendra S. Sos (Pimred)
