KARAWANG —
Jumat, 11 September 2026. Peringatan Hari Jadi Kabupaten Karawang ke-393 tahun 2026, dinilai sebagai "pisau bermata dua" di satu sisi menjadi ajang selebrasi dan perputaran ekonomi, namun di sisi lain sekaligus cermin untuk mengevaluasi berbagai persoalan yang belum tuntas di masyarakat.
Pandangan ini disampaikan Kang Narto selaku Ketua Forum Aktivis Islam Kabupaten Karawang, "Kami menghargai kemeriahan pawai dan festival. Tapi jangan sampai euforia menutupi realitas, momen ini harusnya menjadi ruang refleksi bagi pemerintah daerah, bukan sekadar panggung seremonial tahunan," ujar Kang Narto.
Forum Aktivis Islam mencatat lima (5) persoalan mendasar yang harus menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Karawang ;
1. Anggaran Pemborosan vs Layanan Publik ; pemerintah kerap menggelar panggung hiburan dan pesta kembang api dengan biaya fantastis. Padahal anggaran tersebut, jauh lebih mendesak jika dialokasikan untuk perbaikan jalan yang rusak, penciptaan lapangan kerja serta penguatan modal usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
2. Menagih Janji Politik ; Alih - alih memamerkan pencapaian yang belum maksimal, pemerintah seharusnya fokus menunaikan janji - janji politik yang tertunda. Jangan sampai program kerja baru direalisasikan secara mendesak hanya, karena desakan masyarakat bukan karena perencanaan yang matang.
3. Kehadiran Pemimpin di Tengah Rakyat ; bahwa Bupati dinilai jarang hadir langsung saat masyarakat menyampaikan aspirasi maupun melakukan aksi unjuk rasa di lingkungan DPRD. " Rumah rakyat harus didatangi pemimpinnya ", tegas Kang Narto. Kehadiran fisik pimpinan menjadi bukti nyata kepedulian, bukan sekadar tampil di acara resmi.
4. Pengangguran yang Semakin Akut ; penyelesaian masalah pengangguran di Karawang belum menunjukkan hasil yang signifikan dan menyentuh langsung kesejahteraan masyarakat. Potensi industri dan investasi belum sepenuhnya mampu menyerap tenaga kerja lokal secara optimal.
5. Minim Silaturahmi dengan Tokoh Agama dan Aktivis ; pemerintah dinilai kurang menjalin kedekatan dengan para tokoh agama serta minim menggelar pertemuan silaturahmi lintas agama dan aktivis. Padahal mereka, adalah mitra strategis yang sangat penting dalam menjaga kondusivitas sosial dan mendorong keberkahan setiap langkah pembangunan.
Muhasabah, Bukan Sekadar Pesta.
"Di usia 393 tahun, Karawang butuh pemimpin yang hadir, anggaran yang berpihak, dan kebijakan yang membawa keberkahan. Jadikan HUT ini sebagai muhasabah, bukan hanya pesta," pungkas Kang Narto. (IS)
Editor TM.
