Oleh: Arshana Malika
Agresi Zionis terhadap Gaza terus berlangsung tanpa henti. Selain serangan militer yang menghancurkan permukiman warga sipil, blokade ketat juga terus diberlakukan terhadap Jalur Gaza. Bahkan, kapal-kapal pembawa bantuan kemanusiaan yang berusaha menembus blokade dicegat di perairan internasional. Sejumlah aktivis kemanusiaan dari berbagai negara dilaporkan ditangkap oleh militer Zionis ketika mencoba mengirim bantuan untuk warga Gaza yang mengalami krisis pangan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya. (CNN Indonesia, Mei 2026; Kompas.id, Mei 2026)
Dalam operasi pencegatan tersebut, ratusan aktivis disebut mengalami penahanan dan sebagian lainnya terluka akibat tindakan represif aparat Zionis. Israel berupaya membenarkan tindakannya dengan menuduh pelayaran bantuan tersebut memiliki keterkaitan dengan Hamas. Tuduhan semacam ini kembali digunakan untuk membangun legitimasi politik atas tindakan agresif yang sebenarnya melanggar hukum internasional dan hak asasi manusia. (Video Kompas, Mei 2026; MINA News, Mei 2026)
Di sisi lain, penderitaan rakyat Gaza semakin besar akibat serangan yang berlangsung selama bertahun-tahun. Infrastruktur sipil seperti rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, hingga permukiman warga mengalami kehancuran masif. Ribuan warga sipil menjadi korban jiwa dan luka-luka, sementara jutaan lainnya hidup dalam kondisi tanpa kepastian. Gaza bahkan disebut sebagai salah satu wilayah paling mematikan bagi jurnalis karena banyaknya pekerja media yang terbunuh saat meliput agresi Zionis. (Antara News, Mei 2026; Bali Antara News, Mei 2026)
Ironisnya, meskipun tragedi kemanusiaan di Gaza disaksikan dunia secara terbuka, negeri-negeri Muslim belum menunjukkan langkah nyata yang mampu menghentikan agresi tersebut. Reaksi yang muncul sebagian besar masih sebatas kecaman diplomatik, bantuan kemanusiaan terbatas, dan pernyataan solidaritas tanpa kekuatan politik maupun militer yang benar-benar melindungi rakyat Palestina. (Inilah.com, Mei 2026; CNN Indonesia, Mei 2026)
Pencegatan kapal bantuan kemanusiaan di perairan internasional menunjukkan bahwa entitas Zionis tidak mengenal batas dalam mempertahankan blokade atas Gaza. Tindakan tersebut memperlihatkan bagaimana hukum internasional dapat diabaikan ketika menyangkut kepentingan Israel. Meskipun menuai kecaman dari berbagai pihak, agresi dan blokade tetap berlangsung tanpa sanksi nyata yang mampu menghentikannya.
Label “teroris” yang terus digunakan Zionis juga menjadi alat propaganda politik untuk mengkriminalisasi setiap bentuk dukungan terhadap Palestina. Narasi ini digunakan untuk membungkam solidaritas internasional dan membangun citra bahwa seluruh bentuk perlawanan rakyat Palestina merupakan ancaman keamanan. Akibatnya, bantuan kemanusiaan sekalipun dapat dicurigai dan diperlakukan sebagai tindakan kriminal.
Di tengah situasi tersebut, kelemahan dunia Islam tampak semakin nyata. Negeri-negeri Muslim memiliki jumlah penduduk besar, sumber daya alam melimpah, serta posisi geopolitik yang strategis. Namun potensi tersebut tidak mampu diwujudkan menjadi kekuatan politik yang melindungi umat Islam. Tidak ada langkah kolektif yang benar-benar memberikan tekanan serius terhadap Zionis maupun negara-negara pendukungnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem negara-bangsa yang diterapkan di dunia Islam hari ini justru membuat umat tercerai-berai dalam kepentingan nasional masing-masing. Setiap negeri lebih sibuk menjaga stabilitas politik dan hubungan internasionalnya dibanding membangun persatuan umat Islam secara nyata. Akibatnya, Palestina dibiarkan menghadapi penjajahan sendirian tanpa perlindungan yang kuat dari dunia Islam.
Lebih jauh, akar persoalan ini bukan sekadar lemahnya diplomasi atau militer, tetapi tidak adanya kepemimpinan politik umat yang berdiri di atas landasan akidah Islam. Dunia Islam saat ini berada dalam dominasi sistem kapitalisme global yang menjadikan kepentingan politik dan ekonomi lebih utama dibanding kewajiban melindungi kaum Muslimin yang tertindas. Karena itu, penjajahan terhadap Palestina terus berlangsung dan bahkan mendapat ruang untuk semakin meluas.
Islam adalah Solusi
Dalam pandangan Islam, Palestina merupakan bagian dari tanah kaum Muslimin yang wajib dijaga dan dilindungi. Penjajahan, blokade, dan pembantaian terhadap rakyat Gaza bukan hanya persoalan kemanusiaan, tetapi juga persoalan umat yang menyangkut kehormatan dan kewajiban perlindungan terhadap sesama Muslim.
Islam memandang bahwa negara memiliki tanggung jawab besar sebagai pelindung umat. Rasulullah SAW menggambarkan pemimpin sebagai junnah (perisai), yaitu pihak yang menjaga dan melindungi rakyat dari berbagai ancaman. Karena itu, keberadaan institusi politik yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh dipandang penting untuk menyatukan kekuatan umat Islam dan menghentikan dominasi penjajah atas negeri-negeri Muslim.
Selain itu, Islam juga menekankan pentingnya persatuan umat di atas ikatan akidah, bukan dibatasi sekat nasionalisme dan kepentingan negara masing-masing. Persatuan inilah yang akan melahirkan kekuatan politik, ekonomi, dan militer yang mampu melindungi kaum Muslimin dari penjajahan dan agresi asing.
Di sisi lain, perjuangan membela Palestina tidak cukup berhenti pada ekspresi kemarahan, kecaman, atau solidaritas emosional semata. Umat Islam perlu membangun kesadaran politik Islam yang benar, memahami akar persoalan penjajahan Palestina, serta mendukung dakwah yang menyerukan persatuan dan kebangkitan umat berdasarkan ajaran Islam. Dengan demikian, perjuangan membela Gaza tidak hanya bersifat reaktif terhadap tragedi, tetapi menjadi bagian dari upaya besar membangun kembali kekuatan umat Islam secara hakiki.
Blokade Gaza yang terus berlangsung menjadi bukti bahwa dunia Islam sedang berada dalam kondisi lemah dan tercerai-berai. Selama umat tidak memiliki persatuan dan kepemimpinan yang kuat, penjajahan terhadap Palestina akan terus berulang. Karena itu, kebangkitan umat Islam dan persatuan di bawah kepemimpinan yang berlandaskan Islam dipandang sebagai jalan penting untuk melindungi kaum Muslimin dan menghentikan dominasi penjajah atas Palestina.
