Oleh A. Rusdiana
Ketika Fakta Kecil Mengundang Pertanyaan Besar. Mengapa enam dari 27 mahasiswa yang belum konsisten menjalankan SOP pembelajaran semuanya laki - laki ? Pertanyaan ini mengemuka dalam perkuliahan Sistem Informasi Manajemen Kesiswaan, Jumat, 9 Oktober 2026, khususnya mengenai penggunaan identitas resmi dalam laporan WhatsApp Group (WAG) kelas.
Teori peran sosial Alice Eagly, menjelaskan pengaruh harapan masyarakat terhadap perilaku gender. Carol Gilligan menekankan pertimbangan moral berbasis kepedulian, sedangkan Albert Bandura menjelaskan pentingnya keteladanan dan penguatan perilaku.
Islam mengingatkan, bahwa perubahan menuntut ikhtiar pribadi (QS. Ar-Ra'd [13]: 11). GAP-nya : Pengetahuan, tentang aturan belum selalu menjadi pembiasaan. Fenomena ini menghadirkan empat pelajaran penting untuk dimaknai bersama :
Pertama : Membaca Fakta Enam dari 27; Enam mahasiswa atau 22,22 persen dari 27 peserta perkuliahan belum konsisten melaksanakan ketentuan SOP yang diamati. Menariknya, keenamnya laki - laki. Apakah hal tersebut, menunjukkan perbedaan kepatuhan berdasarkan gender ? Penelitian Eagly dan Carli (1981), mengenai konformitas menemukan perbedaan rata - rata perilaku laki - laki dan perempuan dalam situasi tertentu.
Namun, perbedaan tersebut bergantung pada konteks sosial dan tidak berlaku mutlak bagi setiap individu.Tanpa mengetahui komposisi laki - laki dan perempuan dalam kelas, perbandingan tingkat kepatuhan belum dapat disimpulkan. Pelajarannya : Data harus menjadi dasar evaluasi objektif, bukan pembenaran stereotip gender.
Kedua : Gender dan Konformitas Sebaya; Menurut Social Role Theory Alice Eagly, perilaku gender dipengaruhi harapan sosial dan pembagian peran dalam masyarakat. Dalam lingkungan tertentu, perempuan lebih didorong menjaga keharmonisan hubungan, sedangkan laki-laki lebih didorong menunjukkan kemandirian. Carol Gilligan melalui ethics of care memperkaya kajian perkembangan moral dengan menekankan kepedulian dan hubungan antar manusia. Namun, kepedulian maupun kemandirian bukan karakter eksklusif salah satu jenis kelamin.
Konformitas sebaya juga berbeda dari kepatuhan terhadap aturan akademik. Mahasiswa dapat mengikuti kebiasaan kelompok tanpa menjalankan SOP lembaga.
Pelajarannya : Pembinaan harus mengembangkan tanggung jawab pribadi, bukan sekadar mengikuti perilaku teman sebaya.
Ketiga : Mengurai Akar Kesenjangan Pembiasaan; mengapa mahasiswa yang mengetahui SOP belum tentu melaksanakannya ? Albert Bandura melalui teori pembelajaran sosial menekankan pengamatan, keteladanan dan penguatan dalam pembentukan perilaku.
Kemungkinan penyebab ketidakpatuhan mencakup kurangnya pemahaman, lemahnya perhatian terhadap instruksi, anggapan bahwa prosedur hanya formalitas, atau belum terbentuknya pembiasaan disiplin. Semua kemungkinan tersebut memerlukan klarifikasi melalui dialog.
Imam al-Ghazali, melalui pemikirannya tentang riyadhah dan mujahadah menekankan latihan dan kesungguhan membentuk akhlak.
Pelajarannya : SOP harus dipahami, dicontohkan, dilatih, dan dievaluasi secara berkelanjutan agar berkembang menjadi kesadaran.
Keempat : Membangun Disiplin Digital Tanpa Stigma; Allah Swt., berfirman : Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri (QS. Ar-Ra'd [13]: 11).
Rasulullah Saw., juga mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah ialah yang berkesinambungan meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam pembelajaran digital, penggunaan identitas resmi merupakan bagian dari ketertiban administrasi, keterlacakan laporan, dan akuntabilitas. Namun, penerapannya harus tetap memperhatikan keamanan serta perlindungan data pribadi. Pelajarannya; disiplin tidak ditentukan jenis kelamin, tetapi dibangun melalui keteladanan, kesadaran, pengulangan dan tanggung jawab. Singkat kata, akar persoalan ada pada Pembiasaan yang Belum Terbangun; Kasus enam mahasiswa laki - laki bukan bukti, bahwa laki - laki lebih sulit mematuhi aturan.
Temuan tersebut, justru membuka kebutuhan mengevaluasi kesenjangan antara pengetahuan, kesadaran dan pelaksanaan SOP. Akar persoalan yang sesungguhnya belum dapat dipastikan tanpa menelusuri pengalaman dan alasan mahasiswa.
Karena itu, pembinaan perlu mengutamakan dialog, penguatan prosedur, keteladanan, serta evaluasi yang adil. SOP bukan sekadar aturan yang ditaati ketika diawasi, melainkan pembiasaan tanggung jawab yang tetap dilaksanakan meskipun tidak ada pengawasan. Jika disiplin terhadap hal kecil belum terbentuk, bagaimana tanggung jawab pendidikan yang lebih besar akan dijalankan ? Wallahu Alam.
Penulis:
A. Rusdiana, Guru besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Lulusan S-3 Pascasarjana UNINUS Tahun 2012. Penulis Buku Perkembangan Peserta Didik, Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Pangkat Penjelajah Penulis di Kompasiana sejak 22 Januari 2025. Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. DK-Media Elit Kita; Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.
