"Semangat menyalakan langkah, kebiasaan menjaganya tetap hidup. KTI, Literasi Digital dan KIP menjadi jalan konsisten untuk belajar dan mengabdi."
Oleh : A. Rusdiana
Artikel,
Semangat selalu penting untuk memulai perubahan. Ia seperti percikan api yang menyalakan keberanian untuk belajar, menulis, berbagi pengetahuan, dan mengabdi. Namun, semangat memiliki kelemahan: mudah naik dan mudah pula turun.
Dalam teori pembentukan kebiasaan, Wendy Wood menjelaskan bahwa perilaku yang dilakukan berulang dalam konteks yang relatif stabil secara bertahap menjadi kebiasaan sehingga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada motivasi sesaat. Perspektif ini sejalan dengan ajaran Islam tentang istiqamah, yakni keteguhan mempertahankan kebaikan setelah seseorang menetapkan tujuan hidupnya.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah...” (QS Fussilat [41]: 30). Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa amal yang paling dicintai Allah ialah amal yang dilakukan secara kontinu meskipun sedikit (HR Bukhari dan Muslim). Dengan demikian, konsistensi bukan sekadar teknik produktivitas, tetapi bagian dari pembentukan karakter.
Pandangan tersebut menemukan kedalaman maknanya dalam pemikiran Imam al-Ghazali, yang menempatkan ilmu dan amal dalam hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Ilmu memperoleh nilai ketika membimbing manusia kepada amal, sementara amal membutuhkan ilmu agar memiliki arah yang benar. Karena itu, tantangan sesungguhnya bukan sekadar bagaimana memulai, melainkan bagaimana menjadikan sesuatu yang baik sebagai kebiasaan.
Tema Pantun 16 September 2026, “Dari Semangat Menuju
Kebiasaan: Menjaga Konsistensi Belajar dan Mengabdi”, menemukan
relevansinya dalam perjalanan Media elitkita. Melalui program Karya Tulis
Ilmiah (KTI), Literasi Digital, dan Keterbukaan Informasi Publik (KIP),
semangat literasi perlu ditransformasikan menjadi budaya belajar dan pengabdian
yang berkelanjutan.
Dari kerangka tersebut, setidaknya terdapat empat pembelajaran penting
yang dapat dijadikan pijakan untuk mengubah semangat menjadi kebiasaan serta
menjaga kesinambungan belajar dan mengabdi melalui program-program elitkita. Mari kita elaborasi satu persatu:
Pertama: Menemukan Alasan Kuat untuk Terus Belajar; Konsistensi tumbuh ketika seseorang mengetahui alasan mengapa ia harus terus belajar. Belajar tidak semestinya berhenti setelah memperoleh ijazah, gelar, atau jabatan. Ilmu justru menemukan maknanya ketika memperbesar kapasitas seseorang dalam memberikan manfaat.
Dalam
perspektif self-determination theory Edward Deci dan Richard Ryan,
motivasi yang tumbuh dari kesadaran internal cenderung lebih kuat dibandingkan
dorongan yang hanya bergantung pada penghargaan eksternal. Di sinilah program KTI
elitkita memperoleh makna strategis. Menulis bukan sekadar
menghasilkan naskah untuk dipublikasikan, tetapi melatih cara berpikir
sistematis, kritis, berbasis data, dan bertanggung jawab. Semakin rutin
seseorang membaca, meneliti, dan menulis, semakin kokoh pula tradisi
intelektual yang dibangunnya.
Kedua:
Membangun Sistem, Bukan Mengandalkan Semangat; Target memberikan arah, tetapi kebiasaan
menyediakan kendaraan untuk mencapainya. Semangat menulis sepuluh artikel, misalnya, tidak akan berarti apabila
tidak tersedia kebiasaan membaca dan menulis secara teratur. Karena itu,
pekerjaan besar perlu dipecah menjadi tindakan sederhana: membaca beberapa
halaman setiap hari, mencatat satu gagasan, memeriksa sebuah sumber, atau
menyelesaikan satu paragraf.
Kebiasaan kecil
yang dilakukan terus-menerus dapat menghasilkan perubahan besar. Prinsip
tersebut penting pula bagi Literasi Digital elitkita.
Masyarakat tidak cukup hanya mampu menggunakan perangkat digital. Mereka perlu
membiasakan diri memeriksa sumber, membandingkan informasi, mengenali
manipulasi, menjaga etika komunikasi, dan tidak tergesa-gesa membagikan
informasi yang belum terverifikasi. Literasi akhirnya menjadi perilaku, bukan slogan.
Ketiga: Mengintegrasikan Belajar dengan Pengabdian; Belajar dan mengabdi bukan dua kegiatan yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya membentuk siklus yang saling menghidupkan. Belajar untuk mengabdi dan mengabdi untuk terus belajar. Pengetahuan dari buku, jurnal, ruang kelas, diskusi, dan media digital semestinya membantu masyarakat menghadapi persoalan nyata.
Sebaliknya,
persoalan yang ditemukan di tengah masyarakat menjadi sumber pertanyaan baru
bagi kegiatan akademik. Dalam konteks elitkita, semangat tersebut berkelindan
dengan KIP. Keterbukaan informasi bukan semata kewajiban
administratif, melainkan bagian dari pendidikan publik. Informasi yang benar,
mudah diakses, jelas, dan dapat dipertanggungjawabkan membantu masyarakat
berpartisipasi secara lebih bermakna. Dengan demikian, literasi berubah menjadi
pengabdian, sedangkan pengabdian melahirkan kebutuhan belajar yang baru.
Keempat: Menjaga Irama agar Pengabdian Berkelanjutan; Konsistensi bukan berarti bekerja tanpa henti. Belajar dan mengabdi merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan kemampuan mengelola energi. Semangat yang terlalu besar tanpa pengaturan ritme dapat berakhir pada kelelahan. Karena itu, evaluasi berkala menjadi penting: apa yang telah berhasil, apa yang belum tercapai, dan bagian mana yang perlu diperbaiki? Istirahat pun bukan lawan produktivitas, tetapi salah satu syarat keberlanjutannya.
Prinsip ini relevan bagi pengelolaan media. KTI,
Literasi Digital, dan KIP membutuhkan ketekunan sekaligus
kesinambungan. Lebih baik menghasilkan langkah sederhana yang terpelihara
daripada program besar yang hanya sesaat. Konsistensi pada akhirnya mengubah
kegiatan menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi karakter, dan karakter menjadi
budaya organisasi.
Simpulan
Hakikatnya, semangat memang dapat membuka pintu, tetapi kebiasaanlah yang membuat kita terus berjalan melewatinya. Bagi elitkita, KTI, Literasi Digital, dan KIP hendaknya tidak berhenti sebagai daftar program, tetapi bertumbuh menjadi budaya belajar dan mengabdi.
KTI membiasakan ketelitian berpikir; literasi digital membangun kecerdasan sekaligus etika bermedia; sedangkan KIP menumbuhkan keterbukaan dan tanggung jawab kepada publik. Ketiganya bertemu pada satu kata kunci: konsistensi.
Ketika belajar telah
menjadi kebiasaan dan pengabdian telah menjadi kesadaran, kita tidak lagi
bekerja karena sedang bersemangat. Kita terus berkarya karena kebaikan telah
menjadi bagian dari karakter. Dari situlah pengabdian memperoleh daya hidupnya.
Wallahju A’lam
Editor / Desain A'Hendra S. Sos. (Pimred).
Penulis:
A. Rusdiana, Guru besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Lulusan S-3 Pascasarjana UNINUS Tahun 2012. Peraih Nominasi Penulis Opini terproduktitf di Koran Harian Umum Kabar Priangan (15/5/2025). Pangkat Penjelajah Penulis di Kompasiana sejak 22 Januari 2025. Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat; Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung dan Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.